MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Lelaki normal


__ADS_3

Angkasa berpindah ke sofa ruang tengah untuk menstabilkan bayangan zahra yang terus mengitari isi kepalanya. Entah sampai kapan akan terus hadir mengobrak abrik hati angkasa.


“ zahra, aku akan menunggu waktu yang tepat untuk itu” gumam angkasa.


Deeeert. Derrrt derrrrrtt


Bunyi panggilan masuk di hanphone angkasa membuyarkan lamunannya.


“ ada apa reyhan??”


“Apa!!!! Untuk apa dia ke kantorku?”


“ aku tidak mau tahu. Kamu cepat urus dia! Jangan sampai dia meyebarkan isu-isu yang tidak mengenakkan di kantor” ucap angkasa geram. Tak sengaja aku menguping apa yang barusan diucapkan oleh Angkasa.


“ kamu kenapa mas? Ada masalah apa di kantor?” Ucapku penuh selidik sambil menyerahkan secangkir teh padanya.


“ widia. Dia datang di kantorku, mengamuk layaknya orang kesetanan. Entah apa yang ada di fikiran wanita itu”


“ begitulah mas ketika cinta sudah membutakan mata seseorang. Kadang seorang bertindak tak waras dan di luar nalar.”


“ ini tidak seperti yang kamu bayangkan Zahra, dia sudah melampaui batasannya”


“Maksud mas?” Aku semakin bingung dibuatnya.

__ADS_1


“ dia berteriak di kantor, minta pertanggung jawaban kepada saya.”


“Hah??? Serius mas? Emangnya pertanggung jawaban apa sih mas? Apa jangan-jangan mas sudah menodainya?” Aku terus memberondong angkasa dengan berbagai macam pertanyaan.


“ zahra!!! Cukup! Jangankan untuk menyentuhnya , melihatnya saja aku rasanya mau muntah” ucap Angkasa dan segera menyeruput teh yang tadi kubuatkan untuknya.


“Mas lebih baik ke kantor, selesaikan semuanya dengan kepala dingin” aku mencoba memberi saran kepadanya. Dia menatapku sejenak seakan memikirkan apa yang baru saja aku ucapkan.


“ tuan, nyonya sarapannya sudah siap.” Bi Surti mengagetkan kami. Kami berdua hanya mengangguk dan berjalan menuju dapur. Kuperhatikan kali ini Angkasa sepertinya tidak berselera makan. Aku berinisiatif menyuapinya.


“Aaaaa, buka mulutmu” ucapku seraya menyodorkan sesendok makanan ke mulutnya. Dia pun menerima suapanku itu. Sambil terus memandangiku. Ada rasa yang tak biasa kembali menghampiri ketika pandangan kami bertemu. Aku terus menyuapinya hingga tak tersisa makanan di piring kami.


“ mau nambah lagi?” Tanyaku.


“ itu lebih baik mas, dibandingkan kamu kurus kerempeng layaknya squidward. Bisa- bisa aku dicap sebagai istri yang tidak becum merawat suami” ucapku tidak mau kalah sambil membereskan meja makan membantu Bi Surti.


Saat aku berniat mencuci piring-piring kotor. Tangan kekar angkasa kembali melingkar dipinggangku.


“ makasih sayang. Sudah menghiburky pagi ini” bisik Angkasa di telingaku. Aku yang risih mendapatkan perlakuan seperti itu. Berusaha melepaskan tangan angkasa. Namun tak berhasil.


“Hemmm, masih pagi tuan, nyonya. Apakah tuan tidak kasihan dengan saya yang sudah menjadi perawan tua ini?” Bi surti menggoda kami.


“ awas mas, malu di liatin sama bibi”

__ADS_1


“ tidak masalah. Kalau memang dia tidak suka dia bisa menutup matanya saja” ucapnya cuek.


“Tapi mas...” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, angkasa sudah membopongku.


“ tidak ada tapi-tapian lagi. Kamu ikut saya ke kamar bantu aku siap-siap ke kantor, dan satu lagi mulai besok kamu tidak perlu mencuci piring. Ada bibi yang akan mengerjakan ini. Aku tidak tangan istriku ini lecet sedikitpun” ucapnya sembari memandang bi surti yang sedari tadi senyam-senyum melihat tingkah Angkasa yang seperti remaja belasan tahun yang sedang kasmaran.


Aku tidak bisa berkutik lagi. Aku hanya menurut apa yang dikatakan angkasa. Dia terus menggendongkan menuju kamar melewati tanggah. Aku hampir saja hilang ke seimbangan di gendongan Angkasa. Dengan sangat berat aku melingkarkan tanganku di lehernya. Cuuuup. Dia mengecup singkat pipiku. Serta merta aku seperti kesetrum listrik seketika. Tindakannya yang spontan membuatku seakan sulit untuk bernafas. Sampai kami tiba di kamar.


“ hmmmm, sepertinya bobot tubuhmu masih kurang. Aku seperti hanya sedang mengangkat kerupuk saja”


“ huuuuuu.” Ucapku memonyongkan mulut ke arahnya . Dan mendekati lemari pakaian Angkasa. Aku memilihkan baju untuk suamiku itu.


“ rupanya kamu mulai menikmati dirimu sebagai seorang istri” aku sama sekali tak merespon ucapan angkasa itu.


Sampai dia menyelesaikan memakai baju. Dia menyerahkan dasi kepadaku.


“ bisa bantu aku memakainya?”


“ maaf mas, aku tidak tahu cara memasang dasi” ucapku. Spontan angkasa mengalungkan dasinya di leherku dan menarikku ke arahnya.


“ akan aku ajari. Untuk selanjutnya kamu harus memakaikannya untukku. Kata mama, tugas mengikat dasi ini mutlak tugas istriku”


Aku tersipu malu dihadapan angkasa. Suamiku itu perlahan menyentuh daguku. Membuat percikan api seketika di tubuhku. Aku kembali menutup mata rapat-rapat. Aku semakin grogi dan mengenggan erat bajuku.

__ADS_1


Jedug, jedug, jedug. Irama detak jantungku kembali tak menentu.


__ADS_2