Mr. Posesif

Mr. Posesif
Pulang


__ADS_3

"Aku mau pulang sweet, now," rengek Jarel yang sedari tadi diabaikan oleh Vaela.


Wanita itu lebih memilih duduk di kursi tamu kamar rumah sakit diruangan Jarel sambil memotong apel dengan belah empat untuk diamakan oleh nya sendiri.


Rupanya Vaela tak ada niat untuk memberikan nya pada Jarel yang sedari tadi cerewet.


"Sweet," panggil Jarel yang tak dihiraukan oleh Vaela.


Bosan mendengar permintaan Jarel yang ingin pulang kerumah. Tak tahukah jika lukanya masih berbekas dan pria itu baru saja sadar dan malah meminta untuk pulang.


Rasanya Vaela ingin menimpuk Jarel.


"Kau menyebalkan," ucap Vaela sambil mengigit apel merah yang sudah dikupas nya.


"Ayolah sweet, aku tak suka bau rumah sakit ini. Aku bosan."


Jarel memberitahu keluh kesah nya. Dia benar-benar tak tahan akan bau obat-obatan yang terhirup oleh hidung nya yang mancung.


Dia juga tak bisa bergerak dengan bebas semaunya, Vaela begitu cerewet jika dia hendak bergeser dari ranjangnya.


Bahkan jika akan kekamar mandi, wanita itu harus diyakinkan terlebih dahulu.


"Sweet, please. Aku bisa beristirahat dirumah. Jangan disini lagi pula aku sudah baik-baik saja bukan sedang sekarat," tawar Jarel. Menurutnya lebih bagus jika beristirahat dirumah dan lebih leluasa bermanja-manja dengan Vaela tanpa gangguan dari orang lain.


Disini Vaela Selalu malu-malu kucing jika berdekatan dengannya karena tadi mereka sempat terciduk oleh dokter yang ingin memeriksa keadaan nya.


Alhasil Vaela malu tak karuan bahkan sempat kabur dari kamar nya. Lalu setelahnya datang kembali namun tak mau berdekatan dengannya. Jarel merasa kesal dengan hal itu.


"Kau serius ingin pulang? lukamu belum kering. Kau hanya khawatir," terang Vaela merasa kasihan dengan Jarel yang sedari tadi memohon.


Vaela juga dapat melihat kebosanan dari mata pria itu. seharusnya dia tak boleh terlalu menekan Jarel.


"Hem, boleh ya," mohon Jarel.


"Oke, akan kupanggilkan dokter agar kau bisa segera pulang, tapi dirumah kau ahrus beristirahat penuh. Aku tak mau tau," tegas Vaela lalu beranjak keluar dari ruangan Jarel.

__ADS_1


Jarel yang mendengar hal itu, tentu saja bernafas dengan sangat lega.


"Shh," desisnya saat dia menarik sendiri infus yang berada ditangannya. Luka kecil yang berhasil membuat tangannya menjadi berdarah.


"Argh, sial," umpat nya segera turun dari ranjang yang dia tempati. Jarel menekan lukanya menggunakan lengan bau tangannya.


Mencoba menahan darah yang bercucuran dari tangannya yang terluka oleh akibatnya sendiri.


Jantung Jarel berdegup saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat kearah kamarnya. Dia meyakini jika itu adalah Vaela.


Jarel heboh dan langsung meloncat kembali kekasur dengan posisi berbaring. Untung saja luka infusnya hanya berdarah sebentar saja.


Tak lupa dia kembali menarik selimut untuk menutupi setengah badannya.


"wah kau sudah sadar, syukur lah kukira kau akan segera mati. Dengan begitu aku bisa menyiapkan makan mu."


Jarel memutar bola matanya malas. Dia kembali duduk dan menatap sinis kearah kedua orang yang memasuki kamarnya.


Keduanya yang tak lain adalah Devian dan Arsen.


"Untuk apa bertanya?"


"Kenapa, kau tak tau? katanya calon suami. Kok tidak tau calon istrinya kemana?" sarkas Devian.


"Katanya Kaka, kok tidak tau adiknya sendiri kemana," balas Jarel tak mau kalah.


"Diamlah, kalian berisik! tak bisakah kalian akur sehari saja jika bertemu?" kesal Arsen. Muak melihat keduanya yang selalu beradu mulut jika setiap kali bertemu.


"Salahkan anak mu pak tua," balas Jarel.


"Aku bisa berubah pikiran Jarel, jangan main-main denganku,"


"Benarkah, aku sangat takut," ucap Jarel pura -pura takut.


Bug

__ADS_1


Jitakan telak akhirnya dia dapatkan dari Arsen. Tepat di kepalanya pria itu menjitak dengan keras.


Sedangkan Devian yang melihat hal itu malah tertawa terpingkal-pingkal. Merasa senang akan penderitaan Jarel.


"Awssh,"


Suara ringisan itu bukan berasal dari Jarel melainkan dari Devian. Pria itu menyentuh bibirnya yang masih terlihat sobek dan berebekas akibat pukulan dari Max.


"Rasakan! itu karma untukmu kaka ipar," ucap Jarel membalas ejekan dari Devian.


"Permisi bapak, saya mau memeriksa pasien," ucap dokter yang baru tiba dengan Vaela yang berada dibelakangnya.


"Princess," ucap Devian bahagia dan memeluk adiknya itu. Dia teramat merindukan Vaela.


Arsen melakukan hal yang sama hingga mereka berpelukan seperti Teletubbies.


"Aku merasa tidak dianggap sama sekali," cibir Jarel.


"Kau tidak diajak," balas Devian.


"Mom ada dimana? kenapa tidak ikut,"


"Mom ingin kau sendiri yang menemui nya sayang. Mom baik-baik saja sekarang setelah mendapat kabar 2 Minggu yang lalu jika kau baik-baik saja." terang Arsen.


Alasan mereka menemui Vaela sekarang adalah karena Jarel juga sudah sadar. Kemarin mereka tak ingin langsung menemui Vaela karena Vaela masih dirundung kesedihan dan menanti kesadaran Jarel.


"Aku akan kesana secepatnya dad, aku juga merindukan mom," ucap Vaela.


"Ya harus," tegas Devian.


"Apa masih sakit ka?" tanya Vaela meringis melihat lebam yang kentara di wajah tampan milik Devian.


"Tak apa, entar juga bakalan sembuh,"


TBC

__ADS_1


__ADS_2