Mr. Posesif

Mr. Posesif
Diculik


__ADS_3

Huek...huek...huek


"Kenapa kepalaku pusing sekali," keluh Vaela


"Apa aku benar-benar hamil,"


Vaela menelan air ludahnya kasar. Bagiamana jika dia benar-benar hamil, jujur saja Vaela belum siap rasanya.


Daripada menduga-duga Vaela akhirnya memutuskan untuk pergi ke luar membeli tespack.


"Vega," panggil Vaela namun tidak ada sahutan.


Vaela pergi kekamar dan melihat kamar yang ditempati oleh Vega berantakan.


"CK, kau bereskan itu Vega! astaga ada apa denganmu"? tanya Vaela terkejut melihat Vega yang matanya agak sedikit menghitam dengan rambut yang acak-acakan.


"Apa kau tidak tidur semalam"


"Hm, Clark mengingkari janjinya kemarin dia bilang akan mengajakku melihat sunset dan aku menagihnya kemarin." Vega menghembuskan napasnya kasar kemudian melanjutkan ceritanya.


"Aku menelponnya dan dia malah membentak ku dan mengatakan janjinya kemarin bukanlah hal yang penting," lirih Vega.


Vega mengingat kejadian kemarin saat dia menelpon Clark. Saat itu dia sudah berpakaian rapi dan hanya tinggal menunggu jemputan Clark.


Dengan penuh semangat Vega menelpon pria itu. Vega sudah sangat tidak sabar untuk pergi melihat sunset lagi bersama dengan prianya.


"Ada apa hah!! sudah kubilang jangan menggangguku,"


Vega tersentak kaget, bukan Salam manis yang dia dapatkan tetapi bentakan kasar dari pria itu.


"Ini aku, maaf jika aku menggagumu," lirih Vega.


"Vega, apa itu kau, ah maaf sayang aku tidak melihat siapa yang menelpon kupikir bawahanku," ringis Clark .


"Hm tak apa. Eum kita jadi pergi kan," Vega kembali bersemangat.


"Ah itu aku tidak bisa,lain kali saja oke," tawar Clark.


"Tapi kau kan sudah janji,"


Diseberang sana Clark memijit kepalanya pelan, sungguh dia ingin tapi tidak bisa pekerjaan nya benar-benar banyak belum lagi masalah di perusahaan Jarel dan Clark bahkan tak punya waktu untuk istirahat.


"Aku sedang bekerja sayang mengertilah, itu bukan hal yang penting untuk sekarang," tegas Clark.


"Lalu jika kau banyak pekerjaan kenapa menjanjikan-nya padaku, Kau menyebalkan ," dengus Vega.


"Aku tidak mau tau kita harus pergi kesana Clark," pinta Vega.


"Aku bilang aku tidak bisa Vega!!! bentak Clark lagi.

__ADS_1


Tut


Setelahnya panggilan itu terputus, Vega menatap nanar ponselnya dan mengehmlaskan ponselnya asal.


Vaela yang mendengar cerita Vega mengangguk mengerti. Mungkin Clark dan Jarel memang benar-benar sibuk apalagi mereka meninggalkan pekerjaan mereka saat menjemputnya dengan Vega. Pasti pekerjaan para pria itu sangat banyak.


"Yasudah, kau makan dulu lalu bereskan ini, aku ingin keluar,"


"Tenaglah mungkin Clark memang benar-benar sedang banyak pekerjaan," ucap Vaela.


"Kau mau kemana,"


"Aku ada keperluan sebentar," balas Vaela.


"Eum bawakan martabak ya," cengir Vega yang diangguki oleh Vaela.


"Aku pergi," pamit Vaela.


Diperjalanan Vaela sesekali dia memegang perutnya dan mengelusnya. Vaela tersenyum hangat. Apapun hasilnya nanti dia harus menerimanya.


Tak...tak...tak


Bunyi sepatu mengusik pendengaran Vaela. Dia menoleh kebelakang namun tidak ada siapa- siapa sama sekali.


Mengapa jalan ini terasa sepi biasanya jalan ini tidak seperti ini. batin Vaela sedikit takut dan mempercepat langkah kakinya.


Vaela memang sengaja mengambil jalan pintas karena dia ingin menikmati udara sore sambil berjalan kaki.


Vaela semakin ketakutan dan meraih saku jaketnya dan mengambil ponselnya. Dia menekan ponselmu dan mencoba menghubungi Vaela namun sama sekali tidak diangkat.


Vaela akhirnya menghubungi Jarel. Nama itu langsung terlintas di pikirannya. Berkali-kali Vaela menghubungi pria itu namun tidak diangkat juga.


Bug


Vaela terjatuh dan Handphone miliknya terlempar. Vaela meringis lutut dan dengkulnya terluka untung saja perutnya tidak apa-apa.


Vaela hendak meraih handphone-nya namun Handphone miliknya sudah terlebih dulu diinjak.


Vaela menoleh dan dan melihat seorang pria yang tersenyum manis padanya.


"Hai manis, apa kau tersesat"? tanya pria itu dengan seringai kecil di sudut bibirnya. Vaela bisa melihat itu.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri," Vaela lalu bangkit dan berniat untuk mengambil ponselnya namun pria yang tidak dikenalnya lebih dulu mengambilnya.


"Jangan terburu-buru, bagaimana jika kita berbincang-bincang lebih dahulu eum," ucap pria itu.


"Kembalikan," desis Vaela.


"Wow, calm down girl," pria itu terkekeh dan sedetik kemudian dia mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Namaku Rafka, namamu"? Rafka menaikkan alisnya.


Vaela hanya menatap tangan itu dan tidak membalas ucapan pria itu.


Rafka menurunkan tangannya dan tersenyum hangat.


"Eum baiklah jika kamu tidak ingin memberitahu aku sudah tau. Namamu pasti Vaela."


Vaela terkejut dan wajah terkejut itu tidak lepas dari pandangan Rafka dia terkekeh kecil.


"Baiklah karena aku tidak punya waktu banyak, sebelumnya aku minta maaf," ucap Rafka dengan muka serius dan wajah datar. Tidak ada lagi candaan disana.


Rafka perlahan mendekat sedangkan Vaela yang melihat itu ikut mundur karena takut.


Vaela berbalik dan langsung berlari kencang dia menoleh kebelakang dan mempercepat larinya sambil teriak minta tolong.


"Argh," Rafka menarik tangan Vaela dan berhasil menuburk dada bidang Rafka.


"Ternyata kau cukup liat Vaela," ucap Rafka.


"Sekali lagi maafkan aku, menurut lah maka aku akan membantumu," sendu pria itu menatapnya.


Dengan tidak tega Rafka menyuntikkan cairan di leher Vaela hingga Vaela terjatuh diperlukannya.


"Ternya kamu ya, wanita yang berhasil meluluhkan hati seorang Jarel,"


Rafka tersenyum dan menata rambut Vaela yang berantakan dan membawa Vaela ke mobilnya.


Dengan sangat hati-hati Rafka membaringkan Vaela di kursi belakang taku jika Vaela kembali terluka.


Rafka melihat luka di lutut dan dengkul Vaela dan mengusapnya pelan.


"Pasti sangat sakit, maafkan aku," lirih Rafka dan melajukan mobilnya ke markas milik Agnes sahabatnya.


Diperjalanan berulang kali ponsel milik Vaela berdering namun Rafka mengabaikannya.


Tapi handphone nya tidak berhenti berdering membuat Rafka kesal dan menepikan mobilnya.


"CK siapa yang menghubungi Vaela hingga berpuluh kali seperti ini ****,"


Rafka menggeledah saku celananya dan dia melihat siapa yang menghubungi Vaela.


"Ya tentu saja pria itu," ucap Rafka melihat banyak panggilan dari Jarel.


Rafka menonaktifkan ponsel Vaela lalu membuangnya.


"Huh! maaf sekali lagi Vaela, aku harus melakukan ini jika tidak aku akan ketauan, aku akan memberikanmu ponsel yang lebih mahal nanti," ucap Rafka berbicara sendiri sambil menatap Vaela dari kaca mobil miliknya.


"Huft, mau mengingatkan adikku yang sudah tiada," lirih Rafka.

__ADS_1


TBC


__ADS_2