
Setelah Aku mendengar pengakuan wanita yang tidak lain adalah ibu kandungku sendiri, dia semakin terguncang. Untung saja Angkasa sang suami selalu di sampingku. Selalu menguatkanku.
Tiga hari setelah kepergian nenek, aku mendapatkan telpon dari luar negeri.
" assalamualaikum" ucap seseorang dari balik telpon.
" waalaikumusalam" jawabku. Dari suara penelpon itu aku sangat mengenalnya.
" furqon?"
" iya aku furqon, turut berduka cinta atas meninggalnya nenek"
" makasih furqon"
" oh iyya, hari ini aku akan kembali ke indonesia"
" benarkah ?"
" iya, tunggu aku di rumahmu!"
Aku bingung mau menjawab apa, aku merasa bersalah kepada suaminya, .
setelah telpon dari Furqon terputus.. hpku kembali berdering...
" assalamualaikum. Ra, aku sudah di indonesia."
" waalaikumusalam Ri, benarkah?"
" turut berduka cita atas meninggalnya Nenek Yah"
" makasih Ri"
" besok aku ke rumahmu"
" iya ri, aku tunggu"
" assalamualaikum"
"waalaikumussalam"
__ADS_1
Yang ada dalam benakku, mereka berdua Furqon dan Sari pasti telah menjadi pasangan kekasih. meski masih ada rasa sedikit untuk Furqon, namun aku berusaha menguburnya dalam-dalam demi baktiku kepada Angkasa suamiku.
kreeeekkk. pintu terbuka..
Terlihat suamiku masuk ke kamarku dengan nampan di tangannya. Aku tersenyum ke arahnya...
" Sayang, makan dulu yah" ucapnya lembut.
" Aku nggak lapar Mas." tolakku.
" sedikit saja sayang, aku suapin yah" kulihat suamiku meniup bubur di sendok sebelum menyuapkannya ke mulutku.
"buku mulut, aaaaaa" Angkasa menyuapiku layaknya anak kecil. Aku pun makan dengan suapan suamiku.
"Mas, aku sudah kenyang"
" sedikit lagi sayang"
Suamiku kembali menyuapiku.
" hmmmm, sayang. saya pikir ini saatnya membuka hati untuk menerima ibu Arini"
" maksud mas?"
Aku menimbang-nimbang perkataan suamiku. mungkin ada benarnya. Lebih baik aku tanyakan langsung ke ibu mengenai alasan dia meninggalkan aku sewaktu kecil.
" baiklah mas. Akan kucoba."
" gitu donk. Zahra, bagaimanapun keadaannya dia tetap ibu kandungmu sayang, ibu yang berjuang melahirkanmu, kamu wajib menghormatinya."
" iya mas, terima kasih sudah mengingatkanku"
" sama - sama sayang. mau lagi?"
" sudah mas. aku sudak kenyang"
Tiba-tiba aku merasa mual sekali, perutku seperti di aduk-aduk. rasanya aku akan memuntahkan semua isi perutku. Aku segera berlari menuju kamar mandi
oeeeeeekkkk, oeeeeekk,, ooooooekkkkk...
__ADS_1
Dan benar saja aku memuntahkan semuanya. Rasa pusing di kelapa mulai menyerang. Dengan susah payah aku berjalan keluar dari kamar mandi.
"kamu kenapa sayang? sakit"
" mungkin aku hanya masuk angin saja mas"
" kalau begitu aku panggil dokter yah sayang"
" nggak usah mas. aku baik-baik saja. Aku hanya mau istirahat, setelah itu mungkin akan membaik"
Tiba- tiba Bi Surti datang membawa secangkir teh hangat..
" maaf tuan, nyonya, ini teh jahe. Ibu Arini yang buatkan"
" ah iyya Bi, ibu di mana?" ucap suamiku sambil mengambil cangkir teh jahe itu.
" ibu Arini ada di dapur tuan, tadi dia sempat mendengar nyonya mual, jadi dia bikin teh jahe untuk nyonya"
" oh iyya. makasih bi"
" sama- sama tuan. aku ke dapur dulu"
" minum dulu sayang. semoga setelah ini mualnya hilang"
Akupun meminum teh buatan ibu itu. Rasanya sangat enak, . aku tersenyum mengingat ini baru pertama kalinya meminum teh buatan ibu. Setelah itu aku tertidur...
" bangun sayang, sudah subuh" terdengar suamiku berusaha membangunkanku. Mata sangat berat untuk terbuka.
"hemmmmm,," aku berusaha bangun.
" bagaimana perasaanmu sayang? sudah enakan??"
" iya mas"
Setelah melaksanakan solat subuh. Rasa mual itu kembali datang, ada apa ini? tidak biasanya aku seperti ini. Segera aku berlari ke kamar mandi... Rasanya tak tertahankan lagi..
" sayang. kamu baik-baik saja?"
" tidak tahu mas aku tiba-tiba mual lagi"
__ADS_1
"jangan-jangan......"
" jangan-jangan apa mas?" tanyaku penuh selidik