
Rayyan yang duduk di sofa ruang tamu melihat bibi Ranti yang baru saja keluar dari kamar zeze, ia pun seperti melihat bibi Ranti yang sedang memendam amarah tersebut membuat rayyan khawatir dengan zeze.
ia langsung berjalan dan menghampiri zeze dikamarnya,
"toookk tokkkk tookkk". suara ketukan pintu dari luar kamar zeze.
namun zeze tak menjawab suara ketukan itu, rayyan yang semakin cemas ia pun langsung membuka pintu kamarnya dan benar saja dengan dugaannya zeze yang sudah menangis terseduh seduh.
"kamu kenapa??". tanya sang tuan yang membantunya bangun dari kasur..
zeze yang masih menangis tak menjawab pertanyaan tuannya, dan ia segera memeluk sang tuan dengan erat.
"apakah ada masalah?". tanya rayyan dan membalas pelukan zeze dengan mengelus rambutnya.
"ibu sepertinya tahu tentangan hubungan kita, dan ia sepertinya tidak suka ". ucap zeze yang terseduh seduh.
"kenapa... apa alasannya?". tanya rayyan yang penasaran.
"aku tidak menanyakannya dengan jelas, yang pastinya ia melarangku berdekatan dengan tuan karena ia takut aku lepas tanggung jawabku sebagai pelayan dirumah ini". ucapnya menjelaskan kemarahan sang ibu.
"yasudah tenangkan dirimu dulu, jangan menangis lagi". ucapnya sambil memegang wajah zeze dan menghapuskan air mata zeze.
zeze pun mulai menenangkan dirinya, dan mencoba tidak bersedih lagi didepan sang tuan.
"aku harus bagaimana lagi?". ucap zeze yang lembut dengan mata yang berkaca kaca.
"kita pikirkan itu nanti, dan aku akan mencoba menjelaskan ke ibumu secepatnya.. untuk saat ini biarkan saja dulu mungkin bibi Ranti masih berfikir tidak jernih". ucap rayyan.
zeze pun menganggukan kepalanya karena ia percaya kepada sang tuan akan menyelesaikan masalah hubungannya dengan sang ibu.
rayyan pun kembali memeluk zeze untuk memberinya kenyamanan dan ketenangan. zeze pun merasakan itu semua dari sang tuan.
"baiklah, kamu mungkin lelah istirahatlah dulu". ucap sang tuan dan membantu zeze untuk tidur.
"apakah kamu yakin akan membuat ibu tenang?". tanya zeze kembali.
"aku akan mencobanya dan berusaha untuk ibumu agar mengertii". ucap rayyan.
"baiklah".
"yasudah tidurlah". pinta sang tuan dan kembali mengelus rambut zeze untuk tidur.
######
Bibi Ranti yang sedang sedih kembali ke tepi danau, ia duduk dan bersedih yang memikirkan masa depan zeze nantinya.
"bagaimana ini... apa yang salah dariku .. kenapa jadi seperti ini?". ucap sedih sang ibu.
alvero yang baru kembali dari hotel reva tak sengaja melihat sang bibi menangis di tepi danau pun menghampirinya.
__ADS_1
"ada apa bi... kenapa bibi bersedih?". tanya alvero yang duduk disampingnya.
Bibi Ranti pun bergegas menghapus air matanya.
"bibi tidak apa apa tuan?, tuan dari mana?". tanya sang bibi yang mengalihkan pertanyaan alvero.
"tidak ada hanya berjalan jalan saja bi, bibi kenapa bersedih?". tanya kembali alvero yang penasaran.
"tidak ada tuan, hanya masalah sekolah zeze saja". ujarnya yang bohong.
"apakah ada masalah dengan itu?".
"tidakk tuan, hanya saya takut zeze akan terlalu banyak meninggalkan pelajarannya". ucapnya yang sendu.
"bibi tenang saja, ini zaman teknologi bi... bibi bisa mengajukan ke dosennya untuk belajar lewat video saja". ucapnya.
"benarkah tuan, apa zaman sekarang secanggih itu untuk pendidikan pun?". tanyanya yang mulai tersenyum kecil.
"iyahh bi... gausah bibi memikirkannya lagi zeze juga pasti sudah melakukannya terlebih dahulu untuk kebaikannya dan bibi juga".
"ehhmmm saya harap seperti tuan katakan". ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
alvero yang melihat sang bibi yang masih bersedih pun memeluk dan merangkulnya agar sang bibi tenang dan tak bersedih lagi.
Rayyan yang sudah melihat zeze sudah tertidur ia segera keluar dari kamar zeze dan pergi untuk menghampiri sang bibi.
namun saat ia ingin mencarinya ia melihat sang bibi yang sudah tenang bersama alvero pun tak jadi menghampirinya. Karena Rayyan takut jika ia muncul dihadapan sang bibi yang sudah tenang akan kembali bersedih lagi.
tidak lama kemudian Ny. dara dan Tuan Kazam pun kembali dari rumah sakit. alvero sang bibi yang melihatnya menghampiri nyonya dan tuan besar mereka untuk memyambut kepulangan mereka.
"selamat siang tuan" ucap alvero dan sang bibi yang menghampiri sang tuan besar.
alvero bergegas menutup pintu mobi, dan begitu juga bibi Ranti yang membantu membawakan barang Nyonya dara.
"makasih bi". ucap sang nyonya yang memberikan barang yang dibawanya.
Ny. dara dan Mr. Kazam Zie pun pergi masuk kedalam rumah begitu juga dengan alvero dan sang bibi yang menyusul mereka dari belakang.
Setelah Ny. dara dan tuan Kazam masuk kerumah, Ny. dara melihat sekeliling ruangan mencari sang putra namun tidak ada di ruangan yang ia lihat.
"tuan muda kemana?". tanya sang nyonya.
"mungkin sedang ada dikamarnya nyonya?". ucap alvero.
"ahhh" Ny. dara pun menganggukan kepalanya.
Ny. dara dan Mr. Kazam Zie pun pergi kekamar mereka untu beristirahat, karena mereka yang kelelahan dalam perjalanan yang lumayan jauh yaitu diluar kota.
Ny. dara yang mengantarkan sang suami kekamarnya dan membantunya untuk berbaring di kasur pun lalu pergi meninggalkan sang suami.
__ADS_1
"kamu mau kemana?". tanya sang suami.
"aku akan menemui rayyan dikamarnya?". ucap sang istri dengan lembut.
"ehmm pergilah". ucap tuan Kazam yang kelelahan.
Ny. dara pun pergi menuju kamar rayyan. Tanpa diduganya My. dara melihat sang putra yang sedang ada di balkon kamar sedang memandangi langit.
"mamah fikir kamu istirahat?". ucap Ny. dara yang tiba tiba menyapa.
rayyan yang terkejut menolehkan kepalanya dan menatap sang mamah yang menghampirinya.
"mamah sudah pulang?". ucapnya.
"ehhmm... apa kamu tidak melihat mamah dibawah tadi?". tanya sang mamah sambil melirik arah bawah halaman depan rumah.
"maaf mah, rayyan tidak memperhatikan tadi?". ucapnya.
"benarkah???, apa yang kamu lamuni?". ucap sang mamah yang penasaran.
rayyan yang sedikit bingung dengan perasaannya yang sangat kacau itu ragu harus berkata apa dengan sang mamah.
"mah... apakah rayyan boleh bertanya?".
"silahkan tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan?". ucap sang mamah yang lembut.
"jika suatu saat Rayyan menyukai seorang gadis apakah mamah akan menyukai gadis itu?". ucap rayyan yang sedikit ambigu.
"tergantung siapa gadis itu?". ucap sang mamah.
rayyan yang mendengar ucapan sang mamah seperti itu pun membuatnya untu mengurungkan niatnya kembali untuk bertanya dan terbuka kepada sang mamah.
karena ia memikirkan ucapan sang mamah yang seperti memilih seorang gadis yang mungkin hanya dari sebuah penampilan dan Darimana sang gadis itu berasal.
"kenapa diam sayang?". tanya sang mamah memecahkan lamunan sang putra.
"ahh tidak apa apa mah?". rayyan seraya menggelengkan kepalanya.
sang mamah yang mengerti akan perasaan sang putra yang bingung dan seperti ragu untuk mengatakan sesuatu pun membuatnya tersenyum.
"mamah tidak memilih gadis apapun mau dia dari kalangan bawah atau atas, bagaimana keluarganya dan seperti apa gadis itu bersosial mamah tidak penting itu, namun yang pentingkan adalah perasaan putra mamah bagaimana dia menyukai gadis itu, mencintai gadis itu, dan bagaimana putra mamah bisa mempertahankan hubungannya justru mamah yang khawatir denganmu rayyan ". ucap sang mamah sambil ikut memandangi langit.
rayyan pun sontak terkejut dan membulatkan matanya seraya menatap sang mamah yang begitu jelas ia dengar akan perkataan demi kata yang disebut sang mamah.
"apakah mamah serius?". tanya yang terkejut.
"ehhmmm mamah justru takut kepadamu?". ucap sang mamah lagi.
"apa yang mamah takuti dari putra mamah?".
__ADS_1
"mamah takut kamu tidak bisa mengendalikan emosimu, dan terbawa sikapmu yang menjadi mafia dan tak bisa menjaga gadismu nantinya?". jelas sang mamah lagi.