
Seakan duniaku berhenti saat itu. Semua gelap, kepergian nenek untuk selama-lamanya membuatku semakin tidak percaya dengan arti sebuah kebahagiaan. Baru saja aku mengecap sedikit, namun hilang berganti luka kehilangan yang teramat.
Samar terdengar isak tangis dari orang yang datang berbela sungkawa. Aku semakin tidak bisa membuka mataku, hati ini semakin perih. Hanya genggaman tangan erat suamiku yang mampu menguatkanku.
perlahan kubuka mataku... kulihat sosoj yang terbujur kaku di hadapanku.
" nek, bangun nek!! jangan tinggalkan aku!!"
" zahra, kamu harus kuat sayang. aku yakin nenek akan mendapatkan tempat terbaik di sisiNya." ucap Angkasa berusaha menguatkanku.
Di sampingku, duduk seorang wanita dengan tampilan modis, yang baru kali ini aku lihat. sekilas kulihat matanya berkaca-kaca...
" maa... maafkan Arini" lirih kudengar suaranya.
"mama?" mendengar wanita itu mengucapkan kata mama. pikiranku melanglangbuana.. akankah dia adalah sosok yang selama ini kucari?? ahhh tidak mungkin. dia kelihatannya dari wanita berkelas... segera kutepis semuanya.
" maaf pak, bu, jenazah almarhumah akan segera di mandikan" ucapan pak ustad mengagetkanku.
" baik pak" ucap suamiku.
__ADS_1
" aku mau ikut memandikan nenek Mas" ucapku kepada Angkasa.
" iyya sayang. tapi kamu harus kuat yah!" aku hanya membalas dengan anggukan.
Di tempat di mana aku dan beberapa wanita hendak memandikan jenazah nenek, kembali aku melihat wanita tadi. aku semakin bertanya-tanya. namun aku berfikir mungkin sekarang bukan waktunya untuk memikirkan semua itu. Perlahan kuraih tangan nenek, kubasuh dengan air. inilah tangan yang selama ini memberiku kekuatan, kasih sayang. inilah tangan yang selama ini bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhanku. Inilah tangan yang selama ini mendekapku di kala aku sedang gundah. inilah tangan dari wanita perkasa yang mampu berjuang untukku. air mataku tidak berhenti menetes,, mungkin inilah kali terakhir aku bisa memegangnya. tak terasa jenazah nenek sudah dimandikan dan dikafani.
aku semakin tidak kuat melihat pemandangan itu. kini saatnya mengantarkan jenazah nenek ke peristirahatan terakhirnya. ragaku seakan mati saat itu. dadaku membuncah, tangisan demi tangisan tak mampu ku bendung.
"kamu yang kuat sayang. doakan yang terbaik untuk nenek" suamiku kembali menguatkanku.
" aku tidak punya siapa-siapa lagi mas"
"nenek.... huuuuuhhuuuhu" tangisku kembali pecah. ingin rasanya aku meronta di pemakaman itu. aku tidak sanggup melihat tubuh nenek dimasukkan ke liang lahat. penglihatanku kembali menghitam dan. buuuuukkk.. aku ambruk tak sadarkan diri..
" zahra, sadar sayang. " sayup kudengar suara suamiku. kupaksakan agar mata ini terbuka.
" mas,,, " aku memanggilnya pelan.
" alhamdulillah kamu sudah sadar sayang"
__ADS_1
"minum dulu" ucap suamiku
kuraih gelas yang berisi air putih dan kuminum seteguk.
"maafkan mama sayang!" aku mendengar dari arah samping. sontak aku kaget dan memandangnya. wanita itu...
" maaf ibu siapa??" ucapku sangat penasaran.
" aku arini, ibu yang melahirkan kamu zahra" kata-kata itu bagai bom yang meledak tepat di relung hati terdalamku.
"ibu???" ucapku tak percaya.
" iya aku ibumu sayang!"
mendengar ucapannya itu, aku semakin kalang kabut. ingin rasanya kumaki wanita di hadapanku ini. seorang ibu yang rela meninggalkan putrinya yang masih bayi. bukan aku tidak mau menerima kehadirannya. namun aku merasa kehadirannya tidak tepat saat ini. aku sangat kecewa melihatnya meski rinduku membuncah namun aku juga membencinya. aku tidak tahu perasaan apa yang kumiliki saat ini..
perlahan dia mendekatiku dan memelukku.
"huuuuhuuuu. maafkan ibu nak! ibu memang bersalag kepadamu " ucapnya disertai tangisan. aku hanya membiarkan dia memelukku, entah kenapa tanganku masih kaku untuk membalas pelukannya....
__ADS_1
saat ini aku bagaikan mayat hidup, mati rasa. . . aku tidak dapat menggambarkan diriku saat ini. . yang ada di fikiranku sekarang adalah sanggupkah aku melewatu hidup tanpa nenek, ? dan sanggupkah aku menerima sosok yang sekejap mata hadir dan mengaku sebagai ibu kandungku????