MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Pengorbanan sahabat


__ADS_3

Bola mata Sari berkaca kaca menyaksikan kedekatanku dengan furqon. Hal itulah yang dapat kutangkap dari sorot matanya.


“Akankah Sari juga menaruh hati kepada Furqon?” Tanyaku dalam hati


Kupilih untuk meninggalkan furqon yang tengah asyik membaca demi menjaga perasaan sahabatku itu. Aku menghampiri sari, namun ketika melihat aku melangkah mendekatinya, sontak kulihat dia berusaha untuk menghindar. Entah apa yang ada difikirannya. Segera kutarik tangannya untuk kembali duduk.


“Rii, kamu kenapa?? Kamu nangis ya?? Tanyaku penuh selidik


“Hmmmm,, enggak kok Raa, aku hanya kelilipan aja, tiupin donk” jawabnya berusaha berbohong padaku


Namun aku tahu dia sedang menutupi sesuatu dariku. Aku cukup mengenal sahabatku ini.


“Riii, cerita sama aku. Kamu ada masalah?” Ucapku berusaha selembut mungkin

__ADS_1


“ maaf ya, apakah kamu ada hati sama Furqon?” Selidikku yang hanya dijawab dengan air mata yang terus mengalir


“Rii, aku sama furqon tidak ada hubungn apa apa , kami hanya berteman. Jangan salah paham yah, “ kataku berusaha menenangkannya. Meski dalam dadaku terasa sesak mengucapkan kalimat ini.


“ Raa , kamu tau nggak? Furqon tadi pagi nolak aku” ucapan sari ini cukup membuat nafasku tercekal. Namun aku bersyukur setidaknya sari sudah mulai terbuka akan masalahnya.


“Hhhh, jadi itu masalahnya? Terus, amplop pink tadi, itu apaan?”


“Itu surat cinta yang aku kirimkan kepadanya beberapa hari yang lalu Raa, namun dikembalikan. Tanpa memberiku alasan kenapa dia menolakku. “ kata kata yang keluar dari mulut sari ini mengundang perasaan lega dan kasihan. Aku senang furqon tidak membalas perasaan Sari. Namun, disisi lain aku juga kasihan kepada sahabatku ini. Baru kali ini aku melihat perjuangannya mengejar cinta pertamanya namun tetap saja di tolak.


“ rii, kamu percaya tidak dengan takdir”


“ maksud kamu raa?”

__ADS_1


“ gini lo Rii, kalo memang kemudian Furqon itu takdir cintamu, aku rasa kalian akan bersama. Dan aku akan berusaha menyatukan takdir kalian” ucapku meyakinkan sembari menggenggam erat tangan sahabatku itu.


“Sari, aku akan mengalah meski rasa sakit dihati ini semakin menusuk, meski aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku kepada Furqon namun jauh dilubuk hatiku aku sangat mengaguminya. Dan aku juga belum tahu apakah perasaanku ini akan terbalas. Tapi aku akan berkorban untukmu, jagalah dia untukku Rii” kataku dalam hati. Ingin rasanya air mata ini tumpah namun aku berusaha agar Sari tidak mengetahui apa yang kurasakan. Ya, aku akan mencoba mengubur perasaanku ini.


Tak lama kemudian alarm yang mewajibkan kami kembali bertempur dengan buku buku kembali memanggil. Kami semua berjalan meninggalkan perpustakaan menuju kelas kami. Tak sengaja, kulihat dari kejauhan Furqon memperhatikan kami berdua, entah apa yang difikirkannya. Segera kutepis pandanganku dan mempercepat langkahku.


Tak terasa waktu menunjukkan pukul 12.00, pertanda jam pelajaran segera usai. Entah mengapa, aku seperti kehilangan semangatku hari ini. Melangkah gontai keluar dari ruangan.


“ Raa, mampir ke rumahku yukk!!” Ajak Sari kepadaku. Memang sesekali aku biasa mampir ke rumahnya walau hanya untuk bercengkrama dengannya sambil menunggu nenekku pulang dari pasar di sore hari. Namun hatiku berat saat ini untuk meng-iyakan.


“ Rii, maaf ya aku mau langsung ke tempat nenek aja. Sekalian bantu-bantu jualan”


“ Ya udah Raa, salam sama nenek” ucap Sari dan berlalu meninggalkanku.

__ADS_1


Sementara dari kejauhan kulihat furqon dengan langkah cepatnya keluar dari gerbang sekolah.


“ mau kemana dia? Kenapa dia begitu tergesa-gesa?, tapi toh apa peduliku? Bukankah aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk menghindar darinya, demi sahabatku?” Gumamku....


__ADS_2