MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Dia


__ADS_3

Sayup sayup kudengar azan subuh mulai berkumandang. Aku mengeliat sedikit dan perlahan bergerak turun dari tempat tidur. Namun, baru saja aku menginjakkan kakiku, sebuah teriakan mengagetkanku.


“Ahhhhhhh. Kamu ingin membunuhku yah?” Ucap angkasa sembari memegang lehernya. Ternyata tadi aku tidak sengaja menginjak leher angkasa. Aku lupa kalau semalam dia menggelar katpet di lantai untuk tidurnya.


“ ma- maaf aku tidak sengaja” ucapku.


Lagi-lagi dia berjalan ke arahku dan membuatku kembali duduk di tempat tidur. Spontan dia mencium keningku.


“ itu adalah hukuman karena telah menginjak leherku pagi ini”. Ucap angkasa sembari berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Akupun berjalan ke arah kamar mandi seakan di bawah alm sadarku. Aku tidak menyadari kalau Angkasa juga sedang berada di dalam.


“Aaaaaaaachhhh.” Teriakanku sontak membuat Angkasa yang sedang mandi membalikkan badan.


“ kamu mau apa masuk ke sini? Mandi mandi berdua?” Tanyanya menggoda.


“ kamu aja. Yang lupa mengunci kamar mandi. Mana aku tahu kalau kau masih di dalam” jawabku gelagapan. Otot dada Angkasa menarik pandanganku.. dia semakin tampan di bawah guyuran air.


“ zahra, bantu aku menggosok punggungku.”


“Apa?” Jawabku kaget tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.


“ kamu tenang saja. Aku masih waras koq aku masih pakai bawahan” ucap angkasa seakan dia tahu dengan apa isi fikiranku. Aku pun berjalan mendekatinya. Ku gosok punggungnya dengan kasar. Angkasa hanya tersenyum dengan tinggahku itu.


Tak lama setelah itu kami berwudhu dan segera melaksanakan kewajiban kami kepada Sang Pencipta. Ada rasa haru menyeruak dalam dadaku, baru kali ini solat berjamaah berdua dan aku di imami oleh seorang laki-laki yang kini jadi suamiku.


Setelah selesai dia menyodorkan tangannya kepadaku. Akupun meraihnya tanpa banyak tanya meski dengan jantung yang masih berdetak tak karuan. Kukecup punggung tangannya. Dia pun mendekat kepadaku dan mengecup keningku. Ada rasa yang tak biasa menyeruak di dada. Terasa hangat, tak kurasa air mataku mengalir. Mungkin ini air mata bahagia, akupun tidak tahu menafsirkannya.


“ kamu kenapa sayang?” Ucapnya sembaru mengusap bulir kristal bening di pipiku.


“ aku tidak apa-apa, kamu tidak usah khawatir” jawabku singkat.


“ kamu???? Mulai sekarang kami harus memanggilku layaknya seorang suami zahra” ucapnya lembut kepadaku.


“Aku tidak terbiasa”


“Maka dari itu kamu harus membiasakan. Panggil aku sayang, mas, atau honey atau apalah” ucapnya.


“Hmmm, akan kucoba.” Dasar pria aneh baru sehari sudah meminta banyak hal padaku. Gerutuku dalam hati.


“Kenapa tidak mencobanya sekarang” dia semakin mendekat ke arahku. Aku pun berlahan mundur menghindarinya.


“ kamu mau apa?”

__ADS_1


“ panggil aku sebagai seorang suami sekarang, kalau tidak aku akan menciummu” sembari melirik ke wajahku tepatnya ke bibirku. Membuatku seakan bergetar. Perasaan apa ini?


“ kamu mau aku panggil apa?”


“ mas atau sayang”


“ oke, mas aja”


“ baiklah kalau begitu, hukuman itu tidak jadi. Tapi kalau aku dengar ada yang salah dengan panggilanmu kepada suamimu ini. Hukuman itu masih berlaku.”


“Baa baik.. mas!” Ucapku terbata-bata.


Aku pun segera bangkit untuk menutupi wajahku yang seketika memerah. Kulipas sajadah dan segera kulepas mukenah di kepalaku.


Kruuuuuk. Kruuuuuuk, cacing di perutku mulai berdemo. Aku segera berjalan menuju dapur.


“Selamat pagi nyonya” ucap seseorang padaku. Dia adalah Bi Surti. Salah satu asisten rumah tangga di rumah Angkasa.


“Pagi bi.. aku lapar” ucapku tak tahu malu.


“Mau makan apa nyonya?”


“Apa saja yang ada bi” ucapku . Kulihat Bi Surti dengan cekatan menyiapkan sarapanku.


“Tidak usah nyonya. Nyonya tunggu saja di situ. Ini juga sudah mau selesai”


Tak lama kemudian aroma nasi goreng yang begitu menggugah selera semakin membuat aku menelan air liurku.


“ ini nyonya sarapannya” bi surti meletakkan sepiring nasi goreng di meja. Belum sempat aku menyuapkan nasi di mulutku. Sendokku di rebut oleh seseorang.


“Mulai sekarang, sarapan kita makan sepiring berdua” ucapnya sambil memasukkan satu suapan ke mulutnya.


“ kamu... ngap...” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku. Angkasa. Mengecup singkat bibirku. Membuatku wajahku memerah. Bi surti yang melihatku hanya tersenyum.


“ ini hukuman pertamamu”


“ mas, malu dilihat sama bibi” ucapku terbata, sambil menunduk menyembunyikan wajahku yang memerah.


“ buka mulutmu.” Ucapnya hendak menyuapiku. Aku pun menurut tanpa penolakan sampai nasi dipiring kami tak tersisa walau sebiji.


Selesai sarapan, aku membantu bi surti membereskan meja makan. Angkasa sudah duduk di ruang tengah menonton TV.


“ sayang. Bisa ke sini sebentar?”

__ADS_1


“Iya mas tunggu.” Lidahku seakan sudah fasih mengucapkan panggilan untuk suamiku itu. Aku pun berjalan ke arahnya.


“ sayang, kamu masih mau melanjutkan kuliah atau di rumah saja mengurus suami.” Kata angkasa membuka pembicaraan kami


“Tentu saja aku mau kuliah mas” jawabku menegaskan.


“ tidak masalah, aku akan mengantarmu ke kampus. Bulan depan juga aku akan di wisuda. Jadi kemungkinan besar aku akan lebih sibuk di perusahaan. Meskipun begitu aku akan tetap meluangkan waktuku untuk mengantar ataupun menjemputmu”


“ aku bisa sendiri mas”


“Tidak bisa zahra, kamu sekarang adalah istriky. Tanggung jawabku” ucapnya sembari menggenggam tanganku.


“ baiklah kita siap-siap untuk ke kampus” dia menarik tanganku menaiki tangga. Maklum kamar tidur kami ada di lantai dua rumah itu. Setelah kami selesai bersiap. Kami menuruni tangga. Aku sibuk dengan smarphone di tanganku. Aku mengirim pesan kepada wahda untuk menungguku di depan kampus. Dan.. bugggggggh. Aku menabrak Angkasa yang tiba-tiba berhenti..


“ maafkan aku” ucapku merasa bersalah. Angkasa hanya tersenyum meraih tanganku menuju mobilnya.


Angkasa melajukan mobilnya menbelah hiruk pikuk kendaraan yang lalu lalang. Ya semenjak aku menikah dengan Angkasa aku ikut pindah tinggal di kota. Lain halnya dengan nenek yang memilih untuk sementara waktu menetap di desa kami. Meskipun begitu aku sudah merencanakan untuk memboyong nenek tinggal bersama kami. Angkasa meraih tanganku dengan satu tangannya mengemudi kemudian mengecupnya. Mendapatkan perlakuan seperti itu aku kembali seakan di serang penyakit jantung.


“ sayang. Kamu jangan genit yah di kampus. Ingat kamu istriku.” Aku hanya mengangguk pelan. Tak terasa kami memasuki gerbang kampus. Semua mata tertuju ke kami. Di seberang kulihat wahda melambaikan tangan kepadaku. Segera kubuku pintu mobil untuk turun persis setelah Angkasa memarkirkan mobilnya. Namun aku di cegah angkasa,.


“ ini, kamu pakai ini untuk belanja kebutuhanmu” ucapnya sembari memberiku beberapa lembar uang seratusan.


“Tapi, ini terlalu banyak” ucapku menolak.


“ terima saja. Aku tidak mau tahu kamu harus mengambil ini”ucapnya kemudian dan kembali mengecup keningku. Aku semakin kikuk di buatnya. Bagaimana tidak. Ini adalah teman umum. Pasti semua orang melihatku.


Aku bergegas turun. Lagi lagi dia menarikku sampai aku terjatuh ke dada bidangnya. Di memelukku erat,


“Mas. Malu diliat orang.”


“Kenapa mesti malu. Semua sudah tahu bahwa yang kupeluk ini adalah istriku”


“Mas” ucapku sambil berusaha lepas dari pelukannya.


Kami berdua turun dan melangkah ke arah wahda yang sedari tadi dengan sabar menungguku.


“ maaf wahda, kamu lama menunggu”


“ iya tidak apa-apa. Yah, setidaknya kami baru saja menyaksikan drama romantis sang pengantin baru” ucapnya menggodaku.


Kami bertiga berjalan ke ruanganku. Tangan angkasa masih tak melepaskan tanganku.


“ sayang.aku ke kantor dulu. Papa menungguku di sana. Katanya ada yang mau disampaikan padaku. Sebentar aku akan menjemputmu. Kamu jangan ke mana-mana. Wahda aku titip istriku” ucapnya panjang lebar kemudian meninggalkan kami.

__ADS_1


Aku hanya mematung sejenak memandangi punggung angkasa yang berlalu menjauh. Kemudian aku memasuki ruanganku. Belum sempat aku melangkahkan kaki masuk. Seorang menarikku kasar...


__ADS_2