MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Sang penakluk hati


__ADS_3

Mataku terbelalak seakan tak percaya bahwa orang di depanku itu adalah angkasa. Dia tersenyum dan mengedipkan matanya ke arahku. Wahda yang melihatku bengong, sontak mengagetkanku.


“ zahra, kamu kenapa? Kamu kenal dengan Kak Angkasa?” Dia menyerbuku dengan pertanyaan.


“ ooooh, iyya aku kenal sih tapi baru sehari”.


Pembukaan Masa orientasi berlangsung dengan lancar. Ternyata Angkasa terkenal sebagai Sang Penakluk hati. Ya itu menurut informasi yang kudengar dari para senior wanita. Mereka tertawa cekikikan ketika melihat ke arah angkasa.


“Hmmm. Apa istimewanya pria aneh itu!! Tampan sih tapi tetap saja dia orang yang super ngeselin” gumamku.


Ditengah acara, tiba-tiba seorang meraih pengeras suara. Yaa siapa lagi. Kalo bukan Angkasa. Aku berusaha untuk pura-pura tidak melihatnya, bahkan aku menarik tangan zahra untuk menemaniku ke toilet.. namun belum sempat aku berbalik..


“ zahra! Kamu tetap di tempatmu” terdengar lantang dari pengeras suara. Aku yang mendengar itu semakin salah tingkah. Mau apa lagi dia,?


“ kali ini aku ANGKASA akan memberikan pengumuman penting, kuharap kalian mendengarkannya dengan baik” dia berhenti sejenak mengundang reaksi mahasiswa yang lain yang mulai berbisik bisik.


“ pertama. Aku sebagai ketua panitia masa orientasi mahasiswa baru meminta untuk semua mahasiswa baru untuk mencari tanda tangan 3 mahasiswa terbaik kampus kita ini. Adapun hadiahnya masih di rahasiakan.”


“ siapa mahasiswa terbaik kampus ini? Zahra apakah kamu tahu?” Tanya Wahda kepadaku, sepertinya dia tertarik akan hal itu. Terlihat dari sorot matanya dia seperti sedang serius berfikir.


“ mana aku tahu. Aku saja baru 2 hari berada di kampus ini. Coba tanya sama geogle yuk” wahda hanya menggeleng geleng mendengar jawabanku itu.


“ pengumuman kedua, dan ini yang paling penting. Saat ini calon istriku, sedang berada di tengah-tengah kalian.” Dia memotong ucapannya


“ pengumuman macam apa ini. Ini kan masa orientasi. Bukannya acara keluarga,, segitu berpengaruhnya kah dirinya di tempat ini? “ gerutuku kesal.


“Dan calon istriku itu adalah zahra. Saya harap teman sekalian memperhatikannya sebagai calon menantu dari pemilik universitas ini”


Hah... pemilik universitas. Pantas saja angkasa begitu di kagumi di kalangan kaum hawa. Selain tanpan ternyata dia berduit juga. Tapi itu tidak berlaku untukku. Bagiku Angkasa tetap pria Aneh yang selalu mengusiliku. Di barisan panitia kulihar Widia melotot marah kepadaku. Seakan tidak rela aku yang di pilih Angkasa untuk menjadi calon istrinya.


Lagian untuk apa mengumumkan hal itu di depan umum. Membuatku semakin malu saja.


“Zahra. Mulai akting kita. “” bisik angkasa di telingaku sempat mengagetkanku. Terlebih lagi dia meraih tanganku dan membawaku ke depan mahasiswa lain. Mukaku terasa hangat dan memerah. Wahda yang melihat itu, hanya bisa melihatku tanpa berkata apa-apa.


“Dia memperkenalkanku ke semua orang apakah harus sampai segitunya kalau mau memutuskan perjodohannya denga Widia” gumamku dalam hati. Aku semakin salah tingkah ketika angkasa menggandengku menuju kantin. Semua mata tertuju padaku, menyiratkan kalau mereka tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Terlebih lagi para mahasiswa yang natabene lebih cantik dariku, mereka mungkin heran bagaimana mungkin Angkasa memiliki seorang calon istri sepertiku. Seorang wanita sederhana, itu bisa dilihat dari apa yang aku kenakan sangat berbeda dengan Angkasa layaknya jarak Langit dan bumi.


“ zahra, kamu mau makan apa?”


“ terserah kamu aja” jawabku masih kesal dengan apa yang barusan terjadi.


“ mau makan bakso?” Tanyanya kembali


“ aku bilang kan terserah.apakah kamu tidak punya telinga ?!” Jawabku kasar.


“Setahuku tidak ada makanan yang namanya TERSERAH” dia semakin memancing emosiku. Segera kakiku bertindak, aku menginjak kakinya dengan kasar..


“ awwww sakit. Aaampuun. Iya aku hanya bercanda” katanya sambil mengatupkan kedua tangannya. Aku yang melihat itu hanya tersenyum puas.


“ kami pesan dua mangkok bakso, dua es teh” katanya ke ibu kantin. Aku yang mendengar itu. Seakan tidak percaya seorang pria tajir sepertinya suka makan bakso sepertiku . Dia yang melihatku terus menatapnya, seakan tahu dengan apa yang kupikirkan.


“kamu tidak perlu heran. BAKSO memang daridulu adalah makanan favoritku. Kami melangkah ke meja kantin untuk duduk dan menunggu pesanan kami. Sesorang kulihat melangkah terburu-buru ke arah kami, dari raut wajahnya dia sepertinya sangat marah.


“ Angkasa, apa maksud ucapanmu tadi?!” Tanya widia kepada angkasa tanpa basa basi


“ apakah ucapanku tadi kurang jelas? Aku sudah memiliki calon istri. Jadi ku minta tidak perlu kau buang tenagamu untuk terus mendekatiku!l”


“ tapi orang tua kita kan sudah menjodohkan kita?”


“ yang akan menjalani kan aku. Jadi aku berhak memutuskan siapa yang aku pilih untuk mendampingiku!” Kata angkasa. Aku menutup telinga dengan apa yang terjadi di depanku itu. Kuhampiri mangkok bakso dan melahapnya.


“ lagian apa istimewanya perempuan ini dariku? Apakah matamu tidak bisa membedakan itu” ucap Widia lagi


“Itu bukan urusanmu. Kamu bisa mencari lelakii lain yang lebih sempurna dan lebih baik dariku!”


“ tapi aku cinta sama kamu!” Ucap widia dan semakin mendekati Angkasa hendak memeluknya. Angkasa secepat kilat mundur, menghindari itu. kulihat widia mulai meneteskan air mata.


“ sekarang lebih baik, kamu pergi dari hadapnku. Sebelum emosiku meledak!!!” Bentak Angkasa. Spontan Widia mengarahkannya pandangannya kepadaku. Aku yang melihat itu merasa biasa biasa saja sembari tersenyum ke arahnya. Dia menatapku tajam, setajam silet. Aku hanya melahap kembali makanan di depanku tanpa memperdulikannya. Ku dengar langkah kakinya semakin menjauh.


“ zahra, makananku mana?” Tanya Angkasa menyadarkanku. Ya sedari tadi aku tidak sadar kalau aku sudah melahap dua mangkok bakso sekaligus. Mungkin saja karena di sajikan sebuah drama yang menegangkan tadi.

__ADS_1


“ sudah kumakan. Siapa suruh dari tadi hanya berantem dengan si Widia.” Jawabku ringan tanpa rasa bersalah. Mendengar jawabanku itu. Angkasa sempat kulihat tersenyum. Mungkin dia merasa cukup lucu dengan tingkahku itu. Dia pun kembali memesan untuknya.


“ kamu mau nambah” tanyanya.


“ aku sudah kenyang”


Dia pikir perutku ini karet. Mampu menampung makanan sebanyak itu? Dua gelas es teh, dua mangkok bakso telah raib aku lahap membuat aku merasa sesak karena kekenyangan.


“ zahra. Ini tasmu ketinggalan.” Wahda datang menghampiriku dan menyerahkan tas ungu muda milikku. Memang tadi aku tidak sempat mengambilnya di tempat orientasi karena Angkasa terus menggandengku meninggalkan tempat itu.


“ makasih wahda. Kamu sudah mau pulang?” Tanyaku.


“ iya. Kamu juga.... “ dia tidak melanjutkan ucapannya karena menyadari Angkasa ada di sana.


“ ya sudah, aku duluan yah” ucapnya dan berlalu meninggalkan kami.


Angkasa kemudian mengajakku pulang. Lagi lagi aku bertemu widia di parkiran. Dia terus menatapku dengan pandangan tak bersahabat. Aku hanya diam. Dan sama sekali tidak meresponnya. Mobil angkasa melesat cepat meninggalkan Universitas Angkasa Wijaya. Angkasa membawaku kesebuah pusat perbelanjaan. Kali ini dia menbawaku ke toko perhiasan.


“ tolong perlihatkan cincin pasangan yang cocok dengan kami berdua.! “ ucap angkasa ke pemilik toko.


“ baik pak. Tunggu sebentar yah!” Dia pun berbalik dan mengambil sepasang cincin untuk kami. Angkasa meraih tanganku dan mencoba untuk memasang cincin di jari manisku. Sepertinya cincin itu cocok untukku begitupun dengan angkasa. Kulihat harga di nota pembelian. Harganya yang fantastic. Seratus dua puluh lima juta untuk sepasang cincin yang kami kenakan saat ini. Aku menghela nafas panjang keluar menuju mobil.


“ untuk apa. Kamu membeli perhiasan semahal ini untukku?” Tanyaku begitu duduk di atas mobil.


“ hanya sebagai simbol bahwa kita benar- benar sepasang kekasih” ucapnya tersenyum.


Pasangan kekasih dari mana? Kita kan hanya pasangan kontrak. Lagian dia bisa saja membeli perhiasan imitasi untukku kalau hanya digunakan untuk simbol itu. Dasar laki laki aneh. Gerutuku dalam hati.


Sepanjang perjalanan pulang, dia terus berusah bersikap baik padaku. Mungkin demi melancarkan rencananya itu. Aku hanya duduk diam tak bergeming. Sesekali dia menatapku. Kemudian menyalakan musik.


Dengarkanlah wanita pujaanku


Malam ini akan kusampaikan


Hasrat suci kepadamu dewiku


Dengarkanlah kesungguhan ini


Tuk yang pertama dan terakhir


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Dengarkanlah wanita impianku


Malam ini akan kusampaikan


Janji suci satu untuk selamanya


Dengarkanlah kesungguhan ini.


Alunan lagu itu terdengar indah. Andai saja itu adalah suara hati Angkasa. Degggg, aku mulai membayangkan yang tidak semestinya. Sadar zahra kamu itu hanya calon istri kontrak. Tidak lebih, jangan terlalu berharap banyak kepada Angkasa. Aku berusaha menepis pikiranku itu. Tak terasa kami tiba di depan rumahku. Terlihat dari jauh sebuah mobil mewah terparkir.


“ mobil siapa itu? Tumben. Apakah itu tamu nenek? Ahh, tidak mungkin. Sejauh ini tidak ada mobil seperti itu yang berkunjung kemari” ucapku pelan namun mungkin masih sempat terdengar oleh Angkasa.


” Kamu kenapa komat-kamit begitu? Lagi baca mantra? Agar aku jatuh cinta padamu?”


“Ciiiiihhhh. Jangan ke-pede-an. Aku cuma heran mobil siapa itu” ucapku sambil menunjuk ke arah mobil itu.


“ oooh. Itu mobil papa mamaku” jawabnya ringan.


“ haaaaahhh? Papa mamamu? Untuk apa mereka ke sini? Dari mana dia tahu alamat rumahku?”


“ dari bisik angin!! Yaa dari aku lah”

__ADS_1


“Aku tidak bercanda Angkasa, aku serius.” Ucapku padanya.


“ aku juga serius, mungkin mereka ke sini untuk membicarakan pernikahan kita” ucapannya itu begitu mengagetkanku.


“ kamu bercanda kan?”


” Apa mukaku ini kelihatan sedang bercanda? Lebih baik kita masuk dulu” ucapnya sembari menarik tanganku masuk ke rumah. Hmm, semakin aneh saja orang ini. Aku yang punya rumah, malah dia yang bertindak sebagai pemilik rumah.


“ ini rumahku yah. Tanpa kau suruh pun aku pasti akan masuk”


“ Ya, sebentar lagi rumah ini akan jadi rumahku juga.”


“ maksud kamu apa?!” Dia tak menjawabku. Dia mendahuluiku masuk ke dalam rumah. Aku menghembuskan nafas berat. Namun mengikutinya masuk. Saat sampai di ruang tamu. Kulihat Tante Elisa dan Om Agus sedang berbincang dengan nenek, kelihatannya sangat serius.


“ Assalamualaikum” ucap kami bersamaan. Mereka yang sedang berbincang memutar pandanga ke arah kami.


“ tepat sekali kalian sudah datang. Kami sedang membicarakan tanggal pernikahanmu?”


“Tanggal pernikahan?!!!” Pekik kami kemudian saling pandang tak mengerti.


“ ya, tanggal pernikahanmu. Ternyata kamu cucunya bu Hana? Ini pertanda baik” ucap om agus sambil menatapku.


Aku semakin tidak mengerti. Apakah mereka saling mengenal?? Kuberanikan diriku untuk bertanya.


“Maaf om. Om kenal dengan nenek saya?


“Oh tentu saja aku sangat mengenalnya, dia adalah sahabat dari almarhum ibu saya. Dia juga yang telah mendonorkan ginjalnya untuk saya. Aku berhutang nyawa padanya”


Lagi-lagi aku semakin bingung dibuatnya. Donor ginjal? Jadi selama ini nenek sering mengeluh sakit perut karena itu?. Apa lagi ini?? Aku semakin tak kuat berdiri, seketika pandanganku memudar. Dan aku pun ambruk....


Perlahan aku membuka mataku. Kini aku sudah berada di kamar tempat tidurku. Kini kulihat nenek menatap cemas ke arahku.


“ kamu kenapa nak? Bagaimana perasaanmu. Sudah agak baikan?” Aku mengangguk pelan.


” zahra. Maafkan nenek, karena tidak memberi tahumu dari awal. Itu karena nenek takut, kamu akan mengkhawatirkan nenek nantinya” katanya sambil tertunduk. Aku tidah tahu harus mengucapkan apa. Lidahku seakan kelu, aku bisu saat itu. Hanya air mata yang mampu berbicara. Aku pun meraih pundak nenek dan memeluknya..


“ maafkan om zahra, aku tidak tahu ucapan om tadi membuatmu seperti ini” ucap om Agus.


“ tidak apa-apa om. Om tidak salah, aku hanya sedikit shock saja” ucapku sembari tersenyum ke om agus.


“ aku bersyukur di pertemukan kembali dengan bu hana. Dan ternyata sebentar lagi kita akan menjadi sebuah keluarga” ucapnya sembari tersenyum ke arah Angkasa.


“ tante harap, kamu jaga kesehatan zahra. Tiga hari kemudian kalian akan melangsungkan pernikahan. Lebih cepat lebih baik.”


Aku hanya dapat tertunduk lesu. Sejurus kemudian mereka meninggalkan kamarku. Hanya Angkasa yang masih berdiri mematung, entah apa yang akan diucapkannya. Dia berjalan ke arahku.


“ zahra. Aku minta maaf aku sudah membawamu semakin jauh ke dalam masalahku. Dan sekarang orang tua kita akan menikahkan kita. Tapi percayalah, aku tidak tahu kalau mereka akan bertindak sejauh ini”


Aku hanya terus terisak dan meneteskan air mata. Sebentar lagi aku akan menikah, tapi bukan pernikahan yang kuimpi-impikan. Menikah dengan orang yang sama sekali tidak kucintai dan mencintaiku. Pernikahan macam apa ini? Lantas bagaimana dengan masa depanku? Kuliahku. Tapi semua demi nenek, setidaknya aku masih bisa membahagiakan nenek dengan menyetujui pernikahan ini.


“ zahra, kalau memang kamu tidak setuju dengan pernikahan ini. Aku bisa saja membatalkannya” ucapnya sembari ingin melangkah meninggalkanku. Namun kuraih tangannya semampuku.


“ kak angkasa, aku memang tidak menginginkan pernikahan ini. Namun aku lebih tidak ingin melihat orang tuamu dan nenekku bersedih karena hal ini. Karena itu aku bersedia menikah denganmu.” Ucapku.


“Tapi bagaimana mungkin zahra? Kamu tidak mencintaiku. Kita baru saja saling mengenal. Bagaimana dengan hatimu. Saya yakin kamu sudah memiliki seseorang di hatimu!” Kuhela nafas panjang mendengar ucapan Angkasa. Kuingat satu nama yang memang telah mengisi hatiku sejak dulu.


“ aku memang pernah mencintai seseorang namun dia bukan untukku. Akupun tidak mungkin terus menginginkannya karena dia cinta sahabatku” aku mencoba terbuka ke Angkasa. Bagaimanapun dia harus mengetahui hal ini.


“ namun aku sudah berusaha mengubur dalam-dalam rasaku itu. Aku akan mencoba menata kembali hatiku. Membuka lembaran baru demi kebahagiaan nenek” ucapku menatap Angkasa.


“ lantas bagaimana denganmu? Apakah ini yang kamu inginkan?” Tanyaku kemudian.


“ apa-pun demi kebahagiaan orang tuaku.” Jawabnya singkat. Ternyata dia anak yang cukup berbakti kepada orang tuanya.


“ lantas kenapa kau tidak menerima perjodohanmu dengan Widia?!” Aku mencoba mencari tahu.


” Hmmm, itu cerita lama. Aku memang tidak tertarik dengan wanita seperti widia”


“ widia gadis cantik, kaya raya, dari keluarga terpandang. Apa kurangnya dia?”

__ADS_1


“ suatu saat kamu akan mengetahuinya sendiri zahra. Sekarang lebih baik kita fokus dengan rencana pernikahan kita. Kita ikuti saja permintaan mereka, aku sudah tidak bisa lagi memikirkan apa-apa. Tapi kamu jangan berfikir aku sudah jatuh cinta padamu yah!!”


“ kamu pasti akan jatuh cinta padaku. Aku kan cukup cantik.” Jiwa percaya diriku meledak sontak membuat Angkasa terbawa terbahak-bahak kemudian kembali memandangku dengan tatapan yang sulit kutafsirkan. Dia memang sangat tampan. Pantas saja mahasiswi di kampus menjulukinya sang penakluk hati. Agak berlebihan sih! Tapi memang kenyataannya dia begitu perfeck. Kenapa aku kembali memujinya????


__ADS_2