
"Kupikir kau tak akan datang," ucap pemilik ruang bawah tanah itu pada Alex.
"Tentu saja aku harus datang, aku menagih janji mu, kuharap kau tak lupa Leon dan tak berbalik arah," ujar Alex.
"Jangan meragukan ku Alex, aku bukan pria yang suka mengingkari janjiku.
"Aku tidak menyangka jika Max mau melakukan apapun untuk wanita itu, apalagi dalam kondisinya yang sudah hamil sedangkan dia bisa dapat yang lebih baik dari dia," pungkas Leon sambil mengarahkan dagunya ke arah Vaela yang masih tertidur pulas di sofa.
Alex ikut melirik Vaela, wanita itu masih setia tertidur. Seperti nya kebia baru'nya adalah tidur.
"Hem, itu yang kupikirkan Jarel mengatakan jika Max hanya ingin merebut Vaela darinya, tapi menurut ku bukan hanya karena itu."
Alex berpikir untuk apa Max sampai sebegitu nya menginginkan Vaela. karena utang orang tuanya? Jarel pasti cukup mampu untuk mengembalikan nya namun Max menolak dan malah tetap meminta Vaela. Bukan kah itu menjadi pertanyaan.
Leon mengangguk, tentu saja dia tau watak dari Max. Dia sudah mengenal Max cukup lama.
"Bagaimana bisa kau mengenalnya dan mau bekerja sama dengan ku untuk menangkap nya?"
"Dia adikku,"jawab Leon sambil menghirup nikotin yang kini dia sematkan di sela-sela jari nya. Berulang kali dia menghisap dan menghembuskan nya.
"Adik?" Alex baru tau akan hal itu. Jarel tak memberi tahunya akan informasi yang satu ini.
"Hem, adik angkat lebih tepatnya. Aku sudah mengawasi nya sejak lama, mau sangat geram dengan kelakuannya yang semena-mena pada orang, dia menyalah gunakan kekuasaan yang dia miliki dan tak jarang dia menyakiti orang yang lebih kecil darinya," jelas Leon.
Untung saja anak buahnya yang mengawasi melaporkan jika Alex juga berencana untuk menangkap Max. Saat itu Alex terlihat sedang memeriksa beberapa markas milik Max. Leon lantas menemui Alex dan bekerja sama dengan nya.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, aku ingin sekali memukulinya Sampai mati," hardik Alex.
"Jangan terburu-buru, biar kan dia sebentar lagi untuk menikmati kekuasaannya sebelum dia kita jatuh kan,"
"Ck, apa guna nya itu, bisa saja dia merencanakan hal yang tak kita tahu, dia bisa satu langkah didepan kita. Jangan membuang waktu ku ." kesal Alex.
"Wow bro . Calon down, sepertinya kau bukan orang yang sabar ya,"
"Fine, yang penting keluarga wanita mu itu sudah selamat semua kan."
"Hem, tapi dia malah membuat ulah lagi, untung saja aku segera kesini jika tidak pasti pria tua dan Devian itu akan menemukan aku dan Vaela."
"Bukankah itu bagus. Mereka bisa membantu kita,"
"Tidak!! aku tak mau melibatkan keluarga Vaela, dia sangat merepotkan apalagi jika menangis nantinya melihat keluarga nyanikut terluka."
__ADS_1
"Kau menyukai nya?" tanya Leon menaikkan alisnya.
"Cih, omong kosong m Kau tak akan pernah menyukai nya. Ini kulakukan semata-mata hanya untuk bayi yang dikandungnya saja," gerutu Alex.
"Gengsi," gumam Leon pelan.
***
"Dimana mereka, kenapa bum datang juga?" bentak Max menendang kursi dihadapannya.
Kursi bekas tempat ibunda Vaela, Novita disandera.
"Tidak tahu tuan!!" ucap salah satu anak buahnya gugup.
"Dasar bodoh, cari mereka sampai dapat, harusnya aku tak membebaskan mereka," geram Max.
Bodohnya dia tergiur dengan sejumlah uang yang ditawarkan oleh Jarel atau lebih tepatnya Alex lah yang melakukan nya.
Pria itu memberikan jaminan uang yang banyak jika Max melepaskan Devian dan Novita dan setelahnya Max juga akan segera menyerahkan Vaela.
Entah apa yang membuatnya percaya saat itu, dia terlalu dimabuk uang hingga tak bisa berpikiran jernih dan malah asik dengan uang itu.
"Awas saja kau Jarel, aku akan mendapatkan semua milikmu juga," ucap nya sambil tertawa jahat.
"Mobilnya hanya bisa masuk sampai sini tuan, sedangkan lokasi ponsel tuan Jarel terakhir kali masih sedikit jauh."
"Kita terpaksa harus berjalan', ayo cepat!" ucap Arsen memimpin jalan.
Dia benar-benar khawatir akan keadaan Vaela. Sudah lama dia tak menjumpai putri nya itu. Apalagi Novita, setelah sadar dia langsung meraung-raung ingin bertemu dengan Vaela.
"Apa ini milik Jarel? aku tak tau dia suka mengoleksi rumah di hutan, sungguh hobi yang aneh," decak Devian.
"Jangan banyak bicara, kita harus segera bergegas, Daddy sudah sangat ingin menemui Vaela dan cucuku." cetus Arsen yang membuat Devian memutar bola matanya malas.
"Sekarang aja dianggap cucu, dulu aja ngebantah paling keras," gumam Devian.
"Ini memakai pin dan sidik jari, Aneska kamu bisa membuka nya bukan?" tanya Arsen.
"Alan saya coba tuan," ucap Vianka memulai pekerjaannya. Aneska terlihat mengotak-atik sistem keamanan rumah itu.
"Kira-kira berapa lama?"
__ADS_1
"Sekitar 2-3 menit tuan," ucap Aneska dan akhirnya dia berhasil.
"Good job Vianka," ucap Devian mengikuti Arsen yang sudah terlebih dahulu masuk saat sedetik pintu rumahnya terbuka.
"Dad benar - benar terlihat bersemangat,"
"Vaela!!"
"Vaela, kamu dimana?"
"Vaela,"
Arsen meneriakkan nama Vaela berulang kali berharap menemukan apa yang dia cari.
"Mengapa mereka tak ada disini. ini benar tempat terakhir ponselnya kan?"
"Iya tuan," angguk Vianka.
"Handphone nya ada disini, apa mereka sudah ditangkap oleh Max," ucap Devian dengan nada yang begitu khwatir.
Berbagai pikiran negatif kini menguasai pikiran nya. Terlebih lagi dai sudah merasakan bagaimana menjadi tahanan oleh Max. Pira itu kasar dan tak berbelas kasih. Devian menakutkan apa yang dialaminya dilakukan oleh Max juga pada adik nya itu.
"Tidak mungkin, pasti ada yang salah disini. Kuharap Jarel bisa menjaga putriku," ucap Arsen.
"Kalian coba cari kembali kebelakang," perintah Arsen karena dia mendapatkan telpon dari istri nya.
"Mas, bagaimana apa kalian sudah menemukan Vaela? dia tak apa-apa kan. berikan pada nya aku ingin melihatnya," ucap Novita beruntun.
Arsen meremas ponselnya, dia tak tahu harus menjawab apa, dia sekarang seperti tidak berguna, dia merasa tak bisa menjaga dan melindungi istri dan anaknya.
"Aku belum menemukan nya. Maaf sayang," sesal Arsen dengan jujur. Tak ada gunanya untuk berbohong.
Arsen memejamkan matanya saat mendengar tangisan dari istrinya itu. Dia semakin dirundung perasaan bersalah yang amat dalam.
Arsen membiarkan Istrinya itu untuk menenangkan diri, Arsen memilih untuk memutuskan sambungan telponnya.
"Bagiamana?"
Devian menggeleng lesu. "Kita harus kembali kekota, mommy sedang histeris sekarang, kita lanjut kan nanti,"
"Tak bisa dad, bagiamana jika Max berhasil menangkap Vaela, pria itu gila dad,"
__ADS_1
"Tenang lah, selama Jarel bersama nya pasti dia akan aman. Semoga saja."