
Aku bergegas ke dapur menyiapkan makanan kesukaan nenek, tumis kangkung dan ikan kering goreng dan sambel. Meskipun di rumah ini aku tidak pernah melihat orang rumah memasak menu makanan ini, namun aku bertekad memasaknya untuk nenek. Di bandingkan dengan makanan yang terbilang mewah dan lebih mahal, nenekku tidak pernah berpaling dengan makanan favoritnya itu.
“ bau apa ini nyonya?” Hidung Bi surti mulai sensitif dengan bau ikan kering yang aku goreng.
“ enak yah baunya Bi? Ini itu ikan kering kesukaan nenek.” Jawabku berapi-api.
“ enak sih, enak nyonya. Tapi apa nyonya tidak tahu kalau Tuan Angkasa tidak suka dengan bau seperti ini?”
“ urusan suamiku itu, nanti aku yang urus. Tugas bibi sekarang hanya membantu aku membereskan semua masakan ini sebelum nenek tiba di rumah ini”
“ baik nyonya” Bi surti pun dengan cekatan mulai membantuku.
Sembari sibuk menata makanan di meja. Mataku sembari melirik jam dinding besar di ruangan itu.
“Kapan mereka datang? Kenapa rasanya lama sekali” rasa rindu di dada dengan sosok yang membesarkanku mulai memberontak. Aku merasa ruang hatiku kembali terisi mengingat nenek akan tinggal bersamaku. Karena memang alasan utamaku dulu menikah dengan mas Angkasa adalah agar aku bisa membahagiakan orang tua separuh abad itu. Meskipun jasa-jasanya tidak akan pernah terbalas dengan apapun setidaknya aku bisa membuatnya bangga dengan pernikahanku ini. Mengingat raut wajah nenek saja rasa rindu kepadanya sangat membuncah.
“ Assalamualaikum.” Sahut seseorang dari balik pintu. Aku pun berlari menuju sumber suara itu.
“ waalaikumussalam.” Ucapku sambil membuka pintu rumah kami. Kulihat di hadapanku wanita tua dan tangguh dengan senyum khasnya.
__ADS_1
“ nenek.. aku benar-benar senang nenek bisa ada di sini” aku menghambur memeluk nenek.
“Hmmmm, mentang-mentang nenek sudah di sini aku kembali di cuekin” suara Angkasa suamiku membuyarkan rasa rindu yang belum tersalurkan seutuhnya ke nenek.
“ maaf mas. Makasih yah sudah mau menjemput nenek” ucapku sembari mencium tangan kekar suamiku.
“ ya sudah . Kita masuk yuuk, kasian nenek berdiri di sini.” Angkasa memberikan isyarat agar aku mengajak nenek masuk sembari mengangkat barang bawaan nenek. Kulihat barang-barang nenek sekilas, layaknya orang dari berbelanja di pasar tradisional. Ada sayuran-sayuran segar dll.
“ ayo nek, kita masuk”
“ masya Allah rumah kalian besar sekali nak. Sudah seperti istana. Kamu pasti betah tinggak di sini”.
“ alhamdulillah betah nek, tapi lebih betah lagi kalau nenek ada disini” ucapku sambil menuntun nenek ke meja makan.
“ wah, rupanya kamu belum lupa yah dengan makanan kesukaan nenek.” Nenek pun mengambil makanan kesukaannya dan memakannya sesuap demi sesuap.
“ bau apa ini sayang?” Aku sudah menduga mas Angkasa pastu akan menanyakan ini. Dan aku pun sudah menyiapkan senjatanya. Yah. Penjepit jemuran untuk menjepit hidung suamiku itu.
“ sayang, apa-apaan ini?” Ucap angkasa seraya menghindar dariku.
__ADS_1
“ ini itu penjepit untuk menjepit hidung mas. Agar tak mencium bau aneh menurut mas ini”
“ apa?? Kamu ada-ada aja sih sayang? Tidak musti pake itu juga kan?” Aku pun meraih hidung mancung suamiku dan menjepitnya. Nenek dan bi surti yang melihatku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
“ ayo duduk mas, ikut makan juga”
“ nak Angkasa kamu tau nggak, dulu zahra itu juga tidak suka dengan bau masakan ini”
“ oh begitu kah nek?” Tanya angkasa seakan tidak percaya dengan cerita nenek.
“ dan nenek juga melakukan persis yang zahra lakukan sekarang padamu, dan nenek menyuapinya. Dan ternyata Zahra suka dengan rasanya bahkan sampai sekarang masakan ini yang jadi makanan favoritnya” nenek kembali melanjutkan ceritanya.
“Aaaa, buka mulut mas” aku mencoba menyuapkan ikan kering dan nasi hangat kemulut suamiku.
“ hmmm, ternyata rasanya enak” dia mulai menyukai masakan itu.
“ makanya mas jangan terlalu benci terhadap sesuatu sebelum kamu bisa merasakan yang terdalam”
“Sudah, sudah, kalian sekarang makan”
__ADS_1
“ baik nek” jawab kami serempak.
Pertemuanku dengan nenek selalu menjadi cerita uang tak usai. Sepanjang waktu kami bercerita bahkan kami terkadang lupa waktu. Ah nenek, kamu begitu spesial untukku.