MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Hampir saja


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang kami seakan hemat kata. tidak banyak bicara. Begitu sampai di rumah. Aku bergegas turun dan menyambar barang yang di beli oleh angkasa tadi. Aku berlari-lari kecil menuju kamarku. Kuputuskan untuk segera mandi karena badanku terasa lengket. Setelah kurasa selesai aku keluar dan berencana mengeringkan rambutku.


Baru saja aku melangkah. Kulihat angkasa sedang sibuk dengan gadgetnya. Akupun acuh tak acuh melangkah ke meja rias di kamar itu. Saat tanganku ingin mengambil pengering rambut, angkasa merebutnya.


“Mas, apa-apaan sih?”


“ iya aku mau mengeringkan rambut istriku”


“ aku bisa sendiri mas!” Ucapku sedikit kesal.


“Apa salah seorang suami menyentuh istrinya???”


“Tapi mas...” ucapanku terpotong karena angkasa tanpa permisi mulai membersihkan rambutku.


Ketika Angkasa menyentuhku, ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul. Apalagi ketika Tubuh Angkasa hanya beberapa inci dari tubuhku. Ada perasaan canggung yang menjelma. Cupp... Angkasa tiba-tuba mendaratkan kecupan di tengkukku. Aku seperti akan terkena serangan jantung.


“ begini cukup?” Angkasa mengagetkanku.

__ADS_1


Segera Aku berdiri tanpa memperhatikan angkasa. Aku semakin salah tingkah dibuatnya. Ku baringkan tubuhku di tempat tidur, kuambil selimut untuk menutupi wajahku yang seakan terbakar.


“ ternyata gadis ini, semakin hari semakin menarik. Aku bisa gila kalau seperti ini.” Batin Angkasa.


“ kamu sudah mau tidur?” Tanya Angkasa dan terdengar langkahnya semakin mendekat. Aku kembali bergidik ngeri. Saat kurasakan ada seseorang mencoba mendekatiku, kupecamkan mataku rapat-rapat.


“ kenapa kamu pura-pura tidur zahra?” Bisik Angkasa tepat di telingaku. Hangatnya hembusan nafasnya semakin terasa. Namun, tetap saja aku tak menghiraukan ucapan Angkasa itu. Aku berusaha membangun tembok besar antara kami yang tidak akan di tembus oleh Angkasa.


“ kamu tenang saja Zahra. Aku tidak akan tidur di sini koq aku hanya mau mengambil bantal” ucap angkasa sebelum perlahan turun dari tempat tidur.


“ syukurlah, hampir saja jantungku copot “ gumam zahra dalam hati.


Beberapa saat kemudian kuberanikandiri untuk membuka mata. Kulirik Angkasa yang sepertinya sudah mulai terlelap di karpet dekat tempat tidurku. Entah kenapa, ada energi aneh yang seakan menarikku untuk mendekati lelaki yang kini menjadi suamiku itu.


Kutatap wajahnya yang penuh wibawa, ada rasa yang tak biasa kembali muncul. Tanganku bergerak tanpa permisi menyentuh hidung mancung angkasa yang terukir indah. Tanganku terus bergelirya menyentuh kedua alisnya. Ada senyum yang terlihat di bibir indah Angkasa. Mungkinkah dia belum sepenuhnya terlelap?


“ kamu kenapa menyentuhku sayang?Mengganggu tidurku saja!”

__ADS_1


“ ternyata Mas belum tidur?”


Angkasa serta merta menarik tubuhku hingga terjatuh tepat di atasnya. Sejenak pandangan kami bertemu. Jantungku kembali berdetak tak menentu. Angkasa semakin memandangiku tanpa berkedip sedikit pun.


“ Mas , apaan sih? Kenap menarikku?” Buru - buru aku bangkit menjauh dari Angkasa


“ bukannya kamu sangat ingin menyentuhku?”


“ siap yang ingin menyentuhku Mas? Itu tadi aku khilaf.” Aku mencari-cari alasan yang semakin tidak masuk akal.


“Hmmm, begitu kah? Apa jangan-jangan kamu memang sudah mulai jatuh hati padaku?” Ucap Angkasa dengan nada yang menggoda. Aku diam sejenak, mungkinkah kata-kata Angkasa ini ada betulnya? Ahhh tidak mungkin.


“ huuuuuuft. Jangan mimpi Mas.” Ucapku menutupi rasa ragu di dadaku.


“ jatuh cinta kepada suami itu berpahala zahra”


“Udah deh mas, aku mau tidur”

__ADS_1


Aku melangkahkan kakiku dengan kasar menuju tempat tidurku. Fikiranku bergerilya, mungkinkah cinta itu mulai ada? Beginikah rasanya mencintai pasangan halalku? Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalaku. Hingga akhirnya aku terlelap.


__ADS_2