
Aku hanya terdiam tak bergerak sedikitpun saat Angkasa membopongku. Sakit perut yang melilit semakin membuatku tak bisa bergerak dan tak bisa berbuat apa-apa lagi.
“ mas, kita mau kemana?” Kuberanikan diri untuk bertanya kepadanya. Dia hanya fokus dengan kemudinya tanpa membalasku sedikitpun. Apakah dia tuli? Ataukah dia lahir dari sebuah kulkas? Kenapa dia tidak menjawabku sedikitpun.
Tiba-tibu perutku sangat mules, sepertinya akan ada racun yang menyembur keluar...
Puuuuuuuuppp.. aku kelepasan setelah sekian lama aku mencoba untuk menahannya. Berharap dia tidak mendengar apa yang baru saja berbunyi itu. Ciiiiiiiiiiit,, Angkasa mengerem mendadak.
“Bau apa ini?” Katanya sembari menutup hidung mancungnya. Mukaku berubah menjadi merah padam. Alangkah malunya diriku. Mungkin saja dia tidak mendengar bunyi dari alarm aneh dari tubuhku itu. Namun aku melupakan kalau ini adalah gas beracun..
“ kamu buang angin?”
“ maaf, aku tidak sengaja.” Ucapku menahan malu. Ternyata yang di dekatku ini masih manusia. Masih bisa merasakan gas beracunku.
Dia hanya menggeleng-geleng kemudian kembali memegang kemudinya. Aku yang merasa kelelahan dan sakit perutku yang semakin menjadi jadi membuatku memilih untuk memejamkan mataku. .
“ zahra, kamu gadis yang cukup unik dan tak tahu malu” angkasa bergumam sendiri. Kemudian perlahan turun dari mobilnya. Menuju sebuah supermarket. Dengan langkah perlahan tapi pasti dia menyusuri rak-rak. Namun, tak berhasil menemukan apa yang di carinya. Dia dengan malu-malu memberanikan diri untuk bertanya ke salah satu karyawan di tempat itu.
“ mba, maaf rak tempat yang biasanya di pakai wanita di mana yah ?”
__ADS_1
“Maksud bapak apa?”
“ itu loh yang seperti bantalan” angkasa merasa sulit untuk mendapatkan kosa kata uang tepat. Membuat pelayan toko semakin kebingungan.
“ yang biasa dipakai kalo lagi dapet” ucap angkasa malu. Seketika pelayan toko memperhatikan angkasa dari ujung kepala sampai kaki. Seakan tak percaya seorang seperti yang di depannya ini hendak membeli barang seperti itu.
“ itu untuk istri saya mba.” Ucap angkasa menjelaskan. Terdengar banyak suara cekikikan para remaja yang begitu labilnya dan kebetulan berada di tempat itu.
“ alangkah beruntungnya gadis yang menjadi istrinya”
“Aku mau aja jadi yang kedua”
“ Angkasa. Kebetulan sekali kita ketemu di sini.” Ucap seseorang yang berdiri tepat di samping Angkasa.
“ widia? Ada apa?” Tanya angkasa penuh selidik. Sebenarnya dia sangat ingin meninggalkan perempuan ini secepat mungkin. Tapi langkahnya di cegah oleh Widia.
“ angkasa. Bisa kita bicara sebentar?”
“ maaf tidak bisa!”
__ADS_1
“ tolonglah Angkasa ini untuk yang terakhir kalinya” ucap widia. Dari kejauhan dia melihat sosok zahra yang celingak-celinguk sedang mencari angkasa. Kesempatan ini tidak di sia-siakan Widia. Secepat kilat dia menggandeng tangan Angkasa dan menariknya menjauh. Sebenarnya angkasa sangat ingin menepis tangan wanita itu. Tapi mengingat ini tempat umum. Maka dia mengikuti sejenak apa yang dilakukan wanita berhati busuk itu.
“Lepaskan!! Kamu mau bicara apa?”
”Angkasa, aku mohon terima aku jadi istrimu. Aku tidak apa-apa jadi istri simpananmu.”
Mendengar itu angkasa bergidij jijik. Wanita macam apa yang sedang kuhadapi ini. Memandangmu saja aku sudah jijik apalagi menjadikanmu istriku. Gumam Angkasa.
“ kamu jangan asal bicara yah.!” Angkasa berucap dengan nada tinggi. Tapi Widia serta merta memeluknya erat begitu melihat Zahra menatap ke arah mereka berdua. Dari kejauhan Zahra meneteskan air mata. Perasaan sedih dan kesal bercampur jadi satu. Buru-Buru dia meninggalkan tempat itu. Melihat kejadian itu Widia tersenyum penuh kemenangan.
“ kamu apa-apaan sih! Kamu masih punya malu kan? Aku ini pria yang sudah beristri dan aku akan menghormati pernikahan kami” angkasa dengan segera mendorong Widia dan meninggalkannya,
Di tempat lain, zahra terlihat meneteskan air mata.
“ kamu kenap zahra? Kamu cemburu? Secepat itukah kau jatuh hati ke Angkasa?” Tanya zahra bertempur dengan fikirannya sendiri.. sambil terus meneteskan air mata.. mungkinkah benih-benih cinta mulai tumbuh di hati zahra? Zahra hanya bisa menyandarkan kepalanya dan menatap kosong.
“ kenapa mereka mesti berpelukan?”
“ kalau memang mereka saling mencintai kenapa Angkasa memilih aku”
__ADS_1
Tiba angkasa datang dan menyadarkan aku dalam lamunan. Entah mengapa aku merasa berat untuk menatap angkasa. Ingin rasanya kucakar-cakar muka yang seakan tak bersalah itu.