
"Clark, boleh aku bekerja," pinta Vega saat melihat Clark fokus terhadap laptop miliknya.
"Tidak perlu, aku yang akan bekerja gaji ku lebih dari cukup untuk membiayai hidup kita." bantah Clark.
"Tapi aku ingin memiliki usaha, lagipula aku sudah minta modal dari dekat," ucap Vega.
Clark mengehentikan pekerjaannya. Beralih menatap Vega yang menatapnya penuh harap.
"Kau apa?"
"Ya aku sudah terlebih dahulu membicarakan ini pada Daddy," cicit Vega.
"Dengar, aku tau kau bosan dirumah terus tapi aku tak mau kau kelelahan Vega, bagaimana jika kita nanti memiliki seorang anak, kita sibuk akan pekerjaan kita masing-masing dan akhirnya anak kita akan terlantar dan kurang kasih sayang. Aku tak menginginkan hal itu Vega cukup aku saja yang mengalaminya tidak untuk anakku dan kamu kelak," tegas Clark.
"Kita kan belum menikah, itu nanti bisa dipikirkan. Ayolah," ucap Vega menggoyangkan tangan Clark.
"Ya sekarang tidak, kedepannya pasti," ucap Clark serius.
"Aku tahu, untuk sekarang Clark aku bisa menghandle nya. Aku berjanji tak akan kelelahan. Aku bosan tak melakukan apapun dirumah sementara jika aku ingin pergi keluar kau selalu membatasinya dan melarangku pergi tanpa pengawasan,"
"Maaf, aku hanya tak ingin terjadi sesuatu padamu,"
__ADS_1
Clark menghela nafas, dia harus mencoba mulai mengerti keinginan gadisnya ini. Lagipula ini bukan masalah besar nanti Clark akan membantu pekerjaan gadis itu agar tak kelelahan.
"Okey, kau boleh. So what do you want?" tanya Clark.
"Aku ingin melaunchingkan lipstik produk ku sendiri, kau harus datang di acara itu nanti. aku ingin memulai bisnis ku sendiri hingga aku dikenal oleh orang banyak," ucap Vega.
"Aku bangga padamu sayang. Itu baru gadisku. Jika ada masalah beri tahu padaku. Kau tau memulai bisnis tidak mudah sayang, kau akan jatuh bangun nantinya."
"Aku mengerti," ucap Vega.
***
"Pembohong," kesal Vaela.
Jarel tau apa penyebab wanita-nya ini marah padanya. Itu karena dia tak menepati janjinya kemarin yang akan membawa Vaela jalan-jalan.
"Ayolah sweet , jangan marah! masih banyak waktu itu, kita akan memeriksa kandungan mu sekarang itu jauh lebih penting," ucap Jarel menjelaskan dengan nada selembut mungkin. Jarel memang mulai belajar mengontrol emosinya takut Vaela akan menangis karena hormon ibu hamil.
"Setidaknya jangan janjikan padaku, kemarin padahal kan aku sudah menunggu," balas Vaela.
"Maaf sweet,"
__ADS_1
Vaela akhirnya pasrah saja dia karena ini juga untuk kebaikan dirinya dan anaknya.
Vaela memang belum pernah memeriksa perkembangan kehamilan dirinya sejak terakhir hanya mengecek lewat tetspack saja.
Jarel merangkul Vaela saat sudah sampai di rumah sakit. Pria itu kini membawa wanita-nya keruangan dokter kandungan. Jarel sebelumnya memang sudah membuat janji dan mencarikan dokter perempuan yang akan menangani Vaela. Mana rela dia saat wanita nya akan disentuh pria lain selain dirinya.
"Pengantin baru ya," ucap dokter tersebut.
Vaela tersenyum tipis tak menjawab .
"Ya, cepat periksa istri ku, tidak usah banyak bertanya," ucap Jarel.
"Maaf dokter, dia memang seperti itu. Tolong maklumi ya," ucap Vaela merasa tidak enak dia memberikan tatapan tajamnya ke arah Jarel yang malah dibalas dengan flying kiss oleh lelaki itu."
"Silahkan berbaring nyonya," ucap dokter tersebut dan Vaela mengikuti arahan sang dokter.
Perut Vaela di USG. Jarel dengan seksama melihat.
"Apa itu anakku, kenapa sangat kecil Seperti kecebong," ucap Jarel.
"Tentu saja pak, kandungan istri bapak masih 2 bulan jadi masih belum terlihat bentuknya,"
__ADS_1
"Begitu ya, " Jarel mengangguk mengerti tak sabar menanti anaknya. Dengan ini Vaela akan selamanya berada disisinya tak akan ada alasan Vaela untuk meninggalkan dirinya.
TBC