
Rasa mual yang terus menderu membuat aku memilih untuk kembali tidur.
" sayang, kamu beneran nggak apa-apa?"
"tidak apa-apa Mas"
" aku panggilin dokter yah." muka suamiku menyiratkan kekhawatiran yang sangat.
" nggak usah mas, aku mau tidur saja"
" baiklah kalau begitu. aku mau ke kantor dulu, kamu nggak apa-apa kan? aku tinggal dulu?"
" nggak apa-apa mas"
" nanti aku minta ibu untuk menjagamu sayang" aku hanya tersenyum mendengar perkataan suamiku itu.
Suamiku mendekatiku dan mencium keningku lembut. Perlahan cinta di antara kami semakin mekar tak terbendung. Aku merasa sangat takut kehilangan suamiku itu. Kupeluk dia erat-erat sebelum akhirnya dia berangkat ke kantor.
" kamu baik-baik di rumah sayang, kalau ada sesuatu telpon saya"
"iya mas"
"Assalamualaikum"
"waalaikumusalam"
Baru saja aku hendak menutup mataku, tiba-tiba pintu kamarku di ketuk oleh seseorang.
tok....tok....tok...
" iya masuk" teriakku dari dalam.
ketika daun pintu terbuka, kulihat ibuku masuk dengan membawa segelas susu di tangannya.
" maaf nak, ibu mengganggu" ucapnya terbata-bata.
" iya, nggak apa-apa bu. silahkan masuk"
" ibu membawa susu hangat, kamu minumlah dulu sebelum tidur. Biasanya dengan meminum susu kita akan mudah terlelap"
" baiklah" Akupun meraih gelas susu di tangan ibuku.
Baru separuh dari susu di gelas itu masuk di perutku. Rasa mual itu muncul kembali. Kuletakkan gelas di meja samping tempat tidurku dan berlari ke kamar mandi.
oeeeekkk. oeeek. oeeekkk ...
__ADS_1
Setelah kurasa cukup aku keluar. Kulihat ibu menatapku dengan rasa bersalah.
" kamu kenapa nak! kamu sakit?"
" aku tidak tahu bu, sejak kemarin aku terus mual"
" tidak pergi ke dokter nak?"
" nggak usah bu. aku mau tidur saja" ucapku dan meraih selimut di tempat tidur.
" kalau begitu ibu bantu pijit yah biar agak enak perasaannya"
" nggak usah bu"
" tidak apa- apa ayo sini berbaringlah"
Aku tidak bisa lagi membantah perkataan ibu. Dan dia mulai memijit kakiku. Rasanya agak lumayan untuk menghilangkan lelahku. Baru kali ini aku mendapatkan sentuhan hangat seorang ibu. sekilas kulihat ibu tersenyum ke arahku.
" tidurlah Nak!" aku mengangguk pelan. benar saja mataku mulai tertutup, dan terbang ke alam mimpi.
Aku terbangun ketika waktu menunjukkan pukul 04. pp sore hari. Badanku terasa segar, mungkin ini efek dari pijatan ibu.
" kamu sudah bangun sayang?"
" Baru saja.. bagaimana keadaanmu sayang?"
" sudah baikan Mas, oh iya Mas ibu di mana?"
" Barusan kulihat dia di kamarnya sayang, mungkin sedang menerima telpon dengan seseorang"
"ohh" jawabku ber oh ria.
" lebih baik mandi, supaya agak seger Mas liatnya." ucap suamiku sambil tersenyum.
" jadi maksud Mas apa! aku nggak kelihatan menarik gitu?" ucapku sedikit emosi.
" aku kan cuma bercanda sayang" ucapnya sambil memelukku erat.
" atau jangan-jangan Mas habis melihat wanita lain yah? Yang lebih muda, cantik, seger gitu!" entah mengapa aku terbawa perasaan dengan ucapan suamiku tadi.
" Astaga sayangku... wanita mana sih yang mampu menandingi istriku ini?!"
" sudahlah mas! aku mandi dulu, supaya terlihat segeeeerrr!" aku masih dongkol.
Kulihat suamiku hanya menggeleng-geleng kepala dengan ucapanku itu.
__ADS_1
Saat turun ke bawah untuk makan malam. Kulihat dengan lihai ibuku menyiapkan makan malam. Ada sesuatu yang membuat hatiku terasa hangat dengan pemandangan itu.
" ayo makan nak!"
" iya bu, ibu nggak usah repot-repot di dapur, kan ada Bi surti bu"
" nggak apa-apa nak!" kira-kira seperti itulah percakapan ibu dan suamiku. hidungku seperti mencium sesuatu yang membuat perutku terasa teraduk-aduk seperti biasanya.
oeeekkk, oeeekk, oeekkk .
" kau kenapa sayang?"
" aku mual lagi mas, bau apa ini?"
" bau apa sayang ini makanan favorit kamu denga nenek?"
" aku kenapa yah mas? perasaanku nggak enak banget, Aku tiba-tiba tidak bisa makan makanan itu"
" boleh aku minta buah bi? aku mau makan buah saja kalau begitu.."
" biar aku saja yang ambilkan" ucap ibuku kemudian.
Tak lama berselang, dia datang membawa beberapa irisan buah apel dan jeruk. Dan akupun memakannya.
Keesokan harinya, Mas Angkasa memutuskan untuk membawaku ke rumah sakit.
" kenapa dengan istri saya dok?"
" hmm, istri bapak tidak apa-apa, itu hanya gejala awal kehamilan pak" jelas dokter kemudian.
" apa dok? hamil?" tanyaku serentak. Dan dokter hanya mengangguk mengiyakan. Sontak kulihat suamiku berbinar-binar. Mencium aku berkali-kali di depan dokter.
" Mas, lepaskan. Malu di lihat orang" bisikku.
" Makasih sayang" ucap suamiku sembari mengusap perutku yang masih rata itu. setelah menebus beberapa obat, kami langsung pulang kerumah. Dalam perjalanan, suamiku tidak pernah melepas genggamannya dari tanganku. Senyumnya senantiasa menghiasi wajahnya yang tampan. Aku sangat bersyukur mendapatkan suami sepertinya.
Ketika memasuki halaman rumah kulihat ada sebuah mobil yang terparkir di sana. Baru kali ini aku melihatnya.
" Bi, itu mobil siapa?"
" oooh, itu katanya teman nyonya, aku saja baru kali ini melihatnya nyonya." jawaban Bi Surti membuat aku menerka-nerka. Mungkinkah dia adalah Sari sahabatku. Ataukah Furqon?
kulangkahkan kaki masuk ke ruang tamu. dan kulihat mereka duduk sambil bercengkrama.
" Sarii!!!! kapan tiba? kamu tahu alamat rumahku dari siapa?" tanyaku sambil melihat seseorang yang tidak asing dengan wajah yang ditekuk. Ada apa dengannya????
__ADS_1