
"seperti yang saya harapkan, anda merawatnya dengan baik". ucap Rayyan seraya menoleh melihat wanita tersebut.
"ahhh, apakah tuan Zie bisa memberikan saya hadiah yang pantas untuk itu". ucap wanita dengan lembut dan tajam.
"jika itu membuat anda lebih baik, oke. saya bisa memberikannya". ucap Rayyan.
"baiklah, seperti yang saya harapkan. Boleh kita berbicara Hanya berdua saja". ucapnya.
"baik, Vero keluar lah sebentar". ucap Rayyan.
"kalian semua keluar lah". perintah wanita itu dengan semua penjaganya.
semua orang yang berada dalam ruanganpun bergegas keluar termaksud alvero. setelah keluarnya alvero, ia pun semaki bertanya tanya apa sebenarnya hubungan sang tuan muda dengan wanita itu.
"apakah kita harus berbicara di ruangan ini". ucap wanita tersebut.
"kenapa, apa ruangan ini penyadap suara". cetus Rayyan.
"ahh.. tidak, tapi apa baik kita bicara ada pelayan tua ini".
"apa dia bisa mendengar, seperti yang di lihat dia tidur dengan nyenyak". ucap rayyan. sambil menatap bibi Ranti.
"ahh baiklah". jawab wanita tersebut.
disaat mereka mulai berbicara, disisi lain zeze yang berada dirumah pun mulai mencemaskan Rayyan dan alvero yang belum ada kabar sama sekali, membuat ia semakin khawatir dengan keadaan sang ibu yang belum saja kembali.
"kringgggggg kringgg" (dering telpon rumah)
"ahh".zeze yang terkejut, langsung berlari menuju telpon karena semangatnya yang berharap itu kabar baik.
"hallo". sapa zeze.
"hallo, ze ini aku alvero". jawab alvero.
"ya ver, apakah sudah ketemu ibu". tanya zeze yang tanpa bertele.
"sudah, bibi Ranti baik baik saja. kamu tenanglah tuan muda sedang menemui wanita itu". ucap alvero yang ingin menenangkan zeze.
"syukurlah kalau ibu baik baik saja, apa tuan masih bersamanya, ah maksudku dengan wanita tadi yang menelponku".
"iyahh". jawab alvero yang berada di luar ruangan kamar bibi Ranti.
"apa yang ingin tuan bicarakan padanya, apakah ibu bisa kembali bersama kalian nanti". ucap zeze yang sedikit khawatir.
"tenanglah apapun keadaannya, bibi akan pulang bersama kami nanti". ucap alvero.
"hmmm baiklah, aku harap kalian baik baik saja Disana ". ucap zeze.
"iyahh, baiklah aku akan menutup telponnya". ucap alvero.
__ADS_1
"hmmm". zeze yang menganggukkan kepalanya karena legah.
"tuutt tutttt". (suara telpon terputus)
"syukurlah ibu baik baik saja Disana, hmmm. apa yang tuan bicarakan dengan wanita itu, apa tuan mengenalnya". gumam zeze yang penasaran.
zeze pun berjalan ke kamarnya karena kekhawatirannya membuat ia sangat lelah hari itu juga.
Rayyan yang masih penasaran dengan kondisi bibi Ranti, menatapnya tanpa berkedip.
"apakah bibi Ranti benar istirahat atau ada hal lain yang membuat bibi Ranti seperti tertidur pulas." batinnya.
"sudah berapa lama pelayan ini tertidur". tanya Rayyan yang masih saja menatap bibi Ranti.
"hemm kenapa tiba tiba saja tuan Zie menanyakannya". ucap wanita itu dengan curiga.
"ah tidak ada, hanya saja saya takut dia akan mendengar pembicaraan kita nanti". ucapnya dengan santai.
"tenang saja, dia tidak akan mendengar kita saat dia tertidur pulas". ucapnya.
"ahh,, seperti dugaanku bibi Ranti pasti sudah diberikan obatan atau suntikan bius untuk tidak sadarkan diri". batin Rayyan yang mulai mengalihkan pandangannya.
"baguslah kalau begitu, katakan apa yang ingin anda pinta". ucap Rayyan dengan tajam.
"baiklah, aku tidak akan bertele lagi kalau tuan Zie sudah memberikan pertanyaan ini". ucap wanita itu dengan merayu.
"katakan". cetus Rayyan.
"apa maksud anda?". tanya Rayyan yang tak mengerti.
"apa aku harus memperjelas nya kembali". cetus wanita tersebut dengan Tatapan rayuan.
"berbicaralah dengan baik, saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan". cetus Rayyan sambil berjalan perlahan menuju jendela kamar.
"ahh... baiklah, Aku hanya ingin Kau kembali kepadaku seperti awal kau mengenalku, apa itu belum cukup jelas, tuan muda Zie". ucapnya.
"hemmm, apa itu mudah bagimu menurutmu". ucap Rayyan yang menoleh menatap wanita tersebut.
"aku rasa itu tidak akan mudah bagimu, tapi bagiku akan mudah jika Kau ingin mencobanya".
"apa kau sudah gila". cetus Rayyan.
"ahhh hahhha tidak tidak, aku rasa aku bukan gila hanya karena mu, aku hanya meminta hadiah ku saja ". cetusnya.
"apa ini yang anda sebut meminta hadiah". ucap Rayyan.
"iyahh". jawab wanita itu.
"oke, baiklah. sudah cukup bercandanya Nona Deana Era, Saya tidak akan memberikan hal yang bagus untuk anda begitu saja. Jadi pintalah hal yang mudah kuberikan padamu saja". ucap Rayyan.
__ADS_1
"hahahaha, akhirnya kau memanggil namaku dengan baik tuan muda zie. sepertinya aku merasa terhormat untuk itu".
"baiklah, kita akan membicarakan hadiahmu lain kali, saya merasa sudah lelah untuk hari ini". ucap Rayyan.
"lelah...." suara lembut Deana.
"baiklah, kalau begitu tuan muda". ucap Deana.
"apa saya bisa membawa pelayan ku sekarang". tanya Rayyan dengan intens.
"apa pelayan tua ini sangat penting buat tuan muda Zie, sampai sampai harus membawanya kembali". ucap Deana yang serius.
"ehmm, dia sangat penting bagiku". ucap Rayyan.
"tapi maaf tuan muda Zie, dia akan tetap disini bersamaku dengan waktu yang cukup lama". ucap Deana yang sinis.
"apa maksud kamu". Rayyan yang terkejut dan menatap tajam Deana.
"aku rasa tuan muda Zie tidak begitu polos, seakan tidak mengerti apa yang baru saja saya katakan". ucapnya.
"Nona Deana, saya tidak punya banyak waktu untuk berdebat denganmu kali ini. Karena Pelayan ini harus kembali besok ke kotanya". ucap Rayyan.
"ahh, apakah ini permohonan tuan muda Zie yang baru aku dengar sepanjang masa ku kenal". Deana yang sedikit terkejut.
"anggaplah seperti itu, tapi dia harus kembali besok". ucap Rayyan sambil menatap bibi Ranti.
"kalau begitu, aku semakin tidak ingin melepasnya". ucap Deana yang mulai mendekati bibi Ranti.
"apa". Rayyan terkejut.
"seperti yang sudah kamu dengar tuan muda Zie, hari ini anda kembali tanpa pelayan tua ini". ucapnya dengan sinis.
"apa sebenarnya yang kamu inginkan Deana". tanya Rayyan yang tegas.
"seperti yang kukatakan, kembali seperti dulu ". cetus Deana.
"sebagai Teman". cetus Rayyan.
"lebih dari itu". pinta Deana.
"Deana, apa kau sudah gila. jangan berbicara yang sangat mustahil". ucap Rayyan .
"mustahil". cetus Deana.
"apa yang membuatmu semakin jauh dariku Rayyan". cetus Deana yang tidak terkendali.
"baiklah, besok aku akan kembali kesini untu memastikan orangku akan ku bawa kembali". ucap Rayyan yang lelah berdebat dengan Deana.
"kembalilah besok, jika dia masih bernafas". ucap Deana .
__ADS_1
"berpikirlah sebelum kau bertindak, aku Rasa kau tidak akan berani membayangkan apa yang akan terjadi besok". ucap Rayyan sambil berjalan membuka pintu dan pergi begitu saja.