
Kupandangi sajadah pemberian furqon itu. Sungguh indah. Akankah ini adalah hadiah perpisahan untukku?
Kruuuuk, kruuuuk, kruuuyuuuukkk.. cacing di perutku mulai berdemo. Aku bangkit dan segera menuju dapur. Kubuka tudung saji yang ada di meja makan sederhana di rumah kami.
Tidak ada apa-apa di sana.
“Aku masak dulu lah kalo begitu” gumamku. Kulihat kedalam tempat beras, hanya tersisa sedikit. Mungkin hanya akan cukup sekali makan. Kami memang tergolong orang susah. Bahkan terkadang kami harus sesekali meminjam ke warung.
“Nek, beras di rumah kita sudah habis”
“Hmmmm, iyya nak. Kamu ke warung Bu Mina dulu, pinjam 1 kilo kalo nenek ada rezeki besok nenek lunasi”
“Siaap nek” ucapku layaknya seorang prajurit yang memberi hormat ke atasannya.
Tak lama kemudian aku sampai di warung Bu Mina..
“ bu mina, aku di suruh sama nenek pinjam beras sekilo. Boleh?”
“ mau pinjam lagi? Terus hutang yang lima puluh ribu kemarin kapan di bayar?” Bu Mina menatapku tak bersahabat.
“ kata nenek besok kalo ada rezeki baru dilunasi bu”
“ kalo ada!!! Kalo tidak ada? Lama-lama aku bisa guling tikar kalo begini”
__ADS_1
“Maaf bu. Tapi akan kami lunasi kok secepatnya”
“ maaf Zahra. Ibu tidak bisa” ucapnya sembari meninggalkanku yang mematung tidak tahu harus melakukan apa.
“ bu mina. Tolong berikan ke zahra saja beras 20 kg bu, saya yang bayar”
Aku menoleh ke sumber suara. Ternyata Om Herman, ayahnya Furqon.
“ ngg-nggak usah pak, aku tidak mau merepotkan bapak”
“Merepotkan bagaimana? Kamu dan nenekmu itu sudah kuanggap sebagai keluarga, terima yah.” Kata pak herman
“ terima kasih banyak pak. Semoga rezeki bapk tambah banyak!!”
“Loh, itu beras dari mana zahra? Bukannya nenek cuma meminta sekilo?” Tanya nenek penuh keheranan.
“ tadi zahra ketemu dengan pak herman nek, dia yang membeli ini. Aku sempat nolak sih,tapi beliau maksa mau kasi ini. Ya udah aku ambil. Dan utang-utang nenek semua dilunasinya” jawabku panjang lebar.
“ alhamdulillah Nak, aku benar-benar bersyukur. Di dunia ini masih ada orang baik seperti beliau, yang memperhatikan nasib orang-orang seperti kita”
“ ya sudah nek, aku masak dulu, udah laper!! Alarm perutku sudah berbunyi berkali-kali” ucapku dengan senyum lebar.
Aku kembali di sibukkan dengan aktifitas memasak di dapur. Kalau soal masak memasak, aku jagonya. Aku memang sedari dulu sudah terbiasa dengan aktifitas ini. Meskipun masakan sederhana tapi cukup menggugah selera.
__ADS_1
“Hmm, wangi sekali masakanmu nak. Masak apa sih”
“ ada kangkung tumis, ikan kering goreng, dan sambel.”
“Waaah, kelihatannya enak”
“Ayo nek kita makan.”
Kami pun melahap makanan yang ada di meja tanpa tersisa. Setelah itu aku bergegas untuk membereskan meja makan dan mencuci piring.
“ zahra, nenek dengar dari tadi hpmu berbunyi di kamar”
“ ah iyya nek, sebentar lagi selesai” ucapku sambil buru buru menyelesaikan cucian piringku.
Aku masuk ke kamar untuk melihat hpku. Kebetulan ada panggilan masuk.
(Maaf dengan ZAHRA?)
(iyya saya sendiri) jawabku.
( saya dari universitas Angkasa Wijaya. Kami hanya mau menyampaikan besok pagi anda di minta ke kampus untuk melakukan wawancara penerima bea siswa pukul 08.00 pagi)
( oh iyya bu. Aku akan ke sana besok pagi) jawabku dan sambungan telepon pun terputus. . Ada rasa haru menyeruak dalam dada. Semoga saja aku dapat beasiswa itu.
__ADS_1