MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Pengenalan tokoh


__ADS_3

Gemercik air hujan menyejukkan pemandangan pagi ini. Aku, Zahra seorang gadis berseragam putih abu-abu baru saja melangkahkan kaki keluar rumah menuju ke sekolah. Aku seorang gadis SMA yang terkenal periang, lincah dan gesit. Meski begitu, dibalik wajah yang selalu tersenyum , tersimpan pilu yang sangat menyesakkan dada. Ya, aku adalah seorang anak yatim yang diasuh dan di besarkan oleh nenek Bu Hana, sejak masih bayi aku ditinggalkan oleh kedua orang tuaku. Entah itu sebagai bentuk penolakan mereka atas kehadiran diriku atau apa, itupun tidak kumengerti. Bahkan selama aku dilahirkan aku belum pernah melihat dan merasakan sosok Ayah. Aku dibesarkan di sebuah desa kecil di sudut kota. Kehidupanku jauh dari kata mewah, meski begitu aku bersyukur karena masih memiliki seorang nenek yang begitu menyayangiku.


Pagi ini, tepatnya pukul 05.30, aku berangkat ke sekolah sambil membantu nenek membawa berbagai sayuran untuk di jual di pasar. Kebetulan jarak sekolahku dengan pasar tempat nenek berjualan terbilang dekat. Ketika melewati sebuah lorong sempit, tanpa sengaja, pandanganku menangkap sosok laki laki yang tak lain adalah Furqon. Teman sekolahku yang selalu membuat hatiku bergetar tak karuan ketika melihatnya. Entah perasaan suka atau kagum. Ya, Furqon adalah siswa berprestasi dan terbilang sholeh. Gayanya yang cool, tingginya yang semampai, kulitnya yang cerah, hidungnya yang mancung, semuanya terlukis indah pada dirinya. Semua kaum hawa pasti sangat terpesona dengannya. Tak terkecuali diriku.


“Furqon, sudah mau berangkat juga?Tanyaku


“Ya” jawabnya singkat dan melemparkan senyum manisnya padaku. Dia beralih dan menghampiri nenekku.

__ADS_1


“Sini nek, biar furqon bantu” ucapnya sembari mengambil keranjang yang dibawa nenek.


“Makasih nak, kamu memang anak yang baik, pantas saja zahra selalu memujimu” kata nenek yang membuatku tersipu malu dan hanya di balas dengan semyuman oleh furqon.


Sepanjang perjalanan aku tak banyak bicara, hanya Furqon dan nenek sesekali bercanda mencairkan suasana. kurang lebih satu jam kami sudah sampai kesebuah pasar, tak jauh dari kota. Ya, setiap hari kami berjalan kurang lebih 5 km untuk sampai di sekolah. Tak jarang, keringat kami bercucuran begitu sampai di sekolah. Meski begitu, hal itu tidak menyiutkan langkahku untuk menggapai apa yang kami impikan di masa depan. Cinta dan cita-cita menyatu dalam langkah kami.


“Ya nak, kalian yang rajin belajarnya, jangan memikirkan cinta terlebih dahulu” jawab nenek sembari melirik ke arahku. Sorot matanya menyiratkan bahwa itu penekanan untukku. Aku hanya menghembuskan nafas berat sembari tertunduk malu.

__ADS_1


“ sempat-sempatnya nenek menggodaku di depan Furqon” gumamku dalam hati.


“Ya nek, nenek tenang aja. In syaa Allah, saya akan memperjuangkan mimpi dan cita citaku” ucapku meyakinkan.


Mendengar ucapanku nenek membelai kepalaku. Energi hangatnya kasih sayang kembali kurasakan dan hal inilah yang membuatku tetap bersyukur. Meski aku hidup tanpa orang tua, aku masih mendapatkan kadih sayang yang tulus dari perempuan tegar di hadapanku ini.


Setelah berpamitan dengan nenek aku dan furqon melangkahkan kaki menuju gedung sekolah kami.

__ADS_1


Kami sampai di sebuah gedung bernuansa putih hijau. Kupercepat langkah kakiku menuju ruangan kelasku tanpa menghiraukan furqon yang berjalan di dekatku dengan gayanya yang dingin. Tiba-tiba seseorang menarik tanganku.....


__ADS_2