
Rasa tak percaya terus berkecamuk. Sadar atau tidak aku sangat yakin bahwa ada sesuatu yang di sembunyikan furqon dariku, dan ini menyangkut sahabatku. Aku menelisik setiap sudut kecurigaanku.
" Zahra, kamu istirahat dulu gih..." ucap ibuku. Aku masih terus berdiri, rasa sakit setelah melahirkan buah hatiku seakan masih tenggelam dengan kecurigaanku dengan Furqon.
" iya bu, . aku juga sekalian mau ngasih ASI untuk anakku" ucapku kemudian.
Aku melangkah masuk ke kamarku. Kamar yang penuh kenangan antara aku dan mas Angkasa. Sekarang aku menikmati kerinduan yang tidak akan ada lagi pertemuan. Hanya takdir yang menentukan di titik apa kelak kami akan bersama kembali. Ku beri Asi untuk anakku, aku merasa seakan memiliki semangat hidup baru saat ini. Setelah kurasa cukup aku meletakkan mereka, kuhela nafasku. Sanggupkah aku menjadi orang tua tunggal kedua anak kembarku. Gema azan menyadarkan aku kembali. Kusegerakan hatiku untuk bersimpuh, mengeluh dan mengadu kepada Rabbku
Ya Rabb aku titip kekasihku PadaMu.
Berpisah, kadang ada luka yang bersarang bernama rindu.
Luka yang hanya bisa di sembuhkan dengan yang dirindu.
Pada siapapun yang Engkau takdirkan untuk berpisah, sungguh hanya Engkau yang tahu kapan kami akan bersua kembali.
Yaa Rabb, berpisah mungkin mengajarkan aku bahwa berjauhan bukan jadi penghalang kita tak menebar kasih sayang.
Setiap nafas akan selalu senantiasa kuselipkan namanya dalam setiap doaku Tuhan.
Yaa Rabbku. sungguh tak mudah melepaskan hati yang telah bertauh cinta dan kasih, namun Rabbku, aku yakin ada sesuatu yang indah yang menantiku.
__ADS_1
Yaa Rabb, kutitip dia PadaMu, Berikanlah tempat terbaik di sisiMu. Bantu aku Yaa Rabb agar aku kuat meski telah berpisah dengannya. Anugrahkanlah padaku kesabaran yang berlapis-lapis dan tanpa batas. aamiin.
Kuhembuskan nafas berat, kukumpulkan kekuatan untuk menata kembali hidupku. Aku tidak boleh menyerah, aku harus tetap kokoh demi anak-anakku. Sejenak kupandangi wajah mereka satu persatu, benar aku harus bangkit.
tok tok tok
" Maaf Zahra, boleh saya masuk?" Dokter Agus datang menyadarkan lamunanku.
" Iya, silahkan masuk dok." ucapku kemudian.
" boleh saya gendong?" ucapnya seraya menghampiri anakku.
" oh iya tentu saja dok," aku berusaha ramah padanya.
" maaf dok, hmm.. sepertinya ada sesuatu yang dokter ingin katakan." aku mencoba menebak.
"hmm, koq kamu tahu"
" aku hanya menerka saja dok"
" bisa nggak? kamu panggil aku dengan sebutan papa? tapi kalau nggak mau juga nggak apa-apa sih"
__ADS_1
" iya p.. papa. sekarang bicara dong ada apa sebenarnya"
" ini mengenai ayah kandungmu Zahra, sebenarnya dia..."
" Papa, ternyata di sini? sedari tadi aku cariin. kita makan yuk" kehadiran ibuku membuat Dokter Agus menghentikan ucapannya.
"tapi bu.. aku mau bicara sama papa" aku berusaha agar dokter agus melanjutkan ucapannya tadi. Jujur saja aku penasaran dengan apa yang akan dikatakannya, apalagi ini berkaitan dengan ayah kandungku.
" pa,, ayo makan." ibuku sepertinya tidak membiarkan dokter Agus membicarakan perihal Ayah padaku. Ingin rasanya aku bertanya padanya namun mereka buru-buru meninggalkanku.
Belum hilang rasa penasaranku. Tiba-tiba hpku berdering..
kriing kriiing kriiiing. Kulihat sekilas ternyata dari Furqon.
" Assalamualaikum" ucapnya dari seberang.
" Waalaikumussalam, kenapa furqon. Tumben" ucapku kemudian.
" Zahra, sari kritis."
" Apa! maksud kamu apa sih. kamu jangan bercanda yah.."
__ADS_1
" Maaf Zahra, aku harus tutup sekarang! tuuut, tuuu, tuuut." panggilannya terputus begitu saja. Aku semakin kalang kabut. . aku tidak tahu harua melakukan apa..