
Kehilangan suamiku seakan menjadi awal hilangnya hidupku. Aku seakan berjalan namun tak berasa, aku dalam fikiran ang masih terus tertutup tebalnya debu kehilangan. Aku sedih, bergejolak rasa rindu yang kian bertambah seiring dentang jam yang terus berbunyi. Wajah suamiku yang telah beralih ke dunia lain semakin membayang, wajah yang telah terukir indah di hati dan ingatanku. Apalah artinya aku tanpa Angkasa, suamiku, laki-laki istimewaku. Nestapa terus merundungku, hingga semangat untuk kembali menata hidup seakan hilang. Ku elus perutku yang semakin membuncit, apa yang harus kukatakan ke anakku kelak ketika iya bertanya tentang ayahnya??? sanubariku kembali menghangat mengingat semua kenangan yang tercinta di antara kami.
" Zahra, makan dulu nak!" ibuku datang membawa sepiring makanan di tangannya. Netraku menangkap sesuatu di ujung mata ibuku itu..
" Aku nggak lapar bu.." ucapku pelan.
" Nak kamu harus makan demi bayimu, saya yakin suamimu sekarang tenang di sisinya"
" Bu, . . uhhhhuuuuhuuuuu " kuraih pinggul ringkih ibuku kuluapkan lagi air mataku. Hatiku masig sesak, setelah kehilangan nenek, sosok yang sangat kusayangi. sekarang aku harus kehilangan suamiku, Angkasa, suami yang sangat kucintai. Dia seakan membawa separuh hidupku.
"Nak, sudahlah nak, kamu harus banyak bersabar. Bayimu pasti akan merasakan sedih jika ibunya terus seperti ini?"
__ADS_1
" Bu, bagaimana bu? bagaimana caranya aku melanjutkan hidup sementara, suamiku adalah hidupku Bu.!" aku memberontak.
" Nak, apa kau lupa? ada benih suamimu di perutmu. seharusnya kamu bersyukur, masih ada sisa suamimu untukmu. Ada darahnya yang mengalir dalam benih di rahimmu nak! Kamu harus kuat!!!"
" Bu, aku wanita bu, aku rapuh" aku semakin melemah.
" Nak, kita boleh saja kehilangan orang yang sangat kita cintai, namun kita tidak boleh hilang semangat, apalagi sampai kehilangan Allah di hatimu. Ingat nak, Allah punya skenario indah di balik ini!!" Kata - kata ibuku bagai cambuk untukku. Bagaimana mungkin aku lupa masih punya Tuhan, selayaknya aku mengelug padaNya. Berkali-kali aku mohon ampun. Lelah ...
Tak lama terdengar azan magrib, segera aku beranjak dan meraih sajadah. Pikiranku kembali bergerilya, bayangan saat suamiku mengimami sholatku waktu itu kembali muncul. Aku seakan melihatnya berdiri di hadapanku. Kuraih sajadah yang biasa di pakainya, masih tersisa harumnya di sana, bulir hangat kembali menetes. Mas, aku rindu. Baru beberapa hari kepergiannya aku semakin rindu. Seandainya aku boleh meminta untuk menyusulnya segera mungkin akan kulakukan namun pandanganku kembali tertuju ke perut buncitku, pergerakan lembut mulai kurasakan dalam perutku. Mungkin inilah satu-satunya alasanku untuk bertahan dan melanjutkan hidup. Setelah kutunaikan kewajibanku, keluhanku yang terbatas kukeluhkan semuanya. Fikiranku semakin lelah, hingga aku tertidur di atas sajadahku dengan dihiasi linangan air mata kehilangan.
" Mas, jangan pergi Mas aku tidak bisa hidup tanpamu mas" aku terus menarik tangan suamiku berharap dia tidak meninggalkanku.
__ADS_1
" Dek, istriku sayang. Maafka suamimu ini, mungkin hanya sampai di sini kita berjodoh. Mas harap kamu bangkit tanpa mas, jaga anak kita baik-baik. Mas yakin kamu bisa. Aku mencintaimu Zahra, istriku" Kata-kata lembut suamiku menghiasi telingaku.
"Mas, jangan pergi mas!!! mas, Maaaaaaaaass!!!" aku terbangun dengan peluh di seluruh badanku. Aku melirik jam dinding di kamarku, jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Lambungku mulai kurasa perih, demi anakku aku bangkit menuju dapur meski badanku masih kurasa lemah.
Di dapur bayangannya kembali muncul, bayangan kala dia memasak untukku di awal kehamilanku, bayangan kebersamaan kami dengan nenekku, bayangan saat pertama kali aku makan dengannya di meja ini. Bulir kristal kembali keluar tak terbendung. Mas, aku harus bagaimana mas, rumah ini penuh dengan bayanganmu...
" Nyonya, ini makan malamnya. Nyonya baik-baik saja?" Bibi mengagetkan lamunanku.
"Nak, mama tahu kamu sangat kehilangan. Begitu juga dengan ibu Nak, mama kehilangan permata hati mama, anak mama satu-satunya. Tapi kita harus kuat nak, ini takdir yang maha kuasa, sekarang kamu fokus mengurus dan menjaga kandunganmu Nak. Hanya itu harapan Mama satu-satunya Nak!" Mertuaku mama Angkasa terus menyemangatiku meski aku bisa menangkap bahwa dia juga menahan sakit yang tak terhingga karena kehilangan anaknya. Aku memeluk Mama mertuaku itu. Ada papa mertuaku juga yang masih menyembunyikan kesedihannya dengan hanya tertunduk, ibuku yang terlihat murung dan hanya mengaduk-aduk makanannya, sementara bibi yang hanya memandangiku dengan iba, seandainya dia masih di sini, aku mungkin sedari tadi melahap makanan di meja ini.
"maafkan ibu nak!" ucapku lirih dengan air mata tak terbendung dan mengusap perutku.
__ADS_1