
hari ini semua orang sedang sibuk mempersiapkan kembalinya tuan dan nyonya besar rumah ini, najma, Fara dan juga Kriti sedang sibuk menghias rumah, sedangkan para pelayan sibuk memasak ada juga yang menghias meja makan.
sementara farhan bertugas untuk menjemput di bandara, setelah persiapan hampir selesai para wanita pergi ke kamarnya masing masing untuk mandi dan berganti pakaian.
faradilla Aryan syeikh
najma Ahmed syeikh
Kriti Naaz
pukul 07:00 sebuah mobil Ferrari parkir di depan halaman yang luas, para pelayan laki laki bergegas keluar menuju halaman dan menolong Farhan membukakan pintu dan mengambil barang barang di bagasi.
raut wajah sepasang suami istri paruh baya itu tersenyum tatkala mereka melihat rumah yang mereka rindukan selama di negeri orang.
Farhan mengajak mereka untuk masuk, sementara anak menantu mereka tak sabar untuk menunggu kedatangan orang tuanya.
satu persatu dari aryan sampai najma bersalaman dan berpelukan dengan ibu dan ayahnya.
setelah itu mereka makan malam bersama dengan suka cita.setelah makan malam keluarga Ahmed berkumpul di ruang keluarga.
" bagaimana kabar ayah dan ibu selama di sana?" tanya Aryan.
" kami baik baik saja nak, bagaimana kabar kalian juga saat kami tidak ada ?" tanya baalik sang ibu dengan senyuman yang tak lepas di bibirnya.
" kami baik baik di sini ibu, ibu bagaimana kalau ibu istirahat sekarang " sahut najma.
" kau betul sekali nak, ibu dan ayah sepertinya sangat lelah " ujar nyonya Ahmed.
" mari ibu ayah najma antar ke kamar " najma berdiri dan membantu ibunya untuk naik ke kamarnya begitu pun dengan Aryan yang membantu ayahnya.
kedua kakak beradik itu sangat kompak kalau mengenai orang tuanya. Fara yang melihatnya tersenyum, ia merasa bangga memiliki suami dan adik ipar seperhatian mereka.
saat di dalam kamar, najma pamit ke dapur untuk mengambikan minum pada Aryan dan Aryan pun mengangguk.
" Aryan,....." panggil ayah.
" ya ayah " sahut Aryan mendekati ayahnya yang sedang duduk di atas kasur.
__ADS_1
" apa istrimu sudah ada tanda tanda hamil nak, kau kan tahu ayah dan ibu sudah tak lagi muda, kita sudah sangat ingin menimang cucu " ujar tuan ahmed, ia sangat mengharapkan kehadiran cucu di rumah ini.
" ayah, ayah tenang saja mungkin satu atau dua bulan lagi Fara pasti akan hamil " jawab Aryan
" ya ayah pun berharap begitu "
" baiklah ayah sekarang ayah istirahat, Aryan keluar dulu "
" hmm "
Aryan keluar dari kamar orangtuanya sambil mengusap kasar wajahnya, bagi aryan permintaan orangtuanya sedikit agak memberatkan baginya.
setelah itu ia masuk ke kamar, disana ia mendapati Fara yang sedang membaca buku, Aryan merangkak naik ke atas kasur mendekati istrinya.
" apa ayah dan ibu sudah istirahat ?" tanya Fara tanpa melihat ke arah suaminya, ia hanya fokus pada lembar demi lembar buku yang ia baca.
" hmmm " jawab Aryan singkat.
" ya sudah kau juga istirahat, besok kan harus berangkat pagi ke kantor "
" apa kau bisa temani aku besok ? "
" ke kantor maksudnya ?" Fara balik bertanya menghadapkan wajahnya ke suaminya.
" tapi besok di rumah ini akan ada perayaan kepulangan ayah dan ibu "
" itu kan bisa di lakukan siang, besok aku masuk setengah hari " ujar Aryan.
" emm, baiklah. tapi..... kenapa kamu tiba tiba ingin di temani gak biasanya"
" aku hanya sedang tidak mau jauh dari istriku "
ucap Aryan menarik pinggang Fara tiba tiba membuat Fara refleks mencium bibir suaminya.
mereka terdiam dan saling pandang satu sama lain dengan jarak yang sangat dekat. setelah itu Fara tersadar dan melepaskan lingkaran tangan Aryan dari pinggang rampingnya.
" hey kenapa kau tiba tiba menciumku ?"
" siapa yang menciumu, kau duluan yang memeluku tiba tiba " gerutu Fara
" terus kenapa wajahmu itu memerarah ?" Aryan terkekeh melihat perubahan wajah istrinya yang tampak begitu menggemaskan.
menyebalkan sekali dia gumam Fara sambil mengapit kedua pipinya.
__ADS_1
" cepatlah tidur, ini sudah malam ! " perintah Fara
" kenapa harus secepat itu, apa kita tidak melakukan ritual malam dulu " ucap aryan, ia mendekatkan wajahnya sedaangkan Fara semakin menjauh takut akan Aryan meminta lebih padanya, pasalnya hampir tiap malam Aryan meminta jatah pada istrinya itu.
" ma.... maksudmu apa, aku... tidak mengerti " ucap Fara gelagapan.
" ritual malam itu seperti....... " Aryan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya sehingga Fara semakin terpojok.
" stop......! aku tidak bisa, aku sangat lelah " Fara membekam bibir Aryan dengan tangannya, sedangkan Aryan mengerutkan dahinya, dalam pikiran Aryan mungkin ritual yang di maksud Fara ialah hal yang selalu mereka lakukan setiap malamnya.
Aryan menyentil dahi Fara, dan Fara pun mengaduh kesakitan, Aryan bangun menarik Fara supaya mengikutinya kemana ia pergi.
dengan hati yang masih bertanya tanya Fara mengikuti langkah suaminya.
Aryan melihat cahaya bulan dari jendela kamarnya yang masih terbuka, cahaya bulan yang terang membuat malam semakin indah dengan semilir angin yang meniup masuk ke ruangan.
Aryan mengangkat satu tangannya untuk berdo'a, lalu ia melengkapi tangan satunya dengan tangan fara. sedangkan Fara hanya terdiam memandang dan membiarkan apa yang sedang suaminya lakukan.
Aryan memejamakan matanya dan memulai untuk berdo'a, dalam keheningan Fara tak lepas memandang wajah suaminya yang begitu tampan dan bercahaya karena pantulan cahaya bulan. setelah selesai berdoa ia mengusap wajahnya lalu meniup kening istrinya dan mengusapkan tangan mereka ke wajah Fara.
Aryan pun mencium kening Fara dengan mesranya.sedang Fara hanya tersenyum, Aryan memandang wajah istrinya dengan penuh cinta.
" Pati...... "
" hmmm "
" apa yang baru saja kau panjatkan ?"
" keutuhan " jawab Aryan singkat, dengan mata yang tak lepas memandang wajah cantik istrinya.
" keutuhan....?" Fara mengerutkan dahinya, sepertinya ia meminta penjelasan lebih dari suaminya apa yang di maksud keutuhan, dan Aryan pun menyadari itu.
" keutuhan cinta kita, aku berdoa semoga sampai kita menua cinta kita akan tetap utuh, dan tak ada kata perpisahan " bisik Aryan.
" jadi, sejak kapan kau mulai mencintaiku ?"
" sejak kita jalan jalan di Mumbai, sejak saat itu aku mulai mencintaimu, mencintai hatimu yang begitu cantik dan sejak saat itu pula aku menjadi tergila gila padamu " ujar Aryan yang tak ingin sedetikpun malam ini pandangannya teralihkan pada yang lain, ia hanya memandang istrinya saja.
Fara memalingkan wajahnya dengan senyum yang manis, ia benar benar sangat bahagia dengan apa yang suaminya ungkapkan barusan.
lalu Fara kembali menatap suaminya dan memberanikan diri untuk mengecup pipi aryan, Aryan yang mendapat perlakuan yang tak biasa dari istrinya merasa sangat bahagia.
" terima kasih sudah mencintaiku, meree Pati "
__ADS_1
" tak usah berterima kasih, karena kau pantas untuk di cintai meree patnee " sahut Aryan sambil membalas ciuman dari istrinya.