
Rembulan seakan enggan menampakkan wajahnya. Bintang seakan tenggelam dalam tidurnya. Akankah dia merindukan hujan yang lama tak bersua? Perlahan rintik air yang dingin mulai menyentuh bumi. Seketika ada rasa ragu untuk melangkahkan kaki dari tempat pembaringanku.
“ sayang, makan malam dulu” suara angkasa terdengar lembut.
“ maaf mas, aku tidak lapar” jawabku singkat. Seakan masih betah menikmati turunnya hujan di malam ini.
“ zahra. Kamu tenang saja, meski kamu gendut atau tubuhmu melar kaya bola. Kamu tetap cantik koq di mataku” rayu Angkasa
“ iiiiihhh, apa hubungannya makan malam dengan tubuh yang kaya bola? “
“ siapa tau, kamu sedang diet tidak mau makan malam karena takut gendut, iya kan?”
“ Mas Angkasa Wijaya, aku ini tidak seperti kebanyakan perempuan yang begitu memperhatikan bentuk tubuhku. Kalau suamiku menerima aku apa adanya untuk apa juga aku menganiaya diriku dengan tidak makan?”
“ hmmm, suami? Sepertinya kamu sudah menerima pernikahan kita ini yah” ucap angkasa dan mendekatka posisi tubuhnya padaku. Aku yang semakin risih berusaha setenang mungkin.
“ yah mau apa lagi toh sudah terjadi kan mas?”
“ jadi kamu sudah siap menjadi istriku seutuhnya” kata Angkasa sembaru menyelipkan rambutku kebelakang telingaku. Aku yang mendapatkan perlakuan seperti itu, mendadak beku.
“ bukannya tadi mas mau makan malam?” Ucapku sembari bergegas berdiri. Aku semakin salah tingkah.
“ ayo mas. Aku sudah lapar” ucapku ke suamiku itu yang masih setia menatapku.
“ hmmm, perutmu itu benar-benar aneh yah sayang. Baru beberapa menit yang lalu kamu bilang kenyang, sekarang mendadak lapar.” Ucap angkasa menyindirku dan tersenyum kecil ke arahku.
__ADS_1
“ tau ahh” aku meninggalkan Angkasa. Jantungku sepertinya akan copot saat Angkasa memandangku seperti tadi.
“ selamat malam nyonya.” Bi Surti menyapaku dengan senyum khasnya.
“Malam bi.. makanannya udah siap?” Tanyaku
“ sedikit lagi nyonya”
“Iya bi.” Ucapku santai dan meraih ponselku sembari menunggu bibi selesai menyiapkan makanannya.
“ hmmm, bukankah tadi mau makan, lapar katanya. Koq sekarang main hape?” Lagi- lagi angkasa mengagetkanku. Aku hanya tersenyum kikuk.
“ nah, ini Rendangnya sudah siap” ucap bi surti sambil meletakkan rendang di meja makan. Aromanya sungguh menggugah selera. Penghuni di perutku ini sepertinya sedang konser tidak tahu situasi...
“Tuh kan, lapar. Ayo makan” ucap Angkasa dan meraih piringku dan mengisinya dengan makanan.
“ Mas, cukup itu kebanyakan”
“ ini kan untuk kita berdua sayang”
“ tapi Mas kan, bisa pake piring sendiri? Koq jadi ribet begitu” Angkasa hanya melempar senyum.
“ zahra, sayangku. Apa kamu lupa perkataanku tempo hari.? Aku kan sudah bilang kita akan makan sepiring berdua” hatiku seketika berdesir mendengar ucapan suamiku itu.
“ aaaaaa. Buka mulut sayang” angkasa menyuapiku layaknya anak kecil.
__ADS_1
“ mas, aku malu di liat bibi”
“ kenapa mesti malu. Kamu kan istriku.”
“ bukan itu maksudku mas, tapi jangan sampai jiwa jomblonya Bi Surti meronta” ucapku menggoda Bi Surti sambil melirik tipis ke arahnya yang sedari tadi berdiri di sampingku menatap kami.
“ nyonya, meledek aku yaa, meski aku jomblo begini. Masih ada yang mau koq sama aku nyonya. Saya saja yang bertahan tidak tergoda dengan laki-laki yang tidak jelas” Di lihat sekilas Bi Surti belum terlalu tua. Dari Raut mukanya kelihatan bahwa dia masih muda.
“ maaf bi. Aku bercanda”
“ nggak apa-apa nyonya, aku kebelakang dulu”
Kami berdua hanya mengangguk.
“ kamu tidak mau menyuapi aku Sayang?” Angkasa menawarkan diri padaku.
“ hmm, buka mulut” ucapku sambil menyuapinya. Dia tidak menyadari bahwa aku menyelipkan sebiji cabe rawit dalam gulungan nasi yang kusuapkan padanya. Sekali-kali aku menjailinya, tidak apa-apa kan.? Lirihku dalam hati.
“Haaaaaa, pedaaas... puuuh. Puuuuh” dia histeris sambil memuntahkan makanannya. Aku yang melihatnya hanya cekikikan dan meraih air minum untuknya. Sebenarnya aku kasian melihatnya, tapi melihat mukanya yang memerah aku merasa lucu sendiri.
“ zahra, kamu menjailiku yah. Tunggu pembalasanku malam ini juga. Siapkan dirimu” ucapan angkasa kali ini sepertinya sangat serius seperti mau memangsaku. Seketika hawa dingin menusuk hatiku. Bayangan-bayangan apa yang akan di lakukan Angkasa kepadaku kembali menghiasi kepalaku.
“ Sayang.sudah selesai kan makannya? Ayo ke kamar!” Ucap Angkasa dengan sedikit penekanan membuatku semakin bergidik.
“ lindungi aku Tuhan.” Aku meracau tak jelas sambil mengikuti langkah Angkasa.
__ADS_1