MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Dunia Baru tanpanya


__ADS_3

Hari-hariku masih terus berselimut duka. Suasana hujan yang membawa dingin, semakin memperkuat rasa rinduku. Dua bulan berlalu, bayangannya masih melekat dalam anganku. Aku terus mencoba bangkit tanpanya, namun rasanya sulit. Ditambah lagi dengan perutku yang semakin membesar, sangat sulit rasanya untuk bergerak hingga memicu keinginan untuk terus diam di tempat memikirkan orang terkasih.


" Nyonya, maaf bibi mengganggu, ada tamu yang mencari nyonya, dia sedang menunggu di ruang tamu" ucap bibi.


" siapa Bi? bibi kenal??" tanyaku penasaran.


" hmmm, sepertinya dia orang kantor Nya... pakaiannya rapi, tinggi , hidung mancung, pokoknya cakep deh menurut bibi, hehehe " lagi-lagi bibi kembali ke jiwa hiperbolanya. Aku hanya mengernyitkan alisku, berlalu melihat tingkah lucu asisten rumah tanggaku itu.


Aku melangkah perlahan menuruni tangga. Perutku yang semakin membesar memaksaku untuk terus berhati-hati. Dari jauh kulihat seseorang yang tidak asing lagi. Dia pak Satya pengacara kepercayaan suamiku Angkasa. Rasa penasaran kembali menyerbu, apa yang membawa lelaki itu menemuiku.?


" Selamat siang Bu zahra!!" ucapnya ramah dan sedikit tegas.


" selamat siang pak, ada apa yah pak?" tanyaku.


" hmmm, maaf sebelumnya bu saya mengganggu waktu ibu."


" ah, nggak apa-apa pak. langsung saja, ini ada urusan apa yah?"


" saya ke sini mau membacakan surat wasiat almarhum suami ibu, Pak Angkasa Wijaya"


" bukankah seharusnya bapak mengundang kedua itang tua suami saya pak? terlebih lagi ini tentang wasiat almarhum suami saya?"

__ADS_1


" iya bu, sebelum kemari saya sudah menghubungi beliau hanya mereka sepenuhnya menyerahkan hal ini kepada saya bu"


" ah begitu baiklah pak. tapi sebelumnya wasiat ini kapan terjadinya pak?" aku heran suamiku masih sempat berwasiat untukku. Ternyata dia benar-benar peduli padaku lebih dari siapapun.


" hmmm, ini saat ibu mulai mengandung. Dia sangat senang, hingga dia menemuiku dan meminta untuk membuatkan surat wasiat, kalau terjadi sesuatu padanya" pak Satya menjelaskan panjang lebar padaku.


Lagi-lagi air mataku tak terbendung.


" suamiku, sampai kapanpun kamu tak dapat kulupakan. Saat engkau pergi pun, cintamu terus tercurah padaku" aku berucap lirih dalam hati.


" Baiklah bu, saya selaku pengacara yang memang di tunjuk langsung untuk menyampaikan wasiat ini. Dalam surat wasiat ini, di nyatakan bahwa semua aset pak Angkasa mutlak menjadi milik Ibu Zahra selaku istri Almarhum. Dan ini ada surat khusus untuk ibu"


" ***Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


salam cinta untukmu bidadari hatiku...


zahra, istriku. mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah tak ada di sisimu. entah dorongan apa yang memaksaku untuk menulis ini, namun jauh hari aku memang merasa bahwa tak selamanya aku bisa di sampingmu. Meski hati sangat ingin, namun aku tidak tahu, kalau takdir apa yang akan terjadi nantinya.


Zahra pujaanku


mungkin dalam kehidupan nyata, aku tidak bisa mengucaopkan langsung kata- kata romantis seperti kebanyakan orang, namun dalam surat ini setidaknya kusematkan cinta yang mendalam untukmu.

__ADS_1


sayang, saat kamu mengabariku bahwa kamu telah mengandung buah hati kita, aku seperti dewa yang memiliki segalanya. Kamu, anak kita, dan tentunya cinta di antara kita melengkapi hidupku.


cintaku, kamu tahu tidak?? surat ini aku tulis selama berhari-hari. Aku berusaha menata kata demi kata agar terlihat indah nan romantis. namun, kamu tahu sendiri kan? aku tak seromantis pujangga di luar sana,??:-)


Zahra, kini buah hati kita telah ada di dalam rahimmu, aku harap kalau kelak kita tak berjodoh untuk menua bersama. Kamu rawat anak kita baik-baik, kamu sayangi dia. Anggap dia Angkasa kecil yang sangat kau cintai.


Zahra, kamu wanita istimewa yang memberi warna baru untukku. Aku mencintaimu selamanya. peluk hangat, seyuman sayang untukmu bidadari hatiku"


Dari laki-laki yang amat mencintaimu.


Angkasa***.


" Mas, ternyata kamu sudah memiliki firasat jauh-jauh hari. Mas, aku menyesal tak memberikan bakti terbaikku waktu itu mas" Aku berucap lirih, saat aku membaca surat terakhir suamiku, seakan jiwanya hadir di sampingku. Aku hanya bisa menangis dan terus menangis.


" awwwwww,,, sakittt" tiba-tiba aku merasakan sakit yang begitu dahsyat di area perutku.


" bu Zahra kenapa? astaga, sepertinya ibu mau melahirkan! biii,,,, Biiiiibiiii!" terdengar teriakan lantang dari pak satya. Aku merasa cairan hangat mengaliri area pahaku..


" ada apa pak? astaga nyonya!!! ayo segera ke rumah sakit!!! ibuuu.. ibuuuu, nyonya mau lahiran" bibi semakin panik.


Aku tidak dapat lagi menggerakkan badanku. Rasanya badanku terkunci hingga, aku tak sadarkan diri lagi....

__ADS_1


__ADS_2