
fara pamit pada keluarga aryan untuk pulang, karena sudah larut malam, aryan mengantar fara sampai depan apartemen malam pun sudah semakin larut fara belum beranjak pergi dari mobil aryan karena aryan masih menyalakan mesin mobilnya, ditambah dengan lampu yang menyorot ke arah taman.
diam, tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut kedua insan yang sedang di landa gugup ini, padahal ini bukan pertama kalinya mereka selalu berdua.
baik aryan ataupun fara berperang dengan pikiran masing masing, fara yang teringat akan cerita kriti dan najma begitupun aryan teringat akan pesan farhan.
akhirnya keduanya membuka mulut secara bersamaan akan tetapi mereka saling diam dan mempersilahkan untuk berbicara duluan.
" silahkan bapak dulu " ujar fara dengan malu malu
" kau saja dulu " sahut aryan ia pun tak kalah malu dan gugup.
" baiklah saya dulu yang bicara, ngomong ngomong terima kasih bapak sudah mengajak saja makan malam bersama keluarga bapak, sejujurnya saya sangat malu tapi saya juga tidak bisa menolak ketika seorang ibu yang meminta " imbuh fara.
" sama sama " jawab aryan dengan begitu singkatnya, sampai sampai fara mengerutkan dahinya ia panjang panjang berbicara tapi jawaban nya sesingkat itu. tapi itulah aryan fara sangat mengerti sifat bosnya yang irit bicara.
" saya mau pulang pak, " ucap fara dengan nada suara yang lembut.
" pulanglah " jawabnya dengan nada datar, padahal sedari tadi aryan sedang memikirkan kata yang pantas untuk di ungkapkan.
" ma... maksud saya bisa buka pintunya ?" pinta fara dengan sangat hati hati melihat wajah aryan yang sangat serius, seakan aryan tidak mendengar permintaan fara. rasanya ingin sekali fara mematikan mesin mobilnya lalu membuka pintu mobil dan segera keluar. tapi itu hanya pikirnya saja.
dan ternyata aryan membuka pintu mobilnya lalu fara segera keluar dari mobil itu, dan di susul oleh aryan
mereka berdiri tepat di depan mobil dengan cahaya lampu yang menyorot, membuat dua bayangan sedang berdiri saling berhadapan.
__ADS_1
aryan berdiri saling berhadapan, lalu ia memasukan kedua tangan nya kedalam saku celana jeansnya.
" bisakah kita tidak berbicara dengan bahasa formal jika sedang berdua ?" pinta aryan, dan dianggungakan oleh fara.
" fara, terima kasih selama ini kamu sudah bekerja sangat baik denganku, kau sangat tahu sifatku, keinginanku, dan juga semuanya termasuk keluargaku, bisakah aku meminta sesuatu ?"
" jika saya mampu pasti saya berikan untuk bapak " jawab fara, aryan pun mengangguk santai.
" bisakah kau memikirkannya untukku ?"
" apa itu ?" fara balik bertanya.
" menikahlah denganku, ini permintaanku yang terakhir kalinya, kau tidak perlu menjawabnya sekarang, aku akan menunggu lagi " ungkap aryan. kali ini ia akan menunggu jawaban fara. mereka masih mematung di tempat masing masing, lama terdiam akhirnya aryan memutuskan untuk pulang, karena fara tidak berbicara sama sekali.
dengan langkah yang lemas ia berjalan menuju mobilnya ada rasa kecewa dihatinya saat fara hanya terdiam dan tidak membalas kata kata sama sekali.
" jika bapak rasa aku pantas dengan bapak, aku akan bersedia " sahut fara. lalu ia pergi meninggalkan aryan sendirian. betapa bahagianya aryan mendengar jawaban fara. meski sebenarnya di dalam hati aryan belum sepenuhnya tumbuh rasa cinta, tapi demi niatnya mungkin lambat laun cinta akan tumbuh dengan sendirinya.
aryan masih setia berdiri bersandar di mobilnya sampai lampu kamar fara mati, dirasa fara sudah mematikan lampunya barulah ia pulang.
sedangkan fara kembali menyalakan lampu kamarnya dan melihat keluar, dilihatnya aryan sudah tidak ada fara mendudukan tubuhnya kasar ke atas kasur, ia melamun pikiran nya menerawang jauh, tiba tiba ingatannya tertuju pada nino.
nino yang dulu berjanji akan menikahinya kini hanya tinggal cerita, nino lebih memilih harta kenyataannya di banding kesetiaan. tanpa sadar fara menjatuhkan air matanya.
" kini kamu sudah menempuh jalanmu, dan sekarang biarlah aku menempuh jalanku sendiri nino " lirih fara dengan air mata berjatuhan membasahi pipinya.
__ADS_1
dan malam itu menjadi saksi kalau bahwa fara telah benar benar menerima lamaran aryan.
saat aryan pulang, ia merasa ada yang aneh di rumah orang tuanya, kenapa sudah selarut ini lampu masih saja menyala, biasanya jam jam seperti ini keluarganya sudah masuk ke kamarnya masing masing.
aryan melangkahkan kakinya menuju ruang tengah, dilihatnya semua anggota keluarga masih berbincang bincang. aryan mengerutkan dahinya dan menghampiri mereka.
" kenapa kalian belum istirahat ?" tanya aryan
" kami masih menunggu kepulanganmu nak " ibu lebih dulu menjawab lalu menghampiri anak sulungnya yang masih berdiri mematung.
" katakan anakku, kenapa kau pulang mengantarkan seorang gadis sampai selarut ini ?"
" maaf ibu, tadi aryan.. aryan menjeda ucapan nya lalu melirik ke arah adik dan adik sepupunya yang menatapnya intens seolah meminta jawaban.
" aryan tadi mengantar fara dan.........
" dan apa nak hemm " ibu pun tak kalah penasaran, padahal ia sudah tahu dari farhan.
" fara bersedia menikah dengan aryan bu " akhirnya aryan jujur. lalu ibunya memeluk aryan dengan erat, begitupun dengan yang lainnya sangat bahagia dan berpelukan satu sama lain, tapi lain halnya dengan nino yang tiba tiba wajahnya tertunduk lesu.
" kakak ipar, pokoknya fara harus tinggal di rumahku " ucap adik tuan ahmed dengan begitu bahagianya.
" baiklah aku setuju denganmu adikku, "..
" farhan, kriti secepatnya kita akan pulang bersama pengantin perempuan "
__ADS_1
" siap ibu " sahut kriti dan farhan secara bersamaan.