
Aku kenapa ini? aku benar-benar merasa bersalah atas sikapku selama ini kepada ibu.. saya tidak pernah menyangka, penderitaan ibu selama ini mungkin aku sendiri tidak akan sanggup melewatinya. Rasa bersalah terus saja menyelinap dalam hatiku. Aku bertekad untuk menebus satu per satu rasa ini.
" sayang, koq melamun! matamu ini sepertinya bengkak?? habis nangis yah?" Angkasa suamiku tiba-tiba masuk dan mengagetkanku.
" Ah nggak koq Mas, aku hanya kelilipan aja" bohongku mencoba untuk menutupi bahwa aku seharian menangis karena cerita ibu.
" kelilipan koq sampai bengkak gitu, kalo kelilipan lebah masuk akal sih! tapi awas saja kalo lebah itu kembali membuat matamu bengkak, aku akan buat perhitungan dengannya" Suamiku mencoba menghiburku.
"kamu sudah tidak mual lagi?" tanyanya kemudian.
" tidak lagi mas!" jawabku.
" baguslah kalau begitu kita ke dapur yuk. tiba-tiba mas lapar!!!"
" tapi mas aku lemes rasanya"
" nggak usah jalan, aku gendong yah!" Mas Angkasa pun meraihku dan menggendongku turun ke dapur.
" ehemmm,, dunia serasa milik berdua, sampai lupa kalau ada orang juga di rumah ini, suit..suit... suit.." Goda Bibi ketika kami tiba di dapur.
" begitulah ketika sepasang kekasih di mabuk cinta. Garam pun kadang di sangka Gula" ibuku menimpali, terus menggoda kami. kulihat suamiku hanya tersenyum mendengar mereka.
"oeeeekkk..." bersamaan saya dan suamiku merasa mual.
" bau apa ini bi?" tanyaku.
" Bibi cuma buka kulkas koq Nyonya..." jawabnya dan kembali membuka kulkas.
" oeeekkk, oeeekkk " suamiku kali ini sepertinya sudah tidak tahan lagi. Dia berlari ke wastafel .
__ADS_1
" Bu, Mas Angkasa kenapa yah bu? perasaan tadi dia baik-baik saja!" tanyaku dengan heran kenapa suamiku tiba-tiba mual layaknya orang ngidam.
" itu biasa terjadi nak. kadang suami juga merasaka ngidam. tapi koq aneh yah, masa' ngidamnya dengan nah kulkas?" kata ibuku kemudian.
" Aneh tapi nyata bu" bibi menimpali.
Kulihat wajah suamiku kusut berjalan menuju meja makan.
" bagaimana Mas? udah agak baikan?"
" aku kenapa sih sayang koq tiba-tiba mual begini?"
" kata ibu Mas juga mengalami ngidam. itu biasa katanya. iya kan bu?"
" iya Nak. tapi biasanya kalau suami yang ngidam. istri sudah agak enakan bahkan sampai berhenti ngidamnya."
" Anak ayah, masih kecil sudah merepotkan Ayah.!" ucap suamiku dan membelai perutku yang sudah mulai buncit. Kembali kehangatan menghampiriku. Aku sangat bersyukur karena memiliki suami sepertinya. perlahan kubelai kepalanya.
" hmmmm, mulai dehh. bermesraan lagi kan Tuan. Atau aku buka kulkas lagi nih." goda bibi.
" silahkan buka kulkas, kalau bibi mau aku pecat. mau?!"
" hehehhe. nggak berani tuan. hanya saja jiwa jombloku meronta kalau melihat yang beginian Tuan" seloroh Bibi.
" Nanti aku jodohin sama kang Ujang yah" aku menimpali.
" iiiiiichhh. nggak usah Nyonya, kang Ujang kan sudah punya istri. aku nggak mau jadi pelakor!"
" Daripada jomblo mending jadi yang kedua!" ucapku terus menggoda bibi.
__ADS_1
" iii hhh. amit-amit nyonya lebih baik aku Jadi JOMBLO TERHORMAT, daripada harus jadi yang kedua!"
" sudah, sudah ayo makan!" kata ibu kemudian. Kami pun makan dengan lahapnya, sesekali ibu menyuapiku layaknya anak kecil yang baru belajar makan. Aku sangat bersyukur masih sempat bertemu dengan ibuku ini. Aku pun sesekali menyuapinya... kehangatan dalam rumah ini terus tercipta. .
" Ibu, aku nambah lagi donk" ucap Angkasa.
" tumben Mas makannya banyak.." ucapku. Aku heran baru kali ini suamiku makan terlalu banyak.
" nggak tau Nih rasanya Mas tidak kenyang-kenyang"
" sudah, biarkan saja. ayo makan nak Angkasa" ucap ibuku kemudian sembari menaruh beberapa lauk di piring suamiku ...
Malam yang semakin larut mengundang hawa dingin yang semakin menusuk. Aku baru saja hendak terlelap, tiba-tiba mendengar hp suamiku berdering... Akupun mencoba mengangkat panggilan itu. sepertinya telepon dari Pak Ali, satpam perusahaan.
" Halo. iya ada apa pak? oh iya, sebentar saya bangunkan!" kataku kemudian membangunkan suamiku.
" mas, ada telpon dari pak Ali nyariian mas,.." kulihat suamiku mulai bangun dan berbicara dengan mata beratnya.
" Halo, pak Ali. apa?? kebakaran? kantor kebakaran? oh iya. saya segera ke sana" ucap suamiku buru-buru.
" Sayang, kantor Mas kebakaran. aku sekarang ke sana Yah. tolong hubungi Papa sama Mama,"
" aku ikut yah Mas."
" nggak usah sayang, kamu ini lagi hamil.kamu di sini saja yah. nanti Mas kabarin" ucapnya dan berlalu meninggalkanku, entah bagaimana, rasanya berat kali ini untuk membiarkan Mas Angkasa pergi..
" semoga semua baik-baik saja" gumamku. Setelahnya aku menghubungi Papa dan Mama mertuaku perihal kebakaran di kantor suamiku. Perasaanku semakin tidak karuan setelah beberapa saat belum mendapat telpon dari suamiku. Aku terus saja kepikiran tentangnya.
" Tuhan, lindungi dia suamku" ucapku lirih
__ADS_1