
Disunyinya angin malam pukul 2 malam terdengar nafas seseorang memburu, Vaela yang menemani Jarel sedari tadi ikut panik , takkala badan Jarel semakin panas padahal dia sudah mengompres badan Jarel dan memberinya obat penurun panas'.
"Jarel, Jarel ," Vaela dengan panik menepuk pipi Jarel yang memerah karena badan nya sangat panas.
Jarel menggeliat merasa tak nyaman, matanya berat tak bisa dibuka.
Tapi saat merasakan tangan wanita-nya yang sedari tadi menyentuh, dan mengelus
wajahnya sudah tak terasa lagi.
Jarel memaksakan matanya agar terbuka . Nafasnya memburu panas menyusuri kamar yang sunyi dan remang-remang.
Saat tak minat Vaela yang dicarinya, air matanya mengalir katakanlah Jarel cengeng memang seperti itulah dirinya manja saat sedang sakit ,
"Hiks, Vaela...! Jarel menyerukan nama Vaela ingin berteriak memanggil wanitanya tapi tak bisa Jarel lakukan karena. tubuhnya terasa lemas.
Tak lama pintu kamar mereka terbuka , Jarel mengalihkan pandangannya menatap ke arah Vaela yang sedang membawa baskom kompresan .
"Aaa Vaela,"rengek Jarel seperti anak kecil.
Vaela melangkah mendekati Jarel yang wajah basah karena air mata.
"Apa ada yang sakit? bagaimana jika aku memanggil dokter?" Vaela meletakkan baskom air kompresan berisi kain lalu mengompres Jarel kembali.
"Tidak susah panggil dokter,ini sudah malam," ucap Jarel.
__ADS_1
"Tapi nanti akan semakin parah, aku juga yang repot aku tak mau tau besok pagi aku akan memanggil dokter persetan jika kau tak mau,"
ucap Vaela final, bagaimanapun suhu tubuh Jarel semakin tinggi membuat Vaela khwa dibuat nya.
"Hum," gumam Jarel membenamkan wajahnya di dada Vaela.
Mereka kembali membaringkan badannya dengan Jarel yang selalu setia memeluk Vaela.
Kadang Vaela melepaskan pelukannya untuk sesekali mengompres Jarel.
Vaela akhirnya tak bisa tidur dan duduk ditepi ranjang kembali mengompres pria itu.
Vaela akhirnya memutuskan untuk menonton karena memang tak bisa memejamkan matanya. Ini karena dia tak bisa tidur jika Jarel belum mengelus perutnya karena sudah menjadi kebiasaan.
Vaela tentu saja tak tega jika harus membangun kan pria itu.
Terlihat sekali lingkaran hitam di mata Vaela
Vaela beranjak dari duduknya dan memeriksa suhu tubuh Jarel dan sudah sedikit menurun.
Vaela memutuskan untuk kedapur dan membuat kan Jarel bubur sebelum itu Vaela juga sudah menelpon dokter agar segera datang ke mansion mereka.
***
"Bagaimana keadaan mu Jarel, lama tak bertemu,' ucap Vega.
__ADS_1
"Seperti yang kau lihat," balas Jarel.
"Cih, padahal hanya demam biasa saja," leldek Clark yang duduk di sofa kamar Jarel sambil memakan buah dan kue yang dibawa olehnya dan Vega.
"Kenapa jadi kamu yang memakan nya, astaga pria ini." Kesal Vega.
"Aish aku lapar sayang, kau langsung menarik ku kesini tanpa sarapan," adu Clark.
"Siapa yang menyuruhmu tidak makan, itu bukan salah ku," elak Vega .
"Ya ya ya, ini salahku," ucap Clark mengalah namun tak menghentikan acara makan nya.
"Kau Seperi babi," ucap Jarel pada Clark.
"Apa, kau siapa? Apa kita saling mengenal," Clark menaikkan alisnya.
"CK, terserah,"
"Sudah-sudah, kalian ini selalu berkelahi terus saat ketemu membuat pusing Saja. Jarel kau makan saja sekarang jangan banyak bicara lagi," ucap Vaela.
"Pahit, aku tak mau," tolak Jarel.
"Makan sedikit saja, akan aku suapi," ucap Vaela.
Jarel akhirnya mau tak mau membuat Vaela kecewa karena dia tau Vaela sudah repot-repot membuat kan bubur ini untuk dirinya.
__ADS_1
TBC