MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Rasa itu


__ADS_3

Aku mengeser tubuhku agak ke samping, setelah kasur bergetar saat Angkasa menjatuhkan tubuhnya di sampingku. Aku semakin tak bisa mengontrol perasaanku. Saat Angkasa menyentuh pundakku ada percikan api yang kurasakan antara kami. Aliran listrik seakan menjalar di tubuhku. Aku hanya bisa memejamkan mata. Mentalku belum sepenuhnya siap untuk menjadi istri Angkasa seutuhnya. Perlahan, Angkasa membalikkan badanku.


“ zahra, apakah kamu sudah ridho menjadikan aku suamimu?” Pertanyaan sederhana yang mampu mengobrak-abrik perasaanku. Jujur, aku memang sudah mulai membuka hati untuk suamiku itu. Meski aku belum yakin sepenuhnya, apakah aku benar-benar sudah menabur benih cinta untuknya? Tapi satu yang pasti aku merasa begitu nyaman di dekatnya.


“In syaa Allah mas, aku ridho.” Jawabku sambil tertunduk malu.


“Alhamdulillah, syukurlah. Sekarang apa kamu sudah siap menjadi istriku seutuhnya?” Angkasa kembali melanjutkan pertanyaannya. Spontan aku mengangkat pandanganku, aku sudah bisa mencerna kata-katanya. Namun, aku masih belum yakin, apakah dia mencintaiku atau tidak. Aku tidak mungkin menyerahkan diriku kepada orang yang di hatinya tidak ada cinta untukku.


“Mas, sebelum aku menjawab pertanyaan mas. Boleh aku bertanya?”


“Hmmm, boleh silahkan sayang” ucapnya sembari terus menatapku lekat.


“ apakah mas sudah mencintaiku? Aku tidak mau menyerahkan diriku kepada orang yang tak mencintaiku Mas.” Aku berusaha berbicara terus terang pada suamiku itu.


“ hmmm, menurutmu?” Dia kembali mengecup telingaku membuatku bergetar hebat.

__ADS_1


“Zahra, memang di awal pernikahan kita aku memang tidak merasakan sedang jatuh cinta kepadamu sayang. Namun lambat laun rasa itu mulai muncul. Dan aku merasa selalu ingin bersamamu sayang.” Aku soontan memeluk suamiku itu. Entah magnet apa yang menarikku kearahnya. Air mata bahagia mulai keluar dari kedua mataku. Dia sedikit menekanku menjauh.


“ sekarang jawab pertanyaanku sayang, apakah kamu sudah siap menjadi istriku seutuhnya??”


“ aku siap mas” ucapku sambil menunduk.


Cuuuupppp. Kecupan singkat di bibirku kembali membuat wajahku memerah.


“ terima kasih sayang” ucapnya sembari tangannya membelaiku.


(Skiiip. Bayangkan saja sesuai halusinasi pembaca yahh🤗)


Tak terasa 3 jam pertempuran mendaki gunung dan melewati lembah itu. Nafasku tersengal begitu juga dengan angkasa yang kini jadi suamiku seutuhnya. Peluh bercucuran, udara pendingin ruangan di kamarku sudah tak terasa.


“ makasih sayang untuk malam ini. I love you” ucapnya sembari mengecup pucuk kepalaku.

__ADS_1


“ I love you too mas” ucapku tersenyum malu-malu.


Aku memutuskan untuk bangkit ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Saat hendak beranjak kulihat noda darah di seprei kasurku.


“ Mas, apa aku sedang datang bulan?” Tanyaku dengan segala kebodohanku.


“ hmmm, bukan sayang. Itu tandanya aku sudah membobol milikmu yang berharga itu” ucap angkasa sambil tersenyum.


Saat aku ingin melangkah. Rasa perih di bawah pahaku semakin terasa. Jadilah aku berjalan layaknya bebek.


“ mas kenapa rasanya sakit sekali?”


“ itu biasa sayang. Bila sering sudah tidak sakit lagi koq” mendengar itu. Aku bergegas masuk kamar mandi. Aku bergegas membersihkan badanku di bawah shower. Kreeekkkkk suara pintu kamar mandi terbuka.


“ maaaas. Ngapain masuk kamar mandi, aku sedang mandi ini. Keluar mas” aku mengisyaratkan ke suamiku untuk keluar dari kamar mandi sambil berusaha menutupi tubuhku dengan kedua tanganku. Apa lagi ini? Apakah dia belum puas menyihirku jadi wanita bebek???

__ADS_1


__ADS_2