MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Menikah


__ADS_3

Hari pernikahan yang telah di tentukan pun tiba. Zahra tampil dengan baju kebaya dan balutan hijab di kepalanya membuatnya semakin tampak mempesona. Di tempat lain Angkasa menggunakan stelan jas yang elegan sangat serasi dengan tubuhnya yang tinggi semampai.. mereka benar-benar terlihat bagai raja dan ratu seharian.


“ saya terima nikahnya Zahra binti Muhammad imran dengan mas kawin emas lima belas gram dan seperangkat alat solat di bayar tunai” ucap angkasa sangat lantang. Seakan tanpa beban.


“ sah” suara para tamu undanga yang hadir menggelegar di ruangan itu. Sontak air mataku menetes. Apakah ini air mata kebahagiaan atau kah sebaliknya. Saat ini aku sudah sah menjadi istri Angkasa. Nenek yang sedari tadi memperhatikanku, berhambur ke arahku dan memelukku erat, terakhir iya mengecup keningku. Kurasakan bulir kristal semakin banyak yang keluar dari bola mataku. Babak baru dalam kehidupanku sudah terbuka.


Acara malam itu berlangsung sebagaimana mestinya. Setelah semua tamu telah pulang, kami sekeluarga duduk bersama. Ada orang tua Angkasa yang kini juga telah menjadi orang tuaku, dan tentu saja ada nenek di sana.


“ Angkasa anakku, mama sangat bahagia melihat kamu sekarang telah menjadi seorang suami. Rasanya baru kemarin mama menggendongmu nak. Sekarang ada Zahra, istrimu yang sekarang menjadi tanggung jawabmu. Mama harap pernikahan kalian ini membawa kebahagiaan dalam hidup kalian. Dan pastinya aku sudah sangat ingin menggendong cucu, penerus dan pewaris keluarga Wijaya.” Kata mama sambil melirik ke arahku.


Aku yang mendengar itu , hanya bisa tertunduk. Bagaimana mungkin memberikan seorang cucu. kami ini tidak saling mencintai. Kami menikah karena semata- mata hanya untuk membahagiakan kalian.


“Zahra. Kamu telah menyandang status sebagai istri. Mulai sekarang hargai dan layani Angkasa sebagai suamimu nak.” Nenek menasehatiku.


Setelah lama berbincang dengan keluarga. Zahra merasa sangat letih, tak sadar dia pun tertidur di tempat itu dengan bersandar di lengan Angkasa.


“ sepertinya istrimu sudah letih nak. Angkat dia ke kamar. Kalian istirahat, ingatlah untuk begadang” ucap papa Angkasa dengan nada menggoda

__ADS_1


“ papa apaan sih. Bukankah papa meminta Angkasa istirahat, tapi juga menyuruhku untuk begadang!” Angkasa tidak mau ambil pusing lagi. Secepat kilat dia membopong tubuh gadis kecil yang kini sudah menjadi istrinya itu.


Di kamar Angkasa membaringkan Zahra di atas ranjang. Berhenti sejenak memandangi wajah cantik zahra yang terlelap dengan gaun pengantin masih melekat di tubuhnya. Dia sempat berfikir untuk membangunkan istrinya itu untuk mengganti pakaiannya. Namun memandangi wajah yang kini tertidur pulas itu rasanya dia tidak tega. Dia bergegas bangkit dan membuka stelannya kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, dia pun ikut naik ke ranjang untuk istirahat.


“ aku tidak percaya kita benar- benar di satukan dengan pernikahan Zahra” dia kembali teringat dengan perjanjian kontrak yang sudah di buatnya dengan Zahra. Diapun meraih lagi kemari kecil di samping tempat tidurnya. Dan merobek perjanjian kontrak dengan Zahra dan membuangnya di tempat sampah.Mungkinkah angkasa juga telah menaruh hati kepada Zahra selama ini? Bagi Angkasa pernikahan adalah sebuah ikatan yang sakral. Suka tidak suka, cinta atau tidak cinta. Dia akan tetap menghormati pernikahan mereka ini. Karena matanya sulit terpejam. Dia kembali bangkit mengambil labtopnya. Dia sibuk melihat arsip arsip yang berkaitan dengan bisnisnya. Meski di usia yang sangat muda dia sudah menggeluti dunia bisnis. Dan dipercaya memimpin perusahaan properti milik ayahnya. Setelah merasa matanya sudah tidak bisa di ajak kompromi dia berniat kembali ke ranjang. Namun dilihatnya Zahra tidur mendengkur dan ileran. Dia lebih memilih tidur dilantai yang ber alaskan karpet.


“ jorok juga perempuan itu. Segitu lelapnya kah dia? “ gumamnya dan tertidur.


“ sekarang aku benar-benar telah menjadi seorang suami. Semoga pilihanku ini tidak salah” sejenak Angkasa memandangi wajah istrinya. Wajah yang begitu teduh. Meski masih di balut hijab, itu tidak memudarkan pesona indah di wajahnya...


“ ah, ternyata dia gadis yang menawan.” Dia terus memandangi wajah zahra, entah magnet apa yang menarik tangannya ke arah wajah gadis itu. Perlahan dia menyentuh pipi zahra... dan memajukan kepalanya hendak mengecup istrinya itu. Cuuuuuppp, sebuah kecupan hangat mendarat di kening zahra, bersamaan dengan itu Zahra membuka matanya. Sejenak Mereka beradu pandang...


“ addddddduuuuuch... zahra, kamu kenapa sih? Aku ini hanya mau mengusir nyamuk di keningmu itu” ucap Angkasa salah tingkah. Zahra meliriknya dan mengangkat alisnya. Mana mungkin bisa mengusir nyamuk dengan cara mencium.. dasar laki-laki aneh!!! Namun zahra kembali menatap pakaian yang melekat di tubuhnya. Dia baru tersadar kembali bahwa dia sekarang menjadi istri Angkasa.


“Wajar saja, dia mulai bertingkah aneh. Dasar pria mesum, meskipun aku ini istrimu setidaknya dia harus menungguku agar aku bisa siap mental dulu” aku bergumam kecil. Aku begitu naif, sehingga tak menyadari bahwa itu tak mungkin terjadi. Kami kan menikah tanpa ada rasa cinta.. sadar zahra. Aku menelan salivaku dan kembali menatap Angkasa.


“ apa yang kamu bilang? Pria mesum. Ingat yay zahra. Aku ini suamimu, laki-laki normal, aku rasa hal yang wajar ketik aku menyentuh istriku sendiri, atau kamu ingin aku melampiaskannya dengan perempuan di luar sana?” Ucap angkasa. Seketika aku merinding. Apa yang merasuki angkasa. Aku bergerak mundur, namun lagi- lagi angkasa mengikutiku sampai badanku kaku di dinding kamar itu.. kulihat angkasa memajukan kepalanya, seperti hendak menciumku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, aku hanya mampu menutup mata. Nafas hangat Angkasa mulai terasa di wajahku... dan pletaaaaaakkk, dia menyentil keningku dengan jari tangannya.

__ADS_1


“ waaaaahaaaahaaaaa,....” angkasa tertawa dengan kerasnya. Aku semakin salah tingkah.


“ kamu fikir, aku mau ngapain? Pake memejamkan mata segala.. sana buruan mandi. Bau badanmu itu sudah memenuhi ruangan ini” ucap angkasa. Sebenarnya dia sangat ingin menyentuh zahra, namun dia menyadari bahwa gadis di depannya itu pasti belum siap dan tentunya tak mencintai dirinya.


Aku bergegas meninggalkan zahra, berlari masuk ke kamar mandi. Masih dengan busana pengantinku.. kelupes hijab dinkepalaku. aku mencoba untuk membuka resleting bajuku. Namun sialnya, tak berhasil. Aku perlahan melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi itu. Melihatku keluar dia menatapku lekat. Tak berkedip sedikitpun.


“ boleh bantuin lepas resleting bajuku? Aku sudah mencobanya berkali-kali tapi tidak bisa”


“ hah, kamu mau menggodaku yah? Apakah ini hanya alasanmu saja” ucap angkasa dengan nada mengejek.


“ aku serius. Seandainya ada orang lain di ruangan ini. Aku nggak mungkin minta tolong sama kamu” jawabku ketus


Tak berkata apa-apa dia langsung membalikkan badanku membuatku sedikit bergidik, jantungku mulai berdetak tak menentu. Angkasa segera membuka resleting itu berlahan, segera dia menelan salivanya. Bentuk tubuh zahra yang begitu menggoda, dan kulitnya yang putih mulus. Seakan kutup magnet yang menghentikan peredaran darahnya. Dia segera menepis pandangannya itu.


“ makasih” ucapku kemudian berlari kecil ke kamar mandi. Aku lagi lagi sempat melihat Angkasa masih terus menatapku sebelum sejurus kemudian aku menutup pintu kamar mandi...


Jantungku seakan berhenti berdetak, baru kali ini tubuhku di lihat oleh seorang laki-laki. Mukaku kembali memerah. Buru-buru aku membuka gaun pengantinku dan masuk ke dalam bathup untuk menstabilkan kembali aliran darahku. Hawa sejuk dari air seakan menjadi candu yang begitu menenangkanku apalagi air mandiku ini sudah di lengkapi dengan aroma terapi. Kupandangi kamar mandi yang sangat mewah itu.

__ADS_1


“Jadi begini rasanya menjadi orang kaya?” Setelah kurasa semuanya cukup. Aku mendekati lemari pakaian ganti yang ada di ruangan itu. Setelah kubuka ternyata di dalamnya ada beberapa stel pakaian tidur yang terlihat berpasangan. Pilihanku jatuh pada pakaian yang berwarna ungu. Selain aku suka dengan warna itu. Hanya pakaian ini yang agak tertutup.


“ rupanya dia sudah menyiapkan semua” gumamku. Secepat mungkin ku pakai pakaianku dan bergegas ke tempat tidur. Pandangan mataku menyapu ruangan. Namun, tak kulihat lagi sosok angkasa di sana. Kemana dia malam-malam begini? Ahh bodoh amat. Dia ada atau ada itu tidak ada pengaruhnya untukku. Kuraih smartphone ku. Kulihat beberapa pesan masuk berisi ucapan selamat atas pernikahanku. Hampir semua berita kampus juga memberitakan pernikahanku.. tak kurasa mataku kembali terlelap.


__ADS_2