
Anganku yang indah untuk bertemu kembali dengan sahabatku seakan hilang, lenyap begitu saja.. Entah berapa kali aku meminta agar raga ini tetap kuat, namun hasilnya sama, tetap rapuh. Cita untuk bersua berbagi suka dan duka hanya menjadi cerita dongeng semata. Aku semakin terpuruk, se tragis inikah jalan hidupku? Satu demi satu orang yang kukasihi meninggalkanku, tanpa jarak dan ruang agar bersua kembali. Apalah dayaku. Hanya bisa menangis dalam diam. Kenyataan pahit masih harus kutelan sedemikian rupa berkali kali dalam hidup. Belum cukupkah Tuhan mengujiku?
" Nak, kalianlah alasan kenapa aku masih kuat sekarang nak, kalian harus jadi anak yang hebat. Buat ayah kalian bangga di alam sana. " Ucapku bermonolog memandangi dia penerus Angkasa Wijaya.
" Bik, bisa bantu saya" Ucapku setengah berteriak . Rasanya gerah sekali seharian belum membersihkan badan.
" Iya Nyonya, apa yang bisa kubantu? " Ucap asisten rumah tangga ku itu.
" Aku mau mandi Bi, bisa tolong bantuin jaga mereka nggak? " Ucapku memohon persetujuannya, yaa meski posisinya di rumah ini adalah asisten rumah tangga namun aku tetap menaruh hormat padanya. Walau bagaimanapun dia lebih tua dariku.
" Ah, tentu saja nyonya" Ucapnya kemudian.
" Oh iyya, Bibi liat ibu nggak? " Tanyaku lagi.
" Tadi di halaman depan, sepertinya ibu sedang menerima telpon dari seseorang" Lapor asistenku itu. Sontak naluri keingintahuan ku kembali merontah.
__ADS_1
" Tumben.. " Ucapku kemudian.
" Bibi, tau nggak ibu bicara dengan siapa? " Tanyaku lagi.
" Tidak tau nyonya, kan bukan bibi yang nerima telponnya " Ucapnya kemudian cengengesan. Ingin rasanya ku jitak kepalanya.
" Ya sudah " Ucapku tidak mau lagi memperpanjang. Aku kemudian beranjak menuju kamar mandi. Ku siram badanku di bawah shower rasanya sangat menyegarkan seakan mampu mendinginkan suasana hatiku yang semakin kalut dalam panasnya cobaan hidupku.
Berselang beberapa menit, ritual mandiku akhirnya berakhir juga. Rasanya seperti mendapatkan sensasi dan semangat baru.
Braaaakkkkh..
" Astaga.. Ibuuuu. Ibu tidak apa- apa? " Aku tercengang mendapati ibuku dengan tangan melepuh, sepertinya tersiram air panas.
" Aduuuuh" Ibu ku meringis kesakitan.
__ADS_1
" Ada apa ini? " Dokter agus yang saya tidak tahu dari mana munculnya tiba- tiba berjalan ke arah kami.
" Ya Tuhan, kenapa seperti ini sayang? " Muka panik begitu terpancar dari sorot matanya.
" Aku tadi mau buat teh hangat sayang, tapi tiba-tiba airnya tumpah" Ibuku mengadu layaknya anak kecil . Sebuah kesyukuran ibu di pertemukan dengan pasangan hidup seperti dokter agus yang begitu menyayangi ibu. Aku jadi minder sendiri melihat adegan romantis di depanku. Kembali anganku berputar di masa-masa hadirnya suamiku, Angkasa Wijaya...
Rindu...
Bayangnya kembali hadir dalam benakku. Rindu akan semua perlakuannya. Menyesal rasanya belum bisa mencurahkan segala cinta dan sayangku padanya. . otakku terus menerawang.
" kamu kenapa nak? " tanya ibu membuyarkan lamunanku.
" iyya, kamu kenapa zahra? tak baik lo ibu menyusui itu banyak pikiran, pengaruh sama anak-anakmu nanti" tambah dokter Agus kembali menasehati.
" Aku nggak apa- apa hanya teringat mas Angkasa saja, habis ibu sama dokter agus romantis begitu, jadi iri kan aku? " ucapku berusaha menyembunyikan air mata yang siap terjun.
__ADS_1
" kamu yang sabar pasti ada hikmah di balik semua ini, aku sangat yakin itu" ucap dokter Agus sambil membalut kan perban di tangan ibu.
aku hanya menjawab dengan senyuman, entah bayangan Mas Angkasa semakin menari-nari di pikiran ku. yah, mungkin inilah yang si sebut rindu yang tak mampu lagi di obati dengan pertemuan. semua seakan hanya menjadi ilusi.