MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Kehilangan


__ADS_3

Suasana di kantor Angkasa sangat memprihatinkan. Gedung hampir rata dengan tanah. Angkasa yang tiba di lokasi sudah tidak sanggup lagi mengucapkan apa-apa.


" Pak!! awas Pak Angkasa!" teriak seseorang.


bukkk, sebuah tiang besi menghantam kepala Angkasa. Dan dia ambruk, darah segar begitu banyak mengalir dari kepalanya. Semua orang semakin panik melihat kejadian itu!


"Aaaaaaaahhhh, pak angkasa!! Cepat bawa dia ke runah sakit!!!" teriak seseorang.


Tubuh Angkasa yang kaku segera di gotong menuju rumah sakit. Darahnya terus bercucuran.


Di rumah.


Aku semakin tidak bisa mengendalikan diri. Aku semakin khawatir. Perasaan tidak enak terus menyelimutiku, tiba-tiba foto pernikahan kami jatuh ke lantai.


" pertanda apa lagi ini??" ucapku

__ADS_1


kriiiiing. kriiiing... kriiiiing... suara panggilan di hpku kembali mengagetkanku.


" Halo, Assalamualaikum. iya, saya sendiri! Apa??? tidak mungkin!!! aaaahhhh,,, tidak mungkin!!" Aku kembali kehilangan kendali dan tidak sadarkan diri.


" Ibuuuuuuu... ibuuuuu... Tolongin nyonya bu...." teriakan bibi memekakkan telinga saat melihatku.


" Astagfirullah, ada apa ini!" ibu semakin kaget.


" coba periksa hpnya kelihatannya panggilannya masih terhubung"


Saat terbangun aku sudah ada di rumah sakit. kulihat semua orang mengelilingiku dengan wajah yang tidak dapat kuterka, kuamati mereka satu per satu namun tak kilihat sosok yang berkelana di otakku.


" Nak, kamu sudah sadar???"


" Ibu, mana Mas Angkasa bu? Mana suami saya bu?" Aku semakin seperti orang yang tidak waras.

__ADS_1


" kamu yang sabar Nak, suamimu sudah beristirahat dengan tenang!"


" tidak mungkin bu, tidak. tidak mungkin suamiku meninggalkan aku bu, tidak mungkin dia meninggalkan calon bayinya, tidaaakkk! ibu pasti bercanda kan, .." aku semakin menggila.


" di mana suamiku Bu?? di mana dia. bawa saya bu... saya mau bertemu dengan suami saya bu!!! huhuuuhuuu" aku terus memberontak.


" Kamu yang sabar Nak, ingat calon anakmu. Dia membutuhkanmu, butuh ibu yang kuat" Semua orang yang ada di ruangan itu menatapku dengan iba. Semuanya menangis, apalagi kedua orang tua suamiky hanya duduk tak berdaya.


" Kamu tenang yah Nak, sekarang kalau kamu mau melihat suamimu untuk terakhir kali. kamu harus kuat ada benih cinta kalian berdua yang harus kamu jaga nak" ibu pun menuntunku ke ruangan di mana suamiku sudah berbaring dengan wajah tertutup kain putih. Tanganku gemetar, saat akan membuka penutup itu. Entah kemana hilangnya segala kekuatanku saat ini. Perlahan kubuka, dan benar saja muka pucat suamiku kembali mengguncangku. Aku tersungkur karena kakiku sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berdiri.


Secepat itukah takdir memisahkan kami. Aku rasanya ingin berteriak, masih tak rela Mas Angkasa benar-benar meninggalkanku. Bagaimana aku akan membesarkan anakku kelak tanpa sosoknya. Kandunganku sekarang baru menginjak usia enam bulan. Aku benar-benar seperti tak memiliki hati untuk hidup lagi. Aku seakan hanya memaksakan jantungku untuk berdetak. Aku semakin merasa dunia tidak adil untukku.


Di pemakaman, aku terus saja memeluk nisan suamiku. Angkasa laki-laki istimewaku. Lelaki yang telah menanam benih cintanya untukku. Memori tentang kami berdua terus bergelirya di otakku. Kujatuhkan kepalaku di tanah kuburan suamiku yang masih basah itu. Sulit rasanya untuk percaya bahwa aku benar-benar tidak bersamanya lagi. Air mata terus mengalir tak terbendung!!


"Aku mencintaimu Mas, dulu sekarang dan nanti" Aku berucap lirih sambil terus memandangi batu nisan suamiku, rasanya tubuhku sangat berat untuk meninggalkan tempat ini ...

__ADS_1


__ADS_2