MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Pria Aneh


__ADS_3

Pagi-pagi sekali aku berangkat menuju universitas Angkasa Wijaya. Aku berdandan tipis, untuk menunjang penampilan dan percaya diriku saat wawancara nanti. Aku menyewa ojek menuju kampus itu. Sesampainya disana mataku tak berkedip melihat kemewahan gedung itu. Aku memberi ongkos ke tukang ojek.


“Neng, kira-kira dong. Masih ongkosnya cuma dua ribu?”


“Ahh, maaf pak aku kira tadi itu uang dua puluh ribuan” segera kuserahkan uang dua puluh hasil memecahkan celenganku pagi ini. Kemewahan kampus itu menyita alam sadarku. Aku baru pertama kali melangkahkan kaki di gedung sebesar ini. Tentu saja, aku tidak tau seluk beluk bangunan ini. Kuberanikan diri untuk bertanya ke salah satu mahasiswa di sini.


“ maaf kak, ruangan wawancara untuk penerima bea siswa di mana yah?” Laki-laki yang ditanya sekilas melihat menampilan Zahra.


“Hmmmm, mainan baru. Aku kerjain Ah” gumam laki laki itu dalam hati


“Kamu belok aja ke kanan terus jalan, sampai dapat belokan ke kiri . Jalan terus sampai kamu dapat tangga nah di samping tangga itu ruangannya”


“ oh makasih kk” saat hendak pergi aku berbalik kembali ke arah laki-laki itu.


“Maaf kak, nama kakak siapa?” Laki-laki itu menaikkan alis menatapku. Kemudian berlalu tanpa menjawab pertanyaanku.


Pria aneh.... gumamku dalam hati. Tapi tampan sih. .. ihhhh ngapain juga aku pake memuji dia. Kupercepat langkahku menuju ruangan yang di tunjukkan pria aneh tadi. Aku terus berjalan tapi tidak menemukan ruangan yang di maksud, yang aku temukan adalah toilet..


“Hmmmm, dasar pria aneh. Berani main-main dengan saya. Belum tahu siapa Zahra, awas saja kalo ketemu”. Gumamku pelan


Segera kucari ruangan yang dimaksud. Dengan bantuan seorang mahasiswi baru yang kebetulan menuju ruangan itu juga.. kami menunggu antrian di depan ruangan. Rasa dongkol di hati karena masih memikirkan pria aneh yang sudah mempermainkanku, membuatku meremas kertas yang di tanganku.


“ maaf, kamu kenapa? Oh iyya , kenalin aku Wahda.” Aksiku tadi menarik perhatian perempuan di sampingku. Sepertinya dia juga seorang pengejar bea siswa sepertiku.


“Oh aku zahra. Aku tadi hany sedikit gugup” ucapku menutupi kejengkelanku.


“ kamu yang tenang. Kita sama-sama berjuang semoga kita diterima yah”


“Iyya, semoga saja yah” ucapku melempar senyum kearahnya. Kelihatannya dia anak yang baik dan pintar. Dari penampilannya sudah bisa di tebak, berkaca mata dan matanya tidak pernah lepas dari buku yang ada di tangannya.


(Saudari Wahda.) suara miqrofon mengagetkanku.


“ semangat” ucapku kepada Wahda sembari mengangkat tanganku. Tak lama berselang Wahda keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


(Saudari Zahra)


Aku melangkah memasuki ruangan dengan perasaan tidak menentu. Saat di depan pintu, kupandangi para dosen yang akan mewawancaraiku. Hufffff, mereka semua kelihatan sangar.


(Silahkan duduk) ucap salah seorang diantara mereka. Mereka pun mulai melontarkan pertanyaan padaku dan aku pun menjawab dengan penuh percaya diri..


(Baik zahra, anda bisa keluar. Tunggu pengumumannya sebentar lagi)


Aku kembali melangkahkan kaki meninggalkan ruangan itu. Kulihat Wahda masih setia menungguku.


“ zahra, gimana? Lancar?”


“Alhamdulillah lancar. Semoga saja di terima” jawabku.


“ oh iyya, kita kekantin yuk!!” Ajaknya


“ maaf Wahda, aku masih kenyang” jawabku. Sebenarnya aku tidak punya uang lebih untuk kekantin. Aku hanya membawa uang pas untuk ongkos.


“Nanti aku yang traktir, tenang saja” ucapnya seakan dia tahu isi kepalaku.


“ kali ini kau lolos, tunggu sampe aku selesai makan. Aku buat perhitungan denganmu,!!!” Gumamku. Wahda yang melihatku hanya menggeleng tak mengerti dengan sikapku. Kulahap bakso dengan rakusnya. Sampai tak tersisa setetes pun. Mungkin orang yang melihatku akan berfikir bahwa aku ini orang kelaparan yang tidak pernah makan selama 3 hari.


“ alhammdulillah. Baksonya enak” ucapku ke arah wahda yang menatapku.


“Mau nambah?”


“Ah. Cukup koq, aku sudah kenyang.” Tolakku. Meski jiwa rakusku meronta. 🤣


Setelah melahap makananku. Aku kembali mengarahkan pandangan ke meja pria tadi. Namun, sudah tak kulihat lagi.


“Kamu mencari saya, nona kucel?” Ucap seseorang tepat di telingaku.


Kubalikkan pandangan dan kudapati pria aneh itu. Amarahku memuncak ketika dia dengan sengaja menjitak kepalaku...

__ADS_1


“Mau kamu apa sih? Tadi pagi sudah menunjukkan arak kepadaku. Sekarang malah menjitak kepalaku!!!” Teriakku ke arahnya yang sontak membuat semua mata menatap padaku.


“Berani juga kamu nona kucel.!!! Apa kamu tak tahu siapa aku?”


“ aku tak peduli siapa pun kamu. Mau kau pemilik kampus ini, anak presiden aku tak peduli dan tak mau tahu. Yang aku tahu kamu hanya pria aneh yang tau sopan santun” ucapku dengan nada keras dan mengarahkan telunjukku tepat ke mukanya. Ingin rasanya kucongkel mata orang ini.. semua orang menatapku denga pandangan sinis.


“ iiih, berani sekali dia. Apakah dia tidak tahu. Sedang berhadapan dengan siapa?” Samar kudengar seseorang berbisik.


“ siapapun kamu, aku hanya mau mengatakan kamu harus bisa lebih menghargai orang lain apalagi orang itu belum kamu kenal. Tampangmu saja yang mewah dan rupawan namun perilakumu seperti sampah!!!” Kata-kataku agak berlebihan.


Byuuuuuurr.... dia menyiramkan minumannya padaku.


“Kamu benar-benar menguji kesabaranku gadis kucel.!” Ucapnya


Aku tidak mau kalah. Aku mengambil es teh yang belum sepenuhnya kuhabiskan. Dan kusiramkan tepat dikepalanya. Dia hanya mematung mendapatkan aksi balasanku.


“ ini supaya kepalamu menjadi dingin!!! “


Plaaaakkk.... seseorang menamparku. Gadis cantik bak model dengan rambut panjangnya. Dan pakaian super ketat yang melekat di tubuhnya.


“ berani-beraninya kamu mempermalukan kekasihku!”


“ oh jadi ini, kekasihmu. Kalian memang cocok untuk bersama. Perilaku kalian sama buruknya”ucapanku kembali memancingnya untuk manjambak rambutku.


“ hehhh. Hehh. Sudah. Kalian lanjutkan saja di ring tinju sana!!!” Ucap pria aneh itu melerai kami.


“Kamu juga Widia. Sejak kapan kamu menjadi kekasihku? Sekarang kau pergi dari sini. Jangan pernah mencampuri urusanku lagi. “ ucapnya dengan nada tinggi.


“ dan kamu. Urusan kita belum selesai!!” Ucapnya kearahku dan berlalu dari hadapanku.


“Ooooh widia. Jadi itu namanya” gumamku sambil melirik wanita yang telah menamparky tadi. Dari tingkahnya sepertinya dia pengagum fanatik pria aneh tadi.


Kulirik wahda, dia hanya menatapku kemudian menggelengkan kepalanya. Dia memberi isyarat kepadaku agar segera meninggalkan tempat ini. Aku pun mengiyakan. Dan segera berlalu dihadapan Widia.

__ADS_1


“Kekasih tak di anggap!!!!” Coletehku dihadapannya. Kukirik dia semakin kesal. Namun kupercepat langkahku menyusul Wahda...


__ADS_2