MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Putra Putri Angkasa


__ADS_3

Suasana rumah sakit tiba-tiba ramai semenjak kedatangan Zahra di tempat itu. Terlihat beberapa petugas mondar-mandir mempersiapkan kelahiran anak Zahra.


" Kita harus cepat mengambil tindakan operasi untuk ibu zahra" ucap salah seorang dokter menghampiri ibu Arini.


"la.... lakukan yang terbaik dok! eh papa? kenapa bisa ada di rumah sakit ini???" ibu arini tidak percaya dokter yang kini telah menjadi suaminya itu bertugas di rumah sakit ini. Ditambah lagi dia akan membantu kelahiran cucu ibu Arini.


"Jadi? zahra ini?" suami ibu arini juga tak kalah terkejutnya.


" Sudahlah Pa lakukan yang terbaik untuk anak dan cucu saya! masalah lain, nanti kira bicarakan" Ibu Arini sudah tidak dapat menahan rasa khawatirnya.


" Baik Ma! Mama tenang saja! aku akan melakukan yang terbaik untuknya!" Dokter Agus tersenyum dan sekilas mencium pucuk kepala istrinya itu kemudian berlalu ke ruang operasi.


Berselang beberapa waktu, di ruang pemulihan. Aku merasakan perih yang tak tertahankan di bagian perutku. Perlahan kubuka mataku.

__ADS_1


" syukurlah kamu sudah sadar!" ucap salah seorang dokter yang menyapaku dengan begitu ramah sambil membelai rambutku dengan penuh kasih sayang. Mendapati diriku dalam situasi itu, aku merasa risih karena aku sama sekali tidak mengenal dokter yang mencoba se akrab mungkin denganku.


" Maaf, dok. Dokter kenal saya?" tanyaku kemudian meski dengan sedikit terbata-bata dan badan yang belum bisa aku gerakkan sama sekali. Mungkin karena masih di bawah pengaruh obat bius.


" Anakku bagaimana dok?! dia baik- baim saja kan!?" tanyaku kemudian karena baru menyadari kalau perutku sudah rata, menyisakan rasa perih yang tak terhingga.


" Mereka baik-baik saja! lebih baik Zahra jangan banyak bergerak terlebih dahulu."


" iya, mereka... anakmu kembar! satu laki, satu perempuan, sebentar lagi juga kamu akan menemui mereka." ucap Dokter itu. Rasa bahagia menyeruak tak terkira, namun seketika air mataku menetes kembali, ya aku kembalu teringat dengan ayah mereka, suamiku yang kini telah tiada.


" seandainya kamu masih di sini mas. Kamu pasti bisa merasakan bahagia yang aku rasa" aku bergumam sendiri dengan deraian air mata. Tak lama berselang aku telah di pindahkan ke ruang perawatan. Tak sabar rasanya aku ingin melihat dua malaikat kecilku.


"Nak, selamat yah nak. sekarang kamu telah menjadi seorang ibu!!" ucap ibu sambil memberiku pelukan hangat.

__ADS_1


" Nyonya, selamat yah. Bibi senang akhirnya pak Angkasa punya penerus. Meski tuan tidak di sini, aku yakin dia pasti merasa puas melihat perjuangan istrinya" Bibi berucap sambil menyeka air matanya. Aku kembali terhanyut dalam melowdrama yang berlangsung saat ini. Kupandangi dua malaikat kecilku yang kini berada di sampingku.


" Nak, terima kasih atas perjuanganmu!" Mama mertuaku memelukku erat dengan isak tangis tak tertahankan. bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Bahagia karena telah lahirnya pelengkap hidupku dan penerus keluarga kami, namun bersedih karena akan-anakku lahir tanpa merasakan kehadiran seorang ayah.


Sosok lain yang membuatku penasaran adalah dokter yang sedari tadi berdiri di samping ibuku.


" hmm, selamat zahra" ucapnya tersenyum ramah padaku. aku hanya menunjukkan ekspresi penuh tanda tanya, ibuku yang menyadari keadaanku, mulai menjelaskan.


" Zahra, ini dokter Agus suami ibu. Dia baru saja di pindahkan kemari. Dan kamu adalah pasien pertamanya di rumah sakit ini" ibuku mencoba tenang mendekatiku dan menggenggam tanganku.


" apa ini suami ibu? pantas saja dia memperlakukanku layaknya seperti anaknya. Ternyata!!!" pikiranku bertempur dalam otakku. Aku hanya tersenyum sembari membalas genggaman ibuku. Aku bersyukur ibu memiliki suami seperti dokter ini. Dari penampilannya di lihat dia laki-laki berkarakter dan penuh tanggung jawab. Kualihkan pandanganku ke arah dua malaikat kecilku.


" Putra Angkasa dan Putri Angkasa" aku memberi nama ke kedua anakku. Berharap namanya akan selalu kukenang sepanjang masa!!

__ADS_1


__ADS_2