Mr. Posesif

Mr. Posesif
Manja


__ADS_3

Hari ini Jarel menemani Vaela dirumah sakit sepanjang hari. Wanita itu tidak mau ditinggal bahkan hanya untuk sebentar saja.


Karel mengerti jika wanita nya itu sangat ketakutan dan itulah yang membuat Jarel merasa bersalah dan marah pada dirinya sendiri. Sudah 2 kali dia gagal dalam menjaga wanita nya itu akibat kelalaian nya sendiri.


Bahkan wanita nya itu menggenggam tangan Jarel tak membiarkan Jarel melepaskan nya. Jarel tentu saja sangat senang, setelah sekian lama Vaela mau bersama nya dan bergantung padanya.


Tapi Jarel tidak suka jika keadaannya Seperti ini, Jarel membenci wajah cemas dan ketakutan itu, biar hati ingin menghabisi Max saat ini juga diurungkan nya karena wanitanya yang tak mau ditinggal olehnya.


Jarel terpaksa harus mengurung kan niatnya.


"Sweet, tolong lepas sebentar heum," ucap Jarel dengan sangat lembut.


Vaela yang tadinya fokus dengan drakor yang sedang ditonton nya kini mengalihkan pandangannya ke arah Jarel yang menatap dirinya sambil tersenyum.


Vaela menggeleng. "Mengapa ? kamu udah gak mau sama aku ya? kamu jijik karena aku--"


"Sstttt, sweet jangan katakan itu lagi, aku membenci perkataan mu yang ini, bukannya kita sudah membahas nya tadi. Tolong jangan mengungkit nya sweet." ucap Jarel yang tak suka.


"Maaf, aku hanya takut , maafkan aku Jarel, tolong jangan tinggalkan aku," pinta Vaela.


"Tidak akan sweet, jika itu yang kau takutkan aku takkan pergi sweet. " jelas Jarel.


"Terimakasih Jarel," ucap Vaela yang membuat Jarel berdecak.


Tak


Vaela mendapat sentilan di dahinya. "Itu untukmu yang selalu mengucapkan terimakasih padaku, padahal aku sudah memperingatkan ini padamu sebelum nya," ucap Jarel mengelus dahi Vaela yang memerah.


"Baiklah, akan aku ingat oke. Jangan marah," kata Vaela dengan wajah memelas.


" Heum, jadi bisa tolong biar kan aku sebentar heum, aku ingin ke kotoilet sweet," mohon Jarel yang sedari tadi menahannya dan sekarang dirinya tidak kuat lagi.

__ADS_1


"Benarkah, kau tidak akan pergi kan?"


Jarel menghela nafas kasar. "sweet, aku hanya akan ke toilet sebentar bukan mau pergi ke mars, ayolah aku sudah tidak kuat," Jarel benar-benar tersiksa sekarang.


"Kau mau aku kencing Disni heum,"


"eugh, tidak itu jorok, baiklah kau bisa pergi," ucap Vaela dan detik itu juga Jarel berlari terbirit-birit ke kamar mandi yang membuat Vaela meledakkan tawanya, sangat lucu melihat gaya berlari Jarel tadi sepertinya pria nya itu tidak berbohong jika sudah tak kuat menahan sesi buang airnya.


Vaela mengelap air mata di sudut mati, perutnya sedikit keram akibat tertawa keras tadi.


"Baby, kau lihat tidak Daddy mu tadi, sangat lucu," ucap Vaela mengelus perutnya lembut.


Vaela sangat mengucap syukur pada Tuhan karena dia masih kesempatan untuk menjaga baby nya. Entah apa yang akan dilakukan nya jika saja bayinya tak berhasil diselamatkan.


"Huft, akhirnya," lega Jarel.


Saat hendak kembali menghampiri wanita nya ponsel nya berbunyi dan panggilan itu dari Clark.


"Aku butuh bantuan mu," ucap Clark. Jarel bisa mendengar hembusan nafas Clark dari sana. Sepertinya pria itu memiliki masalah.


"Apa kau ada masalah?" tanya Jarel pada sahabat itu.


"Ya, tapi aku tak bisa menceritakan ini padamu sekarang, apalagi dengan kondisi Vaela sekarang dan ini tak bisa ku ceritakan lewat telpon begini dan Maaf tak bisa berkunjung," sesal Clark.


"Ya tak apa, lalu apa yang kau butuhkan?" ucap Jarel dengan nada serius.


"Bisa bertemu?"


"Akan ku usahakan," ucap Jarel lalu mematikan sambungan teleponnya.


Jarel berpikir keras, apa yang sedang menimpa Clark sekarang.

__ADS_1


Jarel tentu harus membantu sahabat nya itu, mereka tumbuh dari kecil bersama dan Jarel sudah mengetahui semua tentang masa lalu Clark yang kelam.


Pria itu juga selalu membantu nya saat ada masalah bahkan membantu hubungan nya dengan Vaela juga.


Jarel kembali dan menghampiri Vaela yang menggembung kan pipi nya.


"Lama sekali," kesal Vaela.


"Ugh, apa wanita ini sedang merajuk heum," ucap Jarel sambil menggelitik Vaela pelan yang membuat Vaela tertawa.


"Sweet, istirahat lah kau sudah lama menonton, baby juga pasti butuh istirahat," ucapnya.


"Heum, aku juga sudah mengantuk, tapi elus-elus ya, baby mau dielus," Vaela meraih tangan kekar Jarel ke perutnya.


"Selalu begitu Hem, menjadikan baby sebagai alasan, padahal kamu juga pengen kan, dasar," ucap Jarel namun tetap mengelus perut wanita nya itu.


Vaela mencari posisi ternyaman, Jarel ikut merebahkan dirinya tanpa berhenti mengelus perut Vaela.


Tak lama menunggu Vaela akhirnya tertidur.


Cup


Jarel mengcup perut Vaela lalu beralih ke wanita nya dan mengecup seluruh wajah wanita itu.


"Aku mencintaimu sweet, sangat. Aku pergi sebentar ya! aku tak akan lama sweet, sebelum kau bangun aku akan kembali," ucap Jarel.


Dengan perlahan Jarel turun dari ranjang takut jika Vaela akan terbangun dari tidurnya.


Jarel sedikit menjauh dan menghubungi Vega untuk meminta nya kemari untuk menjaga Vaela selama dia pergi. Tak lupa Jarel menambah bodyguard agar berjaga di pintu kamar Vaela.


TBC

__ADS_1


__ADS_2