MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Ternyata


__ADS_3

“Sariiii, sariiii, tunggu,,” teriakku kemudian terbangun dengan nafas tersengal- sengal. Keringat bercucuran membasahi tubuhku.


“Yaa Tuhan, ternyata hanya mimpi! Syukurlah”


Kenapa juga aku bisa memimpikan ssosok dingin itu. Kulirik jam dinding di kamarku. Masih pukul 03.00 dini hari. Ini mungkin hanya sebagai alarm dari Allah, agar aku dapat terjaga di sepertiga malam. Kusingkirkan selimut yang menutupi badanku, perlahan turun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Kembali kubermunajat kepada Sang Pencipta dalam sujudku yang panjang di atas hamparan sajadah. Kukeluarkan semua keluh kesahku padaNya.


“Ya Allah, Tuhan pemilik hati ini. Tunjukkan jalanMu pada hamba, hamba lelah dengan semua ini. Cintaku, kuserahkan dalam genggamanmu. Aku tahu, aku tidak pantas memohon kepadaMu dengan banyaknya dosa-dosaku. Namun kuyakin engkau Maha Pengampun.” Aku terus mengadu , mengiba di hadapanNya.


Kuraih Mushaf di hadapanku. Kulantungkan ayat suci tak terasa air mataku menetes, ada rasa dalam dada yang tak mampu kuungkapkan. Perlahan kudengar langkah kaki di belakangku.


“ astagfirullah. jangan - jangan itu maling,, iiiiiiihhh” kataku bergidik ngeri


Kuberanikan diri menoleh ke belakang.


“Ya Tuhan!!!!!! Nenek!!!” Teriakku. Kaget melihat nenek duduk pas di belakangku dengan semua rambut mengarah kedepan. Ya, lagi lagi penyakit nenek kambuh, dia berjalan sambil tidur... kuraih tangan keriput itu kupapah menuju tempat tidurku.


Kupandangi muka teduh yang masih terlelap itu. Ada rasa bersalah kepadanya karena belum mampu untuk membahagiakannya.


“ Nek, aku janji suatu saat nanti aku akan memikul semua bebanmu agar nenek bisa menikmati hari tua nenek”. Ucapku dalam hati kemudian mengecum kening nenek.


Sayup- sayup kudengar seruan adzan subuh mulai bersahutan. Kulangkahkan kakiku kembali menuju hamparan sajadahku. Kutunaikan kewajibanku kepada Rabb ku.


Pagi ini aku hanya berdiam diri di rumah karena nenek sedang tidak berjualan. Kubuang malasku dengan melangkah ke kebun di belakang rumahku. Ini adalah kebiasaanku, setiap waktu libur aku selalu menyempatkan diri menanam sayuran, . Kuraih pacul dan topi, layaknya seorang petani tulen. Kupacu tenagaku untuk merawat sayuran yang mulai tumbuh subur.


“ zahra. Mau saya bantu??” Sahut seseorang dari arah belakang. Kubalikkan badanku dan kulihat furqon dengan tampilan kerennya. Kalo di lihat sejenak, dia lebih mirip oppa korea yang berpeci. Dengan senyum manisnya dia melangkah ke arahku, membuat jantungku berdetak tak karuan.


“Sejak kapan kamu di sini!!!?” Tanyaku ketus


“ baru saja,” jawabnya singkat dan langsung merebut cangkul dari tanganku.

__ADS_1


“ emang kamu bisa?”


“Tentu saja, aku ini lahir dan besar di desa ini. Sangat tidak mungkin aku tidak tahu menggunakan ini” jawabnya santai sambil terus mengayungkan cangkul.


“ ya tuhan!!!” Pekikku melihat beberapa tanaman yang terpotong.


“ ini sayuran mau di rawat bukan malah dipotong kaya makanan ternak!!!”


“ maaf Zahra, aku tidak sengaja” katanya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“ kamu pulang sana! Bisa-bisa aku dimarahi sama nenek”


“Tapi aku kan nggak sengaja”


“ sudahlah. Pulang sana” ucapku sambil membereskan tanaman yang rusak.


“Zahra, aku mau mengatakan sesuatu” ucapnya sembari menarik tanganku. .


“ hemmmm. Hemmmm,” suara nenek menyadarkan kami. Dengan kikuk kami berusaha bangkit. Mukaku memerah, ada hawa panas yang tiba-tiba menyerang.


“ kalian sedang ap nak!?”


“ itu tidak seperti yang nenek lihat, kami tadi hanya terjatuh nek”


“Oooooh, terjatuh,” ucapnya dengan nada menggoda.


“ nak furqon tidak apa-apa? Secara, tubuh zahra kan agak berisi, takutnya nak Furqon jadi peyek”” ucapnya sambil tersenyum.


“Aku nggak apa-apa koq nek, aku ke sini hanya mau pamit. Besok pagi saya akan berangkat ke Malaysia” ucapnya menunduk.


“Kamu ngapain ke sana nak? Kuliah?”

__ADS_1


“ rencananya sih aku mau bantu perusahaan properti ayah yang di sana bu sekalian kuliah juga”


“ oooh. Baguslah kalau begitu nak. Kamu jaga diri di negeri orang”


“Zahra, aku pamit yah” ucapnya padaku dengan tatapan yang sulit kuungkapkan. Aku hanya membalasnya dengan senyuman yang dipaksa. Entah mengapa hatiku terasa perih mendengarnya ingin pergi.


“Sadar zahra, dia cinta sahbatmu. Jaga hatimu” ucapku dalam hati.


Dia pun menarik langkah beratnya meninggalkan kami. Tak kusadari bulir kristal hangat mengalir menghangatkan wajahku. Perasaan apa ini? Sekilas kulihat dia sempat berbalik ke arahku dan tersenyum hangat penuh arti. Mungkinkah dia melihat air mata ini? Ah betapa malunya diriku. Segera kuusap kasar wajahku. Saat kuarahkan pandanganku ke arahnya, sosok itu sudah tak terlihat lagi. Kuberlari layaknya seorang anak kecil mencari keberadaan sosok itu. Namun nihil, yang tersisa hanya rasa sesak di dada. Aku tertunduk lemas.


Dari kejauhan nenek memandangiku dengan penuh tanya. Mungkinkah dia juga merasa kehilangan sepertiku.. entahlah.


Kulangkahkan kaki ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Guyuran air dingin memberikan suasana baru dalam hati, namu tak dapat kupungkiri rasa sesal dan kehilangan itu masih bertengger indah di relung hati. Setelah selesai, kurebahkan tubuhku di atas tempat tidurku dan kuraih benda pipih yang selalu bisa jadi penghiburku.


( Raa, maaf yah aku nggak sempat ke rumahmu untuk pamit. Saya akan berangkat ke Malaysia besok pagi. Aku akan kiliah disana. Doakan aku yah l, sahabatku yang baik) kubaca pesan dari Sari. Sontak membuatku heran, kenapa bisa bersamaan dengan si dia? Jangan-jangan? Gumamku . Langsung kutepis perasaan curigaku itu. Ada apa denganku..


( ya Rii, kamu hati-hati di sana. Dan aku doakan semoga kamu sukses dan mendapatkan jodoh terbaikmu. Jangan lupakan aku. Sahabatmu yang cerewet😔😔)


“ mungkin mereka memang ditakdirkan bersama. Aku harus mengalah dan mengubur dalam dalam perasaanku yang tidak pada tempatnya ini.” Gumamku meneteskan air mata. Dua orang yang memiliki tempat spesial di hatiku kembali meninggalkanku. Tiiiiiiing, sebuah pesan masuk. Kali ini dari nomor yang tak kukenal...


(Jangan menangis, aku pasti pulang untukmu) saat kubaca pesan ini. Pikiranku melayang jauh.. akankah dia? Ah tidak mungkin dia hanya menganggapku sebagai teman tidak lebih. Ketika pikiranku masih bertempur ke sana kemari. Nenek datang menghampiriku.


“Nak ini ada titipan dari nak Furqon” ucapnya sembari menyerahkan sebuah kado pita berwarna merah hati.


“ apa ini nek. Kenapa dia tidak memberikannya langsung kepadaku tadi?”


“ nak furqon kembali sempat kemari dan memberikan ini sama nenek. Dan melihatmu menangis” kata kata nenek bagai petir menyambar di telingaku.


“Apa? Jadi dia melihatku. Alangkah malunya diriku.” Gumamku dalam hati


Kuraih kado itu, dan segera kubuka. Sebuah sajadah indah dengan warna merah hati.. degggg. Jantungku seakan berhenti berdetak, mungkinkah dia pengagum rahasiaku????

__ADS_1


__ADS_2