MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Rindu


__ADS_3

Malam ini aku memutuskan untuk tidur sekamar dengan nenek. Meskipun tanpa sebelumnya membicarakannya dengan suamiku. Aku yakin, seyakin-yakinnya, bahwa dia sudah pasti akan menyerutujuinya. Sungguh rindu yang membuncah. Sehari bertatap muka dengannya tak mampu mengobati setiap inci rasa itu untuknya.


“ nek. Malam ini aku tidur dengan nenek yah” rayuku


“ suamimu bagaimana nak?”


“Nenek tenang saja, dia akan baik-baik saja. Dia kan bukan bayi lagi” jawabku cuek sembari memeluk punggung ringkih wanita perkasaku.


“ yah sudah kalau begitu.” Nenek kembali membetulkan posisi tidurnya.


“ nek, boleh aku bertanya?” Ucapku sembari mengeratkan pelukanku di punggung nenek.


“Hmmmm..” nenek hanya menjawabku seadanya.

__ADS_1


“Sebenarnya kedua orang tuaku ke mana sih? Sebegitu bencinya mereka denganku hingga tak pernah menemuiku nek” bola mataku mulai berkaca-kaca. Nenek membalikkan badannya ke arahku, memasang wajah serius namun tetap teduh, tenang saat memandangnya.


“ zahra, setiap orang punya cerita, punya alasan untuk itu nak. Begitu juga dengan orang tuamu. Sejauh ini nenek tidak pernah mendapatkan kabar dari mereka. Tapi yakinlah suatu saat nanti mereka akan mencarimu nak, tugasmu hanya berdoa dan menanti kapan saat itu tiba. Bukankah Allah maha adil? Mungkin dengan tidak adanya mereka saat ini merupakan cara Allah untuk mendewasakanmu nak, nenek yakin itu.” Nenek menasehatiku panjang lebar.


“ tapi nek, kalau mereka tidak menginginkanku, kenapa aku mesti di lahirkan? Aku juga ingin hidup normal nek, hidup dengan kedua orang tuaku.” Aku mulai terisak. Sesak dadaku saat ini. Jujur di lubuk hatiku yang terdalam aku sangat ingin bersua dengan mereka.


“ sabar nak. Mungkin Allah telah menyiapkan kehidupan yang indah dari semua ini”


“ nenek tau tidak? Aku sedari dulu menahan rindu dengan mereka walau hanya untuk melihat wajah mereka. “ aku melanjutkan ceritaku sembari terus terisak.


Aku hanya mengangguk pelan, entah sampai kapan aku harus melawan rasa rindu yang semakin menggebu. Aku hanya ingin melihat wajah mereka meski mereka sangat tidak menginginkanku. Aku mulai terlelap saat nenek mulai membelai pucuk kepalaku. Aku merasa hangat karenanya.


“Nenek, zahra sudah tidur?”

__ADS_1


“ sepertinya begitu nak. Kenapa kamu butuh sesuatu? “


“Tentu saja nek, aku butuh istriku” ucap angkasa tersenyum malu.


“ lagipula tempat tidur di sini hanya cukup untuk 1 orang kan nek. Saya takut zahra nanti mengganggu tidur nenek” angkasa kembali melanjutkan. Nenek sepertinya tahu apa yang ada di fikiran menantunya itu.


“Baiklah kalau begitu? Apa kamu kuat menggendongnya?”


“ tentu saja nek.”


Angkasa pun mulai membopongku ke kamar tidur kami. Tanpa disadari oleh suamiku itu. Aku mendengar semua ucapannya oleh nenek, aku kembali pura-pura tertidur. Rasa nyaman ketika mendengar detak jantungnya semakin kunikmati.


“Makin hari tubuhnya semakin berat saja” gumam suamiku sambil meletakkan tubuhku ke tempat tidur. Aku berinisiatif, kutarik tangannya hingga ia jatuh menindihku.

__ADS_1


“Mas jangan tinggalkan aku” sahutku pelan.


“ dalam tidur pun dia masih mengingatku, ahh manis sekali” jadi dia belum menyadari kalau aku hanya berpura-pura tidur. Baiklah kunikmati permainanku ini, aku semakin memeluknya erat. Kurasakan dia tidak memberontak sama sekali. Namun, ada yang salah dengannya kurasakan benjolan keras di tubuhnya. Aku tidak tahu apa itu?


__ADS_2