
Dinginnya malam berganti dengan hangatnya semburat cahaya mentari pagi. Cericit burung menambah syahdunya pagi ini. Seakan burung-burung itu berdendang ria. Lalu lalang kendaraan semakin mengusik telinga untuk segera meninggalkan haribaan. Namun entah mengapa, kepalaku seakat terasa berat untuk bertumpu. Badanku rasanya lemas tak berdaya. Perlahan kubuka mataku, pandanganku menyapu setiap detil ruangan itu.. entah mataku sedang mencari sosok yang diam-diam telah membuka pintu hatiku itu. Sekuat apa-pun aku memasang tembok pemisah. Namun, hatiku berkhianat, karena cinta datang karena kebiasaan.
“Kemana Angkasa pagi-pagi begini?” Gumamku sambil terus memperhatikan setiap inci ruangan itu. Namun tak juga ketemukan sosoknya. Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk menghilangkan kantuk yang masih mendera.
“Aaaaaaaaccchhh.” Teriakku sambil menutup mukaku dengan kedua tanganku. Tak kusangka, Angkasa juga sedang berada di kamar mandi. Lebih parahnya lagi dia sedang mandi hanya menggunakan bawahan.
__ADS_1
“ kamu kenapa terian-teriak kesetanan begitu, apakah kamu begitu takjub dengan bodiku yang aduhai ini” goda Angkasa.
“ kenapa Mas mandi di situ?” Ucapku asal karena aku masih tidak dapat mengontrol perasaanku. Antara mau dan tidak melihat pemandangan di hadapanku itu. Sekilas sebelumnya nampang lukisan dada yang begitu kekar.
“ di mana lagi Mas harus mandi Zahra?di pemandian umum?” Ucapnya sambil terus mengguyur badannya di bawah shower.
__ADS_1
“ kenapa menarikku Mas?Aku ikutan basah kan?” Celutukku yang hanya di balas dengan senyuman oleh Angkasa. Aku semakin canggung karena tatapan matanya yang seakan hendak memakanku. Segera kupalingkan mukaku yang semakin memerah layaknya kepiting rebus. Dengan segera kutinggalkan Angkasa tanpa menoleh ke arahnya sedikitpun. Kuraih handuk di kamar mandi itu sebelum akhirnya aku benar-benar keluar dari sana. Segera kukeringkan rambutku dengan handuk itu. Tak lama kemudian, angkasa pun keluar menyusulku. Namun, lagi-lagi aku dibuat olahraga jantung. Dia keluar dengan hanya menggunakan handuk kecil sebagai bawahannya. Aura tampannya semakin memancar ketika kulihat wajahnya masih di hiasi dengan bulir bulir air sisa mandinya. Segera kutepis pandanganku itu.
“Sadar zahra, apa yang sedang ada di fikiranmu itu” gumamku dalam hati dan segera melangkah ke kamar mandi. Aku sempat melihat dia tersenyum padaku, sebelum akhirnya aku menutup pintu. Aku bersandar di daun pintu yang tertutup itu, berusaha menstabilkan perasaanku yang semakin menggila. Kutunaikan hajatku di tempat itu, kemudian segera keluar dan tidak menyadari aku masih menggunakan handuj untuk membungkus tubuhku. Sepasang mata sedang asyik memperhatikanku dari tempat tidur nampaknya dia sedang asyiik dengan gadgetnya. Namun, mungkin tak menyadari benda yang di tangannya itu terjatuh di lantai.
“ ada apa dengannya?” Gumamku acuh tak acuh meninggalkannya dan berbalik menuju lemari pakaian untuk mengambil baju.
__ADS_1
“Apa Mas tidak ada kerjaan lain selain terus melihatku?” Kata-kataku itu cukup membuatnya terkejut dan kembali mengambil handphone nya yang dari tadi tergeletak di lantai. Kemudian berpaling meninggalkan kamar tidur kami. Akupun kembali memakai pakain seadanya dan berdandan tipis sebelum akhirnya aku turun ke dapur untuk sarapan.