
hamari adhuri kahani mungkin lagu itu mewakili perasaan Fara saat ini.
malam itu Fara berjalan sendirian menyusuri setiap jalan raya yang sudah sepi. pikirannya menerawang jauh jika mengingat kembali kejadian bagaimana Aryan mengusirnya.
secepat itukah cintanya kandas di tengah jalan, padahal Fara sudah tahu kejadian ini akan terjadi karena dulu mereka menikah tanpa di dasari rasa cinta satu sama lain meskipun pada akhirnya cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu.
di tengah ia sedang berperang dengan pikirannya tiba tiba klakson mobil mengejutkannya dan menghentikan langkah fara.
ia menoleh kebelakang bertepatan dengan berhentinya mobil. tampak seseorang keluar dari mobil dan wajah itu tak asing bagi Fara.
" far tunggu....." teriak seseorang yang tak lain ialah Nino. sementara Fara terus berjalan sampai Nino harus menahan tangan Fara
" ada apa kau kemari ?" tanya Fara
" aku akan mengantarmu "
" terima kasih, kau tak perlu repot repot saku bisa pergi sendiri urusi saja keluargamu " sahut Fara
" tolong far, ini sudah malam tidak baik untukmu "
" aku tidak peduli meskipun aku mati "
" please, jangan keras kepala ayolah aku akan mengantarmu ke rumah bibi "
sekilas Fara melirik ke arah nino, Nino ada benarnya juga hari sudah malam tidak mungkin ia berjalan sendirian.
sesampainya di rumah bibi, Nino mengetuk pintu dan kebetulan yang membuka Kriti.
" kakak ipar, kalian .....?"
" boleh kami masuk Kriti ?" tanya Nino. dan Kriti pun menganggukan kepalanya.
" kalian duduklah dulu aku akan panggilkan ibu dan juga Farhan " ucap kriti. Fara dan Nino duduk di ruang keluarga dan tak lama bibi juga Farhan turun ke bawah untuk menemui Fara dan juga Nino.
bibi yang sudah lama tak bertemu Fara menghamburkan memeluk fara.
" bibi maafkan aku....." lirih Fara yang menangis di pelukan sang bibi yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
" tenangkan dirimu nak, ibumu selalu ada untukmu "
setelah itu mereka duduk dan berbicara tentang semua apa yang menimpa Fara, dan itu membuat Kriti dan juga Farhan sangat kaget di buatnya, begitu juga dengan bibi.
karena malam sudah semakin larut, akhirnya Nino pamit untuk pulang dan menitipkan Fara untuk bermalam disini.
bibi menyuruh Kriti untuk mengantar Fara ke kamarnya, ia tak mau terburu buru untuk berbicara mengenai perihal rumahtangga nya.
mungkin besok aku akan bicara dengannya gumam bibi sambil memperhatikan kepergian Fara dan Kriti.
" jika kakak butuh apa apa panggil saja aku "
__ADS_1
" terima kasih Kriti " lirih Fara.
" aku percaya padamu kak, kau tidak mungkin melakukan hal yang tidak baik ".
" terima kasih kau sudah percaya padaku"
" kakak istirahat saja dulu, jangan banyak pikiran ya kak " ucap kriti, Fara pun hanya mengangguk.
setelah itu Kriti meninggalkan Fara di kamarnya, lalu ia segera pergi ke kamar Farhan.
" Farhan, apa kau sibuk ?" Kriti membuka pintu kamar Farhan dan ia melihat kakak laki lakinya sedang berkutat dengan laptopnya.
" tidak, masuklah " sahut Farhan. Kriti pun masuk dan ia duduk sembarangan di kasur kakaknya.
" Farhan ....."
" hmm"
" kau merasa ada sesuatu tidak di antara mereka ?"
" maksudmu kak Aryan dan kakak ipar ?"
" iya siapa lagi ..."
" ya mungkin saja ".
" Farhan, apa kau tidak mau bantu mereka gitu?" Kriti bertanya dengan sangat hati hati pada Farhan, karena ia tahu sifat Farhan yang tak suka ikut campur urusan orang.
" Kriti Naaz, mereka itu sudah berumah tangga jadi itu urusan mereka, buat apa kita ikut campur " sergah Farhan
" tapi aku rasa ini serasa janggal " timpal Kriti.
" sudahlah, kenapa kita harus ikut ikutan pusing dengan masalah mereka"
" huh, kau ini selalu saja " cebik Kriti.
" Kriti ini kan sudah malam, sebaiknya pergi tidur "
" huh, tapi janji ya jika ada apa apa kau harus bantu "
" sudah sudah pergilah ...".
*******************
sudah satu Minggu Fara berada di rumah bibi, ia sering mengurung dirinya di kamar, bahkan ia tak mau sedikitpun berbagi masalah dengan bibi maupun Kriti dan juga Farhan.
bibi sebenarnya sangat mengkhawatirkan keadaan Fara, dan ia mencoba untuk bertanya akan tetapi Fara hanya menjawab baik baik saja.
setiap malam Fara sering sekali mengigau menyebut nama reema dan juga ibu, diam diam bibi masuk ke kamar dan mengecek keadaan Fara. dan rupanya Fara demam tinggi.
__ADS_1
bibi menangis melihat kondisi Fara saat ini yang sangat tersiksa karena harus terpisah dari anak dan suaminya.
bibi keluar dari kamar Fara dan segera memanggil anak anaknya untuk berbicara. mereka duduk di ruang tamu.
" ada apa ibu malam malam memanggil kita ?" tanya Farhan yang keheranan, tidak biasanya ibunya mengajak mereka untuk berbicara kecuali hal yang sangat serius.
" kenapa ibu menangis Bu, apa ada sesuatu dengan ibu, apa ibu sakit?" giliran Kriti bertanya dengan raut wajah yang khawatir karena melihat ibunya yang terus berurai air mata.
" Farhan, Kriti kalian pergilah ke Mumbai " lirih ibu dengan nada yang memelas
" tapi ada apa Bu, apa bibi sedang ada masalah ?" Kriti bertanya dengan nada yang sangat heran.
" ibu yakin, kakakmu sedang tidak baik baik saja. bantulah dia kalau bisa bawalah reema kemari " ujar ibu. farhan dan Kriti hanya bisa saling pandang.
" baiklah Bu Farhan akan pergi besok "
" aku ikut ya "
" kau disini temani ibu dan juga kakak ipar " ujar Farhan.
" tapi ....... ".
" kalian pergilah, minta bantuan Varun jika perlu"
" kak varun ?" kedua anak itu serempak menjawab.
Keesokan harinya Kriti dan juga Farhan pamit pada ibunya untuk pergi ke Mumbai, diam diam Fara melihatnya dari jendela.
hatinya yang rapuh membuatnya kini sangat tidak peduli dengan siapapun, yang ia butuhkan saat ini hanya reema anaknya.
setelah itu bibi menaiki lantai atas untuk menemui Fara, ia membawa segelas susu hangat dan juga roti paratta dan semangkuk kecil kuah kari.
Fara masih saja berbaring dengan posisi meringkuk dengan berbantalkan tangan. bulir bulir air mata masih berjatuhan membasahi bantal.
" bangunlah nak, ibu membawakan sarapan untukmu " suara bibi yang melemah mengingatkan ia pada mertuanya.
Fara perlahan bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang. bibi pun membantu memposisikan Fara supaya nyaman.
" makanlah, sudah beberapa hari ini kau tidak makan "
" aku tidak lapar bi " sahut Fara dengan suara yang parau. perlahan bibi mengambil jari jari tangan Fara dan menggenggamnya dengan penuh kasih sayang.
" ibu bisa merasakan apa yang kamu rasakan, pasti itu terasa sakit. tapi, jika kau terus seperti ini bagaimana kau bisa melanjutkan hidupmu? ingat nak, kau tidak boleh lemah, semua perempuan membutuhkan keadilan. jika kau tidak melakukan kesalahan maka kau patut untuk berargumen dan memenangkan apa yang sudah menjadi hak mu " ungkap bibi panjang lebar memberi nasihat pada Fara.
kala itu fara menangis dalam pelukan sang bibi, perkataan bibi barusan benar juga ia tidak pernah melakukan kesalahan selama ini, jadi ia pantas untuk mendapatkan keadilan.
" terima kasih ibu, kau sudah sangat berjasa karena selalu ada di saat aku jatuh " ucap fara.
" sekarang makanlah, kau membutuhkan banyak tenaga "
__ADS_1
" iya Bu aku akan makan " ucap Fara dengan semangat mengambil piring dan makan dengan lahapnya.
bibi benar, aku harus bangkit aku harus mengambil kembali apa yang sudah jadi hak ku , reema tunggu ibu nak ibu akan datang padamu gumam fara.