
"Sekarang pilihlah?" ucap Yuki
Meskipun dihadapan mereka berdiri mahkluk buas yang menjadi mitos dunia, namun sebagian dari mereka masih memegang teguh tekad mereka,
Komandan yang merasa ketakutan dalam hatinya pun masih berdiri tegak, berbeda dengan para prajurit yang mentalnya telah jatuh terduduk hingga tak sanggup memegang senjata mereka kembali,
Ancaman yang dilakukan Yuki terlihat nyata dipikiran sang komandan, bahkan sang kapten berfikir jika Yuki ingin melenyapkan kerajaan S dari peta dunia, itu bukanlah hal yang mustahil.
"Ma-Mari kita berduel, jika aku kalah! aku berjanji pasukan ku tidak akan menghalangi kalian, tapi aku minta jangan menyentuh mereka atau penduduk kota." ucap sang komandan tegas namun masih tercium nada ragu dalam kata katanya,
Shin dan Yuki terdiam, mereka takjub melihat sang komandan, karena memang selama tiga kehidupan yang mereka jalani, komandan dihadapan merekalah yang menjadi pertama,
Seorang yang masih memegang teguh tekadnya meskipun dihadapan kekuatan mutlak, meskipun tak bisa menang dia bisa memanfaatkan duel kematiannya sebagai keselamatan orang lain,
"Sayang sekali kau melayani orang yang salah." ucap Shin menurunkan lengan Yuki yang sedari tadi menghalanginya,
Yuki pun tak mencegah apa yang dilakukan Shin karena memang jalan ini adalah jalan yang tak menimbulkan banyak pertumpahan darah.
Shin pun maju untuk memenuhi permintaan sang komandan, prajurit dibawah kepemimpinan sang kapten pun berteriak tak menyetujui hal tersebut,
Namun sang kapten pun menjelaskan bahwa dirinya lebih berharga untuk ditukarkan dan kematiannya untuk keselamatan orang orang adalah hal yang pantas,
Dari kejadian itu Shin dan Yuki pun bisa melihat berapa terhormatnya komandan yang mereka lawan,
"Anda bisa memilih senjata apapun, saya akan memberi waktu untuk anda menyerang lebih dulu." ucap Shin
'Bocah ini sombong sekali? tapi aku tak merasa terhina atas ucapannya, sedari awal aku melihatnya aku sudah merasa bahwa bocah ini bukan bocah biasanya, entah kenapa selama aku menatap matanya seketika malaikat maut siap kapan saja mencabut nyawaku.' pikir sang komandan
"Huuuffhh~~" sang komandan mengeluarkan nafas panjang, "Aku tidak perlu melakukan hal sia sia." ucap sang komandan,
Bisa dimengerti apa ucapan sang komandan, meskipun dia membawa RPG, kematiannya juga takkan bisa dihindari, seolah sang kapten sudah bersiap untuk mati.
"Baiklah, kalau memang begitu," ucap Shin berdiri dihadapan sang komandan dengan jarak beberapa meter, "Kau bisa mulai menyerang duluan." tambahnya,
Setelah mengatur nafas beberapa kali sang komandan mengarahkan senjatanya kearah Shin, para prajurit yang seolah sudah mengetahui hasilnya pun masih berharap komandan mereka bisa memenangkan duel tersebut.
__ADS_1
"Dorr~~ Dorr~ Dorr~~" Tiga tembakan secara cepat keluar dari ujung pistol, bisa dilihat bahwa sang komandan sangat ahli dalam mengunakan senjata ditangannya,
Dimata telanjang peluru peluru itu bergerak dengan sangat cepat, namun dihadapan Shin, peluru peluru itu bergerak sangat lambat hingga seperti mengambang dan bergerak perlahan di udara,
"Tap Tap Tap~" tiga peluru itu mendarat di sela sela jari Shin membuat para prajurit memanggil sang komandan semakin kencang.
'Apa benar mereka prajurit kerajaan? tingkahnya seperti perempuan!' pikir Shin yang merasa berisik di gendang telinganya mendengar Isak tangis prajurit yang mentalnya telah jatuh.
"Apa kau ingin mencoba kembali?" tanya Shin
"Tidak, ini kekalahan ku," ucap sang komandan menjatuhkan senjata di tangannya keatas tanah,
Sang komandan terhormat pun berlutut di tanah, bersiap menantikan kematian yang akan menghampiri dirinya,
Shin pun berjalan ke depan menuju sang komandan yang berlutut untuk mengakhiri duel tak seimbang tersebut, meskipun Shin enggan membunuhnya namun tidak ada pilihan lain, karena memang duel sudah dilakukan,
Shin yang merasa enggan pun mengangkat tangannya, seketika pedang hitam pun muncul secara ajaib dalam genggamannya,
"Wusshh~~" Shin berfikir untuk menghormati sang komandan dia harus membunuhnya tanpa rasa sakit, Namun Ketika Shin mulai mengayunkan pedangnya sebuah teriakan menghentikan tindakannya,
Meskipun begitu karena kecepatan Shin, ujung bilah pedang masih menggores leher sang komandan sehingga darah pun mengalir dari lehernya,
"Tunggu, Tuan Shin, Saya Sneider Arestian, Saudara Garian Martin, saya mohon ampuni Komandan pasukan istana." ucap Sneider dengan membungkukkan badan untuk memohon pada Shin,
"Shin." Ucap Yuki untuk menghentikan tindakan Shin
Shin yang mendengar kata Yuki segera menjauhkan pedangnya dari leher sang komandan, sekejap mata pedang itu pun hilang kembali seolah seperti sulap Dimata para prajurit,
"Saya Aikasa Yuki, maaf apa paman ini ayah chelsy?" kata Yuki berjalan mendekat kearah tiga orang yang sedang berhadapan,
"Iya - Iya, apa nona Yuki mengenal anak saya?" tanya Sneider
"Sedikit, kami bertemu di kota J dengannya." ucap Yuki
"Maafkan jika putri saya membuat masalah dengan tuan dan nona." ucap Sneider kembali untuk meminta maaf,
__ADS_1
"Anu~ bisa kita bicara ditempat lain?" ucap Sneider kembali
"Maaf! Tapi kami hanya sebentar disini." kata Shin menolak dengan sopan permintaan sneider
Mendengar kata Shin sneider menjadi ragu ragu, namun dia mendekat kearah Shin dan mencoba membisikkan sesuatu padanya,
"Maaf Tuan, ---------------" seperti biasa sneider mengucap maaf sebelum membisikkan pada Shin karena dirinya takut Shin merasa tersinggung,
Shin yang telah mendengar bisikin sneider memasang mimik kecewa di wajahnya, membuat Yuki yang melihat hal tersebut juga merasa penasaran,
"Ada apa?" tanya Yuki pada Shin
"Kita di bicara saja di tempat lain, untuk sekarang kita ikuti saja ayah chelsy." jawab Shin pada yuki
Meskipun Yuki tak mengerti apa yang sedang terjadi dia hanya bisa mengangguk menyetujui saran Shin,
"Baiklah paman, kami akan mengikuti anda." ucap Shin
Sneider pun mengangguk mendengar Shin dan Yuki setuju untuk mengikutinya, Setelah itu sneider pun mengarahkan tangan untuk menunjukkan jalan pada Shin,
Sang komandan pun mengikutinya karena memang sneider menyuruhnya untuk ikut, sedangkan Yuki berjalan di belakang setelah menyuruh kelima familiar ya kembali kedalam banyangkan miliknya,
Mereka berempat pun berjalan memasuki kastil istana, bisa dilihat foto foto di dinding lorong yang menampilkan wajah pendiri kerajaan dapat diketahui bahwa kerajaan S sudah berdiri sejak ribuan tahun lamanya,
Setelah beberapa saat mereka pun sampai disebuah taman bunga di sebelah kastil kerajaan, di sebuah bangunan kecil ditengah taman terlihat seorang perempuan sedang duduk santai sambil menikmati teh di tangannya,
Sneider dan sang komandan pun berlutut memberi hormat ketika jarak mereka saling berhadapan,
"Ratu Isabel, saya sudah membawa Tuan Shin dan Nona Yuki untuk menemui anda." ucap sneider
Sang ratu pun bangkit dari duduknya dan memberi salam ala bangsawan untuk memberi salam pada Shin dan Yuki,
"Senang bertemu anda Tuan Shin dan Nona Yuki, Saya Isabel Rosse Seltaraste, Ratu Kerajaan Seltarash." ucap Isabel dengan nada sopan,
Meskipun Isabel adalah seorang ratu dia merendahkan salamnya karena takut menyingung perasaan Shin, hal itu pun membuat orang yang melihat mengerti bahwa ratu menganggap Shin memiliki derajat lebih tinggi darinya.
__ADS_1
......................