
sesampainya alvero dan Reva dihotel, Para staf dan resepsionis sudah ada di ruang tunggu yang menunggu Reva kembali.
para resepsionis pun menghampiri Reva yang sudah dilihat mereka dari jarak jauh.
"itu dia". ucap salah satu resepsionis.
Reva yang tampak terkejut melihat para staf dan pelayan hotel itu sedang mendekati kearahnya, Reva pun tampak bingung dengan mereka yang semakin mendekat.
"ada apa ini?". ucap Reva yang heran.
"apa kamu Reva anak seorang mafia?". cetus salah satu pelayan hotel.
Reva yang bingung harus menjawab dan menjelaskan kepada para staf dan resepsionis yang sudah memasang wajah aneh kepadanya.
"kenapa kalian bertanya tentang aku anak siapa?, apakah itu penting?". Reva yang kembali bersikap angkuh.
"sangat penting, karena kamu dan para mafia yang tadi datang kesini dan sudah merusak kenyaman hotel kami dan para tamu disini". cetus resepsionis.
"jadi apa mau kalian?". cetusnya
"kami minta kamu dan mamah kamu cepat keluar dari hotel ini, karena kami tak ingin ada para mafia yang mengintimidasi kami lagi?".
Reva pun yang tak banyak berbicara berjalan tanpa menatap para staf dan pelayan hotel, karena ia tahu akan percuma saja berdebat dengan para staf dan pelayan karena itu akan membuat mereka berfikir hnya sebuah alasan .
"apakah ini tindakan kalian kepada tamu?". ucap alvero yang kesal dengan para staf.
"ini hal terbaik untuk para tamu kami tuan". ucap salah satu staf.
"ahhh, kalian lah yang membuat para tamu tidak nyaman karena belum tentu kalian bertindak seperti ini akan membuat mereka berfikir kalau kalian pantas untuk bekerja untuk menjaga privasi tamu". cetus alvero
"apa maksud tuan".
"tugas kalian seharusnya menjaga privasi tamu disini, dan kenyaman tamu bukan.. begitu juga dengan Reva ia juga tamu yang harus kalian jaga bukan mengusirnya karena hal kesalahan yang bukan diperbuatnya".
"tapi karena dialah para tamu jadi tidak nyaman,, lagian siapa anda yang ikut campur urusannya". cetus pelayan.
alvero yang merasa bukan siapa siapa setelah mendengar ucapan sang pelayan, pergi meninggalkan mereka dan menyusul Reva kekamarnya.
######
Rayyan dan zeze baru saja sampai dirumah sudah di sambut oleh Bibi Ranti yang sudah menunggunya di tepi danau.
__ADS_1
Zeze yang melihat sang ibu mendekatinya didanau.
"ibu sedang apa disini?". tanya zeze yang berjalan menghampiri sang ibu.
"tidak ada hanya memandang air danau saja". ucap sang ibu yang menatap Zeze dan sang tuan yang masih menemani zeze.
zeze yang mengerti sang ibu pun, menyuruh tuannya untuk masuk kerumah duluan, agar ia bisa berbincang kepada ibunya.
"tuan, anda masuklah dahulu". pinta zeze yang berbisik kepada tuannya.
rayyan yang mengerti langsung berjalan masuk dan meninggalkan zeze dengan sang ibu.
"apakah ibu sudah makan siang?". tanya zeze yang lembut sambil merangkul sang ibu.
"sudah". cetus sang ibu.
zeze yang merasa heran dengan sang ibu yang tak biasa, karena sikap sang ibu sangatlah aneh baginya.
"apakah ibu sakit?". tanya zeze sambil ingin memegang dahi sang ibu.
namun sang ibu langsung menghentikan tangan Zeze yang ingin menyentuhnya, dengan menatap Zeze sedikit tajam.
"ibu tidak sakit, apa yang kamu bawa itu?". sang ibu yang menatap sebuah bingkisan yang ada di tangan Zeze.
sang ibu yang mulai curiga dengannya ingin merampas bingkisan tersebut, namun zeze dengan sigap mengucapkan.
"ini barang tuan Bu, tadi dia mengajakku untuk berbelanja kaperluan kantornya?". ucap zeze yang sedikit ambigu karena gugupnya.
"benarkah??". ucap sang ibu yang tidak percaya ucapan putrinya.
"iyahh Bu, kita masuk yuk Bu mataharinya semakin terik dan panas". ajakan zeze kepada sang ibu.
sang ibu pun melangkahkan kakinya untuk masuk kerumah, begitu jug dengan zeze yang menyusul sang ibu dari belakang.
"kenapa ibu hri ini sedikit aneh yahh?". gumam zeze yang sedikit takut dengan ibunya.
selangkah demi selangkah mereka pun sampai dikamar zeze. sang ibu yang khawatir dengan hubungan putrinya dengan sang tuan pun langsung terbuka dengan zeze.
"ze, apakah ibu boleh bertanya?". ucapnya yang duduk di kasur zeze.
"boleh Bu, silahkan tanya apa saja yang ingin ibu tanyakan?". ucapnya yang lembut dan menyimpan bingkisan tersebut.
__ADS_1
"kenapa bingkisannya kamu simpan dilemarimu?". tanya sang ibu yang memperhatikan zeze.
"ahh Iyah Bu, nanti akan aku antar ke tuan". ucapnya.
"apakah kalian ada hubungan sesuatu?". tanya sang ibu yang tiba tiba.
zeze terkejut dan membulatkan matanya ketika sang ibu yang bertanya tentang hubungannya dengan sang tuan muda.
"ke kenapa ibu bertanya soal itu, Iyah jelas dong aku ada hubungan dengannya kan aku pelayan dirumah ini?". cetus zeze yang tidak gugup seketika.
"benarkah?, kamu tidak berbohong kepada ibu... hanya sekedar tuan dan pelayan saja?".
"iyahh Bu, emang ada apa ibu bertanya seperti itu?". tanya zeze sambil mendekati sang ibu dan duduk disebelahnya.
"ibu takut, sangat takut jika kamu dengan Rayyan bukan hanya sekedar pelayan dan tuannya". ucap sang ibu yang mulai sedih.
zeze seketika mulai panik dan juga khawatir jika sang ibu akan tahu hubungannya suatu saat.
"aku tidak ada hubungan dengannya ibu, jika Iyah pun apa yang ibu takutkan?". tanya zeze.
"ibu takut jika kamu melupakan kewajibanmu untuk mengabdi dengan tuan besar dan nyonya dara yang sudah menolong kita sayang, jadi ibu mohon kepadamu jika emang ada perasaanmu dengannya jauhkan dan buang perasaan itu??". ucapnya yang memohon kepada sang putri.
zeze pun langsung memeluk sang ibu dan memenangi ibunya. zeze yang merasa sudah membohongi sang ibu menundukan kepalanya.
"maafin zeze Bu, zeze gak bermaksud membohongi ibu". batinnya yang memendam kesedihan.
sang ibu pun melepaskan pelukannya dan masih tidak percaya yang diucapkan.
" ibu tau kamu sudah bohongi ibu, tapi ibu ingin kamu berkata jujur kepada ibu??". ucap sang ibu yang masih berharap sang putri berkata jujur.
zeze pun bingung harus menjelaskan kepada sang ibu yang mengkhawatirkan dirinya.
"Bu... aku tidak tahu harus berkata apa, tapiii zeze juga berharap ibu tidak melarang zeze dekat dengannya". zeze yang mulai sedih dan matanya yang berkaca kaca.
sang ibu yang melihat putrinya begitu menyukai sang tuan, ia tak mengatakan apapun ia berdiri dari duduknya dan menatap Zeze sebentar lalu meninggalkan zeze dikamarnya sendiri.
zeze yang melihat sang ibu pergi dengan perasaan hancur, sedih, khawatir dan marah pun membuat zeze sedih dan menangis sejadi jadinya.
"maaf Bu... maaafinn zeze". zeze yang menutup wajahnya karena kesedihannya.
zeze pun terus menangisi sang ibu karena kesalahannya, hingga membuat zeze lemas dan tak berdaya. ia pun membaringkan tubuhnya di atas kasur dan menyelimuti tubuhnya .
__ADS_1
Bersambung....