MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Menghindar


__ADS_3

Kupercepat langkahku menuju lapak tempat nenek berjualan. Dari kejauhan pandanganku menangkap sosok yang tak asing lagi dimataku. Kususun langkah demi langkah untuk memastikan kebenaran dari apa yang aku lihat.


“Kamu , kenapa ada disini? “ tanyaku pada Furqon penuh keheranan. Karena tak biasanya furqon menemani nenek jualan. Lagi lagi dia hanya menjawabku dengan sebuah tatapan yang dihiasi senyuman khasnya.


“ nek, apa nenek yang memintanya ke sini?” Tanya ku pada nenek menunjukkan ketidakpuasanku.


“Ya nak, tadi pagi aku minta tolong ke nak Furqon untuk membantuku membawa beberapa barang ketika pulang nak, kamu tau sendiri kan. Nenek sudah tidak muda lagi, tenaga nenek tidak mampu lagi untuk mengangkat barang barang uang berat” jawab nenek panjang lebar. Sejenak aku terhanyut menatap nanar ke orang tua yang selalu mendampingiku ini. Ada perasaan sedih menyusup ke sanubariku.


“Aku janji nek, aku akan membalas semua jasa jasamu , semua perjuanganmu untukku” gumamku dalam hati. Tak terasa bulir air mata jatuh tak terbendung lagi.


“Kamu kenapa nangis nak? Kamu sakit?”


“ maafkan aku nek, karena aku nenek harus bekerja keras seperti ini. Maafkan aku karena belum mampu membahagiakan nenek” ucapku sambil memeluk nenek.


“ zahra, ternyata kamu cengeng juga?” Kata Furqon di sertai tatapan mengejek. Sontak aku mengangkat kepalaku. Tak biasanya, dia mau ikut campur dengan urusan orang. Tapi kali ini, entah setan apa yang merasukinya.


“Apa pedulimu?!” Jawabku ketus

__ADS_1


“ aku mau nangis kek, mau cengeng kek, itu urusanku. Kalo kau mau nangis juga, nangis aja sana!”


“ aku ini laki-laki, nggak mungkinlah mau bertidak seperti itu”


“ ya udah, kalo kamu laki-laki, nggak usah urus urusan wanita, kamu mau jadi waria?” Jawabanku kali ini berhasil memancing senyum khas furqon. Namun ku tepis semuanya karena aku tidak mau terlalu lama larut dalam perasaanku dan semakin menyakiti perasaan Sari.


“Sudah sudah, kalian kenapa sih? Bertengkar di tempat umum, malu tau diliat orang”. Kata nenek berusaha menenangkan kami.


“ kamu juga Zahra, kenapa kamu tiba- tiba marah ke nak Furqon? Bukankah tadi pagi kalian baik- baik saja” lanjut nenek


Andai nenek tahu, aku juga tidak mau bertindak seperti itu tapi keadaan memaksaku untuk menghindari Furqon. Meskipun begitu aku tidak tahu apakah tindakanku ini sudah benar atau hanya akan menyakiti perasaan kami bertiga.


“Baik nek” jawab kami sembari membantu nenek.


Kami naik angkutan umum menuju desa kami tinggal, angkutan ini memang biasa mengangkut para pedagang pasar di sore hari. Suasana sesak dalam angkutan, tercium bau amis dari penjual ikan, dan bau bau yang begitu menusuk hidung. Namun aku sudah terbisa dengan semua itu. Tidak dengan Furqon, kulihat dia sekuat tenaga menahan mual. Kulit wajahnya yang putih berubah merah dan berkeringat. Tiba-tiba...


Deeeeeerrrrrt, suara rem angkutan yang tiba tiba berhenti. Hampir membuat aku ambruk ke arah Furqon, tapi serta merta Furqon menghindariku sehingga aku jatuh bersujud di lantai angkutan. Seketika kulihat dia tertawa begitu juga dengan penumpang yang lain. Mungkin di sengaja mengerjaiku.

__ADS_1


“Dasar tidak punya hati. Bukannya membantuku malah menertawakanku” gumamku


“ mau kubantu” ucap furqon sembari menjulurkan tangannya . Namun, segera kutolak dan berusaha berdiri sendiri dengan tenaga yang tersisa.


“ bapak, bisa nyetir nggak sih pake ngerem mendadak, aku jadi jatuh kan?”


“Maaf neng, tadi ada kucing “ ucap pak sopir sembari melirik kepadaku melalui kaca spion. Kemudian kembali melajukan kendaraannya menuju desa kami.. rasa kesal di hatiku kembali menjadi jadi ketika kulihat furqon dan nenek tertawa cekikikan sambil melirikku.


Tak lama kemudian kami sampai di rumah. Rumah yang sangat sederhana, berdinding anyaman bambu. Namun bagiku inilah tempat ternyaman untukku. Kuperhatikan Furqon juga turun sambil membantu nenek mengangkat barangnya. Ya, rumah Furqon memang tak jauh dari rumahku, hanya sekitar lima rumah dari rumahku. Dia tinggal berdua dengan ayahnya yang seorang pengusaha meubel di daerah kami. Setelah membereskan barang nenek diapun pamit untuk pulang.


“Nek, zahra aku pulang dulu” ucapnya sambil menatapku tapi segera kubuang pandanganku. Melihat tingkahku itu. Dia hanya tersenyum dan berlalu dari hadapanku.


“Huuuuu, pulang aja sana!” Ucapku sambil menendang kecil tanaman dihalaman. Namun, tak disangka aku menendang pot bunga yang terbuat dari semen di halaman rumahku.


“Awwwwww, aduuuuuh sakit!!” Teriakku menahan sakit.. sontak furqon membalikkan badan dan mengeleng-geleng melihat tingkahku. Kemudia kembali melangkahkan kakinya pulang.


“ Ya tuhan, zahra kamu kenapa nak”

__ADS_1


“ nggak apa-apa nek” jawabku sambil memegangi kakiku menahan sakit. Mungkin ini hukuman untukku karena telah membohongi perasaanku sendiri. Namun aku telah bertekad, untuk mengubur dalam-dalam perasaanku ini.


__ADS_2