
"baiklah,". ucap zeze pergi meninggalkan rayyan.
rayyan pun mencari cari sang bibi namun tidak melihatnya sama sekali, ia pun keluar dan menemui alvero untuk bertanya kepadanya.
"apakah kau melihat bibi Ranti". tanya rayyan sambil menepuk bahu alvero yang sedang memantau mafia di pohon tepi danau.
"tidak tuan.." jawab alvero sambil membalikkan badannya.
"kemana bibi Ranti pergi". tanya rayyan yang melihat lihat sekeliling halaman tepi danau.
"apakah sudah dicek semua ruangan". tanya alvero yang melihat lihat sekeliling juga.
"sudah tapi tidak ketemu". jawab rayyan.
"sudahlah kamu lanjutkan saja, jika pengawal diluar terancam bahaya kamu keluarlah bantu mereka ". ucap rayyan
"baikk tuan". sahut alvero.
rayyan pun pergi mencari cari di setiap sudut halaman depan namun tidak ketemu juga sang bibi, hingga ada seseorang yang datang mendekati rayyan dari belakang .
"apa yang kau cari tuan muda?". ucapnya dengan nada yang seperti mengejek.
rayyan yang mendengarnya pun membalikkan badannya dan menatap orang tersebut. rayyan pun menatap dan membulatkan matanya karena ia terkejut bahwa seseorang yang datang itu adalah Jendry .
iya Jendry dosen pengganti saat di kota tebing tinggi di universitas kedokteran zeze. dan membuat ia sangat terkejut lagi Jendry yang sedang menyandera bibi Ranti di depannya,Dengan tangan Jendry yang memegang dan menekuk tangan sang bibi Ranti kebelakang.
"apa yang kau lakukan disini". tanya rayyan yang masih bersikap tenang.
"ahh aku hanya ingin bermain main saja". ucapnya yang santai.
rayyan pun berfikir bahwa Jendry juga adalah salah satu anak buah mafia atau anak salah satu mafia yang mungkin musuh dari Barat.
"kenapa kau tahu tempat tinggalku?". tanya rayyan sambil memperhatikan sang bibi yang sudah ketakutan.
"ahh aku hanya sedikit mencari tahu tentangmu ". ucapnya
rayyan yang tak mempercayai ucapan Jendry hanya bisa memperhatikan gerak gerik Jendry karena rayyan yang khawatir dengan sang bibi yang sudah ketakutan itu.
"kalau begitu lepaskan bibiku". ucap rayyan yang ikut santai.
"apakah dia benar bibirmu?". tanyanya sambil memainkan tatapannya.
"dia hanya pelayan dirumahmu, tidak ada hubungannya denganku atau masalahmu". ucap rayyan.
"baiklah, jika dia tidak ada hubungan denganmu mengapa kau begitu tegang melihatku memegangnya seperti ini". ucapnya yang santai tiba tiba menghentakkan pegangan tangan sang bibi dengan kuat.
__ADS_1
rayyan yang melihatnya pun sontak bergerak, namun ia masih menahan dirinya agar sang bibi tidak terlalu ketakutan melihat tuan mudanya yang turun tangan.
rayyan yang masih memperhatikan sang bibi dari jarak sekitar 4 meter itu, melihat zeze yang sudah standbye dibelakang Jendry untuk memukulnya.
rayyan pun berlagak tidak melihatnya, dan menatap Jendry dengan tatap tajam.
"kau hanya menyia nyiakan waktumu untuk memegangnya saja, karena dia bukanlah urusanku". ucap rayyan yang memancing Jendry agar melepas sang bibi.
"benarkah?". ucap Jendry yang langsung memastikan ucapan rayyan dan terus menggenggam tangan sang bibi dengan sangat kuat hingga bibi Ranti pun kesakitan.
"aaahhhhh tuu tuuaannn". teriak sang bibi memanggil tuan mudanya.
zeze yang melihat sang ibu merasa kesakitan pun tak tahan melihatnya, dan langsung melayangkan tendangannya di kepala Jendry.
Jendry pun sontak melepaskan genggamannya dan sang bibi yang terlepas pergi menjauh dari Jendry.
Jendry yang hampir terjatuh pun melihat siapa yang sudah menendangnya itu, Jendry yang menatap Zeze hanya tertawa jahat.
"hahaha ternyata kau, ". ucapnya Jendry yang tertawa kecil sambil memegang kepalanya yang sakit.
"kenapa kau datang kesini,". tanya zeze yang sedang menatap tajam Jendry .
"aku datang kesini hanya mencari mu". ucap Jendry sambil berjalan mendekati zeze.
"jika kau mendekatinya kau akan menyesali nantinya". cetus rayyan yang menghentikan Jendry.
"ahh.. apa dia ada hubungannya denganmu" ucap Jendry yang menatap tajam dan jahat.
"pergilah dari sini". cetus rayyan yang mulai kesal dengannya.
"aku akan pergi jika aku bisa membawanya". ucap Jendry dan menatap Zeze yang berada dibelakang rayyan.
rayyan semakin menatap tajam Jendry dengan amarahnya. namun rayyan tak ingin membuat sang bibi yang sedang disudut pohon melihatnya berkelahi rayyanpun masih menahan amarahnya.
"pergilah selagi kau masih bisa menggunakan kakimu untuk melangkah". cetus rayyan.
zeze yang berada di belakang tuannya, diberi kode oleh sang tuan untuk membawa sang ibu masuk kedalam rumahnya, ia pun berjalan mendekati sang ibu yang sedang ketakutan.
"Bu ayo kita masuk kedalam". ajak zeze pada sang ibu.
sang ibu pun mengerti dan pergi bersama zeze untuk masuk kedalam rumah.
"ibu tetaplah disini, dan jangan keluar kemana pun walau mendengar sesuatu nantinya, kecuali aku tuan muda atau alvero yang menjemput ibu nanti yah". ucap zeze dengan lembut kepada sang ibu.
bibi Ranti pun menganggukan kepalanya dan memeluk zeze untuk tetap tenang, dan memberikan semangat kepada putrinya untuk membantu tuan muda.
__ADS_1
zeze pun melepaskan pelukan sang ibu dan meninggalkan sang ibu, untuk pergi keluar dari kamar kecil yang ada di di gudang persembunyian sang ibu.
zeze pun menutup rapat rapat pintu dan menguncinya dari luar setiap pintu kama, ia lngsung menghampiri sang tuan yang sedang beradu debat dengan Jendry.
dan tiba tiba ia melihat Jendry yang sedang melayangkan pukulan ke wajah rayyan. dan begitu juga rayyan yang tidak tinggal diam lagi membalas pukulan demi pukulan ke Jendry hingga Jendry terjatuh jauh dari hadapan rayyan.
zeze pun langsung mendekati sang tuan dengan cepat.
"apa tuan baik baik saja". tanya zeze yang khawatir.
"saya tidak apa apa, kenapa kamu kembali kesini". tanya rayyan yang khawatir.
saat mereka yang sedang berbicara, zeze melihat Jendry yang ingin memukul rayyan pun langsung menolehkan sang tuan, kaki zeze pun langsung mendendangkan wajah Jendry untuk kedua kalinya.
Jendry pun jatuh tersungkur dihadapan zeze. namun Jendry tidak merasa kesakitan justru tertawa lepas karena ia yang tak menduga bahwa zeze bisa melakukan itu kepadanya.
"haaa masih bisa kau tertawa ternyata". cetus zeze .
Jendry pun bangun dan menatap tajam zeze,
"apa hanya segini saja kemampuan kalian berdua". cetus Jendry yang menantang zeze dan rayyan.
saat mereka yang sedang adu mulut, alvero tiba tiba saja datang dan membawa para mafia mafia yang sudah menyerang para pelayan rumah.
"apakah mereka anak buahmu". ucap alvero yang sedang berjalan dan membawa beberapa para mafia.
Jendry pun menoleh dan melihat para mafianya yang sudah kalah oleh alvero.
"ahhh ternyata mereka sudah bersamamu". ucap Jendry yang menatap alvero.
"berlututlah". teriak alvero kepada para mafia tersebut.
dan pra mafia pun menuruti perkataan alvero.
"dan kau apakah masih bisa bersenang senang disini seorang diri". cetus alvero kepada Jendry.
"ehmm sepertinya aku tidak bisa bersenang senang tanpa mereka". ucap Jendry yang santai.
rayyan yang melihat dan mendengar ucapan Jendry yang begitu santai pun memberikan kode kepada alvero agar lebih berhati hati, karena mungkin saja Jendry ada maksud lain atau serangan lain yang mungkin lebih berbahaya bagi keselamatan mereka.
alvero pun mengerti, dan mulai berjaga jaga.
"kalau begitu apa yang kau inginkan sekarang". ucap rayyan yang ada dibelakang Jendry.
Jendry pun menoleh kearah rayyan dan zeze.
__ADS_1