MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Samar


__ADS_3

Semenjak kepergian angkasa. Aku hanya terus menatap layar tv yang ada di ruang tengah. Aku terhanyut dalam sinetron yang di sajikan stasiun ikan terbang. Tak terasa berjam-jam aku duduk di depan tv, hingga rasa kantuk mulai menyerang. Ku baringkan tubuhku di sofa... hari ini aku tidak masuk kampus, jadi kugunakan waktuku untuk bersantai ria. Akupun kembali terlelap dalam dunia mimpi.


“ sari, selamat yah. Semoga menjadi keluarga sakinah mawahdah warohmah” kulihat sari sahabatku tersenyum sumringah. Ada pancaran kebahagiaan yang mewarnai rona wajahnya. Manik mataku menangkap seorang yang tak asing sebagai mempelai pria.


“ furqon, aku titip sahabatku yah” ucapku meneteskan air mata. Entah perasaan bahagia ataukah perasaan cinta yang belum tuntas kepadanya akupun tidak tahu.. kurasakan tangan kekar mulai memegang pundakku menguatkanku. Kemudian kami berjalan menjauh dari singgasana pesta saat itu. Air mataku terus mengalir tak terbendung, terasa hangat..


“ zahra, bangun sudah waktu dzuhur.” Samar kudengar seseorang membangunkanku.


“ hmmmmm, iya” perlahan kubuka mata. Tak kusangka aku sudah berada di kamar tidurku. Kutelisik setiap inci di ruangan itu. Kutemukan sosok kekar sedang berdiri menatapaku.

__ADS_1


“ sayang, kamu mimpi apa sih? Kulihat tadi saat tertidur sepertinya kamu sedang menangis” tanya Angkasa padaku.


“Ti... tidak kok. Aku tidak mimpi apa-apa mas” jawabku berbohong. Aku kembali teringat mimpiku. Baru kali ini aku memimpikan mereka berdua. Memang sejak lama kami belum pernah saling memberi kabar. Mungkinkah kedua orang yang memiliki tempat khusus di hatiku itu mulai melupakanku?


“ hmmmm, tuh kan melamun lagi, lebih baik segera wudhu biar fikiran kamu jadi segar kembali” bisik Angkasa tepat di telingaku. Aku bergegas meninggalkannya. Namun, belum sempat aku masuk ke kamar mandi. Sesuatu kembali mengusik fikiranku.


“ kamu coba fikir sendiri.” Ucapnya dingin.


“ apa jangan-jangan aku tidur sambil berjalan mas?”

__ADS_1


“ Dasar, apakah kamu sama sekali tidak merasakan bahwa aku yang membopongmu ke sini?” Angkasa mencoba menjelaskan. Namun lagi-lagi aku bertingkah bodoh. Kuperhatikan seluruh pakaian yang masih melekat di tubuhku. Syukurlah...


“ apa yang kamu fikirkan sayang? Aku bukan tipe laki-laki yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku tidak mungkin melakukan apa yang ada di fikiranmu itu tanpa kerelaanmu istriku” ucap angkasa kemudian memalingkan tubuhnya. Aku pun bergegas masuk ke kamar mandi. Setelah keluar kulihat dua sajadah sudah terhampar di kamarku. Aku mengangkat alis sebelah. Merasa ada yang aneh dengan suamiku itu. Baru kali ini dia memintaku untuk berjamaah.


Setelah selesai. Dia mengulurkan tangannya ke arahku. Tanpa banyak fikir aku pun menyambut uluran tangannya itu. Kukecup punggung tangannya. Ada rasa hangat dan nyaman yang seketika kurasakan saat itu. Apalagi setelah Angkasa mengecup keningku tanpa permisi. Aku kembali tak bisa mengontrol perasaanku. Aku hanya menundukkan kepala untuk menutupi rasa maluku.


“I love you zahra.” Samar kudengar angkasa mengucapkan itu. Aku mencoba melihat sumber suara itu, namun dia tak ada lagi di hadapanku. Dia sudah berdiri merapikan sajadahnya.


“Apa aku salah dengar? Mana mungkin dia mengucapkan itu padaku? Mungkin aku yang terlalu banyak berharap padanya sampi berhalusinasi seperti ini.” Gumamku menepis segala kemungkinan di hatiku. Kulihat sekilas dia berbalik dan tersenyum kepadaku. Mungkinkah dia menertawakan kebodohanku ini???

__ADS_1


__ADS_2