Mr. Posesif

Mr. Posesif
Sensi


__ADS_3

"Apa? Bagaimana bisa"!! teriak Jarel sambil menghempaskan kertas-kertas itu didepan semua karyawannya.


Bagiamana Jarel tidak marah saat perusahaannya sedang dalam masalah.


Data buku keuangan perusahaannya yang tidak sesuai selama beberapa bulan dan dia baru tau sekarang. Padahal pendapatan perusahaan mereka stabil namun sepertinya ada melakukan penggelapan dana yang cukup besar hingga membuatnya rugi besar dan belum lagi dia gagal mendapatkan tender besar.


Jarel berdiri sambil memukul meja rapat dengan keras. Pandangannya menusuk ke arah orang-orang yang ada di ruangan meeting sekarang.


"pasti ada penghianat disini" desis Jarel menatap pada para karyawannya yang menatap takut padanya.


"Keluar sekarang, meeting hari ini selesai," tegas Jarel.


Jarel kembali duduk ditemani Clark yang masih sibuk dengan berkasnya.


"Cari orang itu," Ucap Jarel yang diangguki oleh Clark.


"Kurasa ini ulahnya lagi, dia selalu saja mencari masalah, " gerutu Clark.


"Heum, rupanya dia inigin bermain-main dengaku."


"Argh, padahal aku ingin bersenang-senang dengan Vaela tapi pekerjaan ku benar-benar sangat banyak. Ck," decak Jarel menggeram kesal.


"Itu resikomu sebagai bos,.sudahlah aku ingin pulang, ini sudah waktunya jam kantor pulang dan aku akan mengajak gadisku berkencan ," ucap Clark mengejek Jarel .


"Siapa yang memperbolehkan mu, kau lembur hari ini," tegas Jarel.

__ADS_1


Clark mendengus dia ingin memaki Jarel saat ini. Tapi dia masih membutuhkan pekerjaannya karena gaji di tempat sahabatnya ini lumayan besar.


Gagal sudah rencananya untuk mengajak gadisnya melihat sunset lagi padahal kemarin dia sudah berjanji. Clark harap Vega tidak akan marah padanya.


***


Ditempat lain Vaela terlihat sangat uring-uringan di kamar apartemennya. Hari ini Jarel sama sekali tidak datang ke apartemennya atau bahkan mengirim pesan singkat untuknya, biasanya laki-laki itu tak pernah absen untuk datang dan mengirim pesan padanya.


Vaela bahkan tidak bisa fokus sesekali dia menatap Handphonenya berharap ada notif dari pria yang ditunggu-nya. Rasanya ada yang hilang saat tak mendapatkan ocehan dari Jarel.


"Huft," Vaela menghembuskan napasnya kasar.


Vaela berdiri dan memegang handphonenya. Apa dia saja yang menghubungi pria itu. Vaela sedikit khawatir tak biasanya Jarel seperti ini dia selalu menghubungi Vaela bahkan saat hal-hal kecil terjadi pada Jarel.


Pernah sekali Jarel menelponnya dengan suara yang panik membuat Vaela bergegas ke mansion pria itu dan ternyata Jarel hanya kehilangan satu kaos kakinya yang ternyata ada dibawah tempat tidur pria itu sendiri.


Vaela mendecak kesal saat telponnya tak dijawab oleh Jarel. Sampai ke panggilan ke 5 juga tidak diangkat-nya.


"Apa aku ada salah padanya,"


Vaela menggeleng seharusnya dia senang bukan jika Jarel sudah tak mengganggunya lagi tapi sebagian hati Vaela tidak rela jika benar Jarel akan melepaskannya nanti.


Vaela menyentuh perutnya dan mengelusnya pelan. Bagaimana jika dia akan hamil dan bagaimana jika anaknya lahir tanpa seorang ayah. Apa Jarel termasuk pria brengsek dia berjanji akan menikahi Vaela tapi lihatlah sampai sekarang bahkan Jarel tak mengikat nya dalam ikatan pernikahan.


"Cih, dia pasti hanya ingin enaknya saja . Bodoh kau Vaela bodoh kenapa kau harus mempercayai perkataannya."

__ADS_1


Vaela kembali mengelus perutnya. Jika nanti Jarel benar-benar tak akan bertanggung jawab maka dia yang akan membesarkan anaknya nanti. Vaela kemungkinan besar akan hamil karena saat Jarel melakukannya Vaela sedang di masa suburnya.


Akhirnya Vaela menghubungi Vega untuk menemani dirinya ke mall daripada pusing memikirkan Jarel. Vaela membutuhkan refreshing untuk menyegarkan pikirannya kembali.


Vaela menuju rumah Vega dan terlihat gadis itu bahkan belum bersiap-siap sama sekali. Vega malah asik menonton sambil memakan cemilan nya. Vaela kesal pasalnya dia sudah mengabari Vega sedari tadi.


"CK kenapa belum bersiap," marah Vaela.


"Kenapa kau semarah itu," bingung Vega. Pasalnya sudah biasa dia akan bersiap saat Vaela datang kerumahnya .


"CK, sudahlah kau sama saja dengan Jarel membuatku kesal saja," sungut Vaela.


Vega mengedikkan bahunya acuh." Tunggu sebentar aku hanya akan ganti baju,"ucap Vega.


"Jangan lama," sinis Vaela.


"Kau sedang pms ya, dari tadi sensi Mulu,"


"Bukan urusanmu, cepatlah aku sudah lapar kita makan dulu baru ke mall," ucap Vaela yang tak mau dibantah.


"Yayayaa, dasar harimau betina," ejek Vega dan langsung berlari ke kamar mandi takut terkena amukan Vaela.


Vaela mendesis kesal enak saja dia dipanggil harimau betina. Setelah kepergian Vega Vaela berpikir, Vega ada benarnya juga mengapa dia jadi sensi seperti ini padahal dia sedang tidak datang bulan.


Vaela menegang. Apa mungkin dia hamil.

__ADS_1


TBC


__ADS_2