Mr. Posesif

Mr. Posesif
Eskrim


__ADS_3

"Clark!"


Clark menoleh ke arah gadisnya yang baru memasuki kamarnya. "Sini."


Clark menepuk sisi kosong disampingnya.


Clark memang membawa Vega ke rumahnya tentu saja dia tidak akan membiarkan Vega tinggal sendirian dan itu sudah mendapatkan persetujuan dari orang tua Vega.


Orang tua Vega percaya jika Clark akan menjaga putri mereka makanya tanpa pikir panjang mereka setuju saja lagipula sebentar lagi mereka akan ke jenjang yang lebih serius.


Vega menghampiri Clark dan menjatuhkan tubuhnya di sisi Clark yang menatapnya.


"Itu apa?"


Clark menatap Vega sejenak. " Grafik administrasi kantor," jawabnya.


Vega mengangguk saja. Toh ia tak paham. Ia hanya tau itu grafik naik turun, baca dan fungsinya mana tahu dirinya.


Vega mengeluarkan sesuatu di kantong miliknya. "Itu apa sayang?"


"Coklat, kamu mau gak," tawar Vega.


Clark menggeleng. "Enggak,buat kamu aja tapi jangan memakan banyak-banyak," tegas Jarel.


"Kenapa?" ucap Vega lesu padahal Clark yang lebih tau tentang dirinya yang sangat menyukai coklat.


"Nanti kamu sakit gigi," ucap Clark. Clark kembali fokus pada layar laptopnya.


"Gak bakal. Abis ini kan sikat gigi," sangkal Vega seraya membuka coklatnya.


Clark mendengus. " Apapun yang berlebihan itu tidak baik," tukasnya.


Vega mencebikkan bibirnya. " Iya-iya."


Mereka diam. Mereka sibuk pada kegiatan masing-masing. Hingga 30 menit kemudian Clark menutup laptopnya. lelaki itu melirik Vega ya g berbaring disebelahnya.

__ADS_1


Clark menyingkirkan laptopnya ke atas balas. Ia lantas membenarkan posisi tidur Vega agar lebih nyaman. Setelah dirasa nyaman, Clark turun dari tempat tidur untuk ke lantai bawah mengambil minum karena haus.


***


Jarel berdiri di balkon kamar Vega. Dia memandang lurus kedepan sepertinya akan hujan. Sekilas dia melirik gerbang utama rumah.


Dia berhasil membawa wanitanya masuk kedalam kehidupannya. Ah, ia jadi ingat masa-masa saat ia bertemu dengan Vaela. Pertemuan yang singkat mampu membuat dia sangat tertarik hingga melakukan cara kotor untuk mendapatkan wanita itu.


Segila itu dirinya. Eh, bukankah dirinya memang gila? Memaksa Vaela untuk menjadi kekasihnya.


Clark tersenyum miring. Kini cara kotornya membuahkan hasil,bukan? pujaan hati menjadi miliknya seorang. Seutuhnya.


Jarel menutup gorden lalu turun ke kamar bawah untuk melihat Vaela. Namun bukannya mendapat Vaela disana dia hanya melihat kamar mereka kosong.


Jarel mendesah Vaela suka sekali membuatnya khawatir. Dia memanggil Vaela hingga terdengar sahutan dari luar.


Vaela disana duduk di kursi taman yang disediakan oleh Jarel.


"Kenapa disini Hem," Jarel mendudukkan dirinya tepat disamping Vaela.


"Hanya ingin,"


Jarel menyelimuti Vaela dan imut masuk dalam selimut itu.


"Tidurlah, aku akan mendekapmu sepanjang malam, jangan pikirkan hal itu besok akan baik-baik saja."


Vaela memejamkan matanya tali dia tidak bisa tidur . 30 menit sudah berlalu dan dia menoleh ke arah Jarel yang sudah tertidur lelap dengan lengannya yang melingkari perut Vaela.


Vaela jadi tidak enak jika ingin bangun dia takut membangunkan Jarel . Akhir-akhir ini Jarel memang tidur lebih awal karena mengurus pekerjaan nya belum lagi mengurus Vaela.


Vaela menatap atap kamarnya lama. Dia tidak tahan entah kenapa dia ingin makan eskrim sekarang padahal ini sudah malam tentu saja Jarel tak akan menginjinkannya.


"Aku mau eksrim," gumam Vaela.


Vaela berusaha untuk menahan. Dia memejamkan matanya kembali namun tidak bisa. Saat dia memejamkan mata bayang-bayang eskrim berputar di kepalanya.

__ADS_1


Vaela membalikkan badannya kesamping dengan hati-hati lalu sedetik kemudian membalikkan badannya.


Jarel melenguh sepertinya tidur pria itu terganggu. Jarel menoleh dengan menyipit dan matanya tepat menatap pada Vaela yang merasa bersalah.


"Apa aku membangunkanmu?" Maaf," lirih Vaela pelan.


"Kenapa sweet, kau tak bisa tidur apa kau masih memikirkan masalah itu?"


"Eum tidak, aku eumm aku ingin eskrim," cengir Vaela.


"Boleh ya, Jarel tolong belikan untukku ini keinginan baby," mohon Vaela.


Jarel menatap datar Vaela. Apa katanya tadi. Eskrim?


Malam-malam begini ingin makan eskrim tentu saja Jarel akan menolak permintaan wanita itu mentah-mentah.


"Tidak, sudah malam," marah Jarel.


"Jarel, aku ingin aku bahkan tak bisa tidur aku selalu membayangkan eskrim," Pinta Vaela.


Jarel tetap menggelengkan kepalanya. "Bagaimana jika donat aja. Kau mau donat?" tawar Jarel.


"Aku dan baby tak mau donat , maunya eskrim Jarel," rengek Vaela.


"Tidur," tegas Jarel yang sudah kesal.Dia tidak akan memenuhi permintaan wanitanya kali ini. Ini demi kesehatan Vaela juga.


"Jarel," Vaela menekan jari telunjuknya pada lengan Jarel berulang kali.


"Besok saja Hem," ucap Jarel.


"Aku maunya sekarang," kekeh Vaela.


"Tidak ada, besok akan aku belikan tidak sekarang," tegas Jarel lalu membalikkan badannya dan tak memperdulikan rengekan Vaela .


Vaela akhirnya lelah dan pasrah saja menunggu hari esok.

__ADS_1


"Baby tahan ya, besok kita akan makan banyak eskrim," ucap Vaela mengelus perutnya dan berusaha untuk memejamkan matanya.


Jarel tersenyum kecil mendengar celotehan Vaela pada anak mereka. Jarel kembali membalikkan badannya dan merengkuh Vaela dalam pelukan hangatnya.


__ADS_2