MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Ikrar suci di rumah sakit.


__ADS_3

Pikiranku masih tak karuan. Luka bekas jahitan pasca melahirkan secara sesar ini masih perih, namun lagi-lagi berita yang secepat angin seakan menghancurkan harapan dan semangat hidupku. Cobaan demi cobaan bertubi-tubi menyerang akal sehatku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Ingin aku berteriak! Langkahku seakan sudah berada di ujung kehidupan. Maksud hati sangat ingin mengunjungi sahabatku yang sekarat, namun aku tak berdaya. Bayi mungilku belum saatnya aku tinggal, luka di perutku masih terasa perih. Namun kepedihan di hati juga seakan terukir kembali. Aku harus apa sekarang?


" Zahra, kamu istirahat dulu yah.. ibu perhatikan kamu banyak melamun? ada apa? cerita dong sama ibu" Ibu mendekatiku.


" sebenarnya aku kepikiran sahabatku bu. Aku sangat ingin melihatnya tapi bagaimana? aku sendiri belum pulih. Anakku juga begitu butuh aku" aku bercerita dengan rasa sesak dan air mata yang tak terbendung.


" kan ada HP nak. video call juga kan bisa.. " ucapnya kemudian.


" ah iya bu. Kenapa aku sampai lupa yah? jadinya melow begini" aku bergegas mengambil hapeku..

__ADS_1


Segera ku hubungi nomor telepon Furqon. Saat panggilan video itu terhubung terlihat pemandangan yang tak biasa. Furqon terlihat menggunakan setelan jas dan peci hitam. Sementara di belakangnya terlihat Sari yang sedang terbaring dengan balutan kebaya dan hiasan wajah yang masih terlihat pucat. Aku semakin penasaran ada apa ini.. !


" Furqon, ini ada apa sih? kenapa terlihat seperti... " ucapan aku terhenti, aku ingin mendengar langsung penjelasan nya.


" hmm, seperti yang kamu lihat. Kami akan melangsungkan akad nikah di sini" ucap Furqon dengan suara parau dan mimik wajah yang sulit ku tebak.


" Akad Nikah? di rumah sakit?" aku semakin heran. Sepertinya penyakit sahabatku ini cukup parah hingga dia bertekad melangsungkan akad nikah di rumah sakit.


" Ah iya Pak" suara furqon dari balik telpon.

__ADS_1


" Zahra, kamu mau tetap menelpon dan melihat kami melangsungkan ikrar suci? " ucap Furqon dan terlihat dia menundukkan pandangannya.


" Tentu saja Furqon! " ucapku bersama


semangat.


" Baiklah" terlihat Furqon hendak meletakkan hapenya dan tentu saja dia memilih posisi yang tepat agar aku bisa melihat mereka dengan leluasa. Mataku kembali berkaca-kaca. Ada rasa bahagia, karena sahabatku sebentar lagi akan mewujudkan impiannya untuk bersanding dengan pujaan hatinya dalam ikatan yang halal. Namun, rasa sedih juga hadir begitu saja, mengingat kondisi sahabatku itu saat ini.


" Saya terima nikahnya Nur intan sari binti Makmur dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai!!! " kalimat lantang yang diucapkan oleh Furqon sebagai bukti bahwa mereka sah menjadi suami istri. Namun tiba-tiba semua orang di ruangan itu panik setelah Furqon mengucapkan ikrar suci itu.

__ADS_1


" Furqon! ada apa itu!? Apa yang terjadi dengan Sari? " aku berteriak di telepon namun tak seorang pun menghiraukan ku. Terlihat beberapa perawat masuk dengan wajah panik. Aku semakin takut, takut akan terjadi apa-apa dengan sahabatku itu. Panggilan itu masih berlangsung kulihat Furqon menggenggam tangan Sari yang telah sah menjadi istrinya. Kekhawatiran terpancar jelas di wajahnya. Kulihat nafas Sari naik turun.. sekilas dia melihatku lewat panggilan video itu! Air matanya berlinang sambil menatapku penuh arti. Aku juga sudah tak mampu membendung butiran kristal di sudut mataku. Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk sahabatku itu. Tiba-tiba hapeku mati.


" kenapa lagi ini? kenapa bisa mati? lowbet?? aaaak hhhh bagaimana dengan Sari? apa yang terjadi dengannya? Apakah dia akan baik-baik saja? " Pertanyaan terus berkecamuk dalam kepalaku. aku semakin frustasi dengan keadaan saat ini.


__ADS_2