
"Jarel," lirih Vaela terbangun dari tidurnya saat kepalanya dielus dengan lembut.
Vaela masih belum membuka matanya karena matanya masih terasa berat dan menikmati elusan di pucuk kepalanya.
Hingga beberapa saat dia tersadar saat bau tubuh Jarel terasa berbeda.
"Apa kau mengganti parfum mu?" ucap Vaela lalu membuka matanya dan betapa terkejutnya Vaela.
"Hello baby girl,"
Tubuh Vaela menegang ketika ia mendengar suara yang begitu asing di telinga nya. Disana pria asing tengah menatapnya dengan tersenyum miring.
Vaela bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu. Vaela mengernyit saat pintunya tak bisa dibuka.
"Kau sedang mencari ini Baby girl?" ucap pria itu memegang kunci.
"Kau siapa ha! kenapa bisa ada disini!! teriak Vaela.
"I'm Max baby girl. Your future husband," ucap Max.
"Stop it," ucap Vaela dengan nada bergetar saat Max mendekati dirinya. Bagaimana Vaela tidak ketar-ketir hanya ada dia dan Max disini, di kamar miliknya dan Jarel.
Namun pria Tiu tak menghiraukan larangan dari Vaela dan kembali berjalan dengan tenang.
"Aku bilang berhenti, Jarelll.... Jarelll siapa Jack," teriak Vaela menggedor - gedor pintu berharap Jarel atau para pelayan mendengar suaranya.
Vaela heran padahal bodyguard Harlem begitu banyak kenapa tak ada yang nampak sama sekali.
"Hahaha, berteriak lah sepuasnya baby girl, tak akan ada yang mendengar kan mu. Aku sudah mengurus mereka semua. Hanya ada kita sekarang baby girl. Hanya ada kita," ucap Max menekankan kata kita pada Vaela.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Vaela dengan raut wajah yang takut yang kentara. Ia membutuhkan Jarel saat ini, ia harap pira itu segera datang dan menyelamatkan dirinya dari pria asing dihadapannya ini.
"I want you baby girl," balas Max dengan senyum miring nya. Max semakin mendekat ke arah Vaela dan menghiraukan teriakan Vaela yang melarangnya untuk mendekat.
"No, stop it. Ambil semuanya yang kamu inginkan. Kau mau uang berapa akan aku berikan," ucap Vaela .
"Uangku sudah banyak sayang, aku tak membutuhkan uangmu," balas Max.
Vaela semakin panik saat ketika pria itu mendekati dirinya. Vaela memutar matanya dan melihat sebuah gunting di meja rias miliknya.
"Apa yang kau lihat baby girl," ucap Max saat melihat Vaela tengah mencari sesuatu.
Vaela tak menghiraukan ucapan Max, Vaela dengan cekatan berlari ke meja riasnya dan menggenggam gunting nya.
"Jangan mendekat atau aku akan menyakitimu," ucap Vaela dengan tangan yang bergetar.
"Coba saja baby girl, **** kau sangat sexy astaga baby girl. Aku tak sabar menikahi mu lalu membuatmu berkeringat setiap malam dibawahaku. Terdengar sangat menyenangkan bukan?" ucap Max.
srek
Vaela memberanikan diri menusuk pria itu, tangan nya bergetar saat gunting di tangannya kini berdarah.
"Kau berani juga baby girl. Kukira kau hanya menggertak saja. " ucap Max lalu menarik gunting nya dia mendesis karena memang terasa perih.
"Baby girl, aku ingin mengatakan sesuatu. Aku bukan pria baik baby, Jadi kau akan mendapatkan hukuman mu segera,"
Plak
Plak
__ADS_1
Vaela merasakan perih dipipi nya. Ini sangat menyakitkan.
"Lagi?"
Plak
plak
Vaela terhuyung, tamparan Max tak main-main hingga melukai bibirnya.
Vaela menatap nyalang pria itu Bahkan walaupun terkadang Jarel pemaksa dan pernah kasar padanya tapi Jarel tak pernah menampar dirinya.
Jujur saja Vaela baru pertama kali ditampar seperti ini. Selama hidupnya dia tak pernah mendapat hal demikian.
Plak
Vaela membalas tamparan pria itu, bukannya membuat Max merasakan seperti apa yang dirasakan olehnya malah tangannya terasa sakit saat tangan mungilnya menyentuh wajah keras pria itu
"Kau menampar ku, beraninya kau," marah Max menatap telak ke arah Vaela yang semakin memundurkan dirinya hingga kini menempel di tembok. Vaela tak bisa kemana - mana lagi sekarang.
"Heum, kudengar kamu Hamil baby, bagaimana jika aku mengganti nya dengan bayiku ," ucap Max tersenyum devil lalu mencengkram pipi Vaela dan membanting nya di kasur.
Dilain sisi Jarel yang baru pulang setelah menemui ayah Vaela kini mengernyit bingung saat didepan mansionnya tak ada siapapun.
Jarel memasuki rumah dan melihat anak buahnya yang tergelatak ada yang pingsan bahkan terluka parah.
"Vaela," panik Jarel. Jarel ketakutan hal- hal negatif kini mengelilingi pikiran nya. Dengan tak sabar Jarel bergerak menuju kamar Vaela.
Disaat akan menghampiri wanita-nya, Jarel berpapasan dengan Aneska yang menunjukkan raut wajah gelisah. Jarel tak menghiraukan itu sekarang dia hanya ingin menghampiri wanitanya sekarang.
__ADS_1
Jika saja terjadi sesuatu pada wanita nya maka dia tak akan mengampuni para bodyguard nya.