MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
PAHIT


__ADS_3

Sejak panggilan telepon itu terputus, pikiranku terus melayang. entah apa yang terjadi dengan sahabatku.. Rasanya ingin raga ini terbang untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. "Sari aku masih membutuhkanmu, kamu harus kuat.. Aku belum sanggup kehilanganmu, masih banyak cerita yang belum usai yang hendak ku ceritakan padamu" batinku dalam hati.


Bergegas ku ambil charger HP ku di atas nakas. pikiranku semakin kalut, namun aku tetap berusaha tenang. Setelah hapeku kembali ku hidupkan dengan segera ku hubungi nomor hape Furqon.


tuuuut.. tuuuut. . tuuuuut


Hasilnya nihil. Panggilan ku tidak di respon sama sekali. Aku semakin khawatir, apa yang harus kulakukan dengan keadaanku sekarang?


" Akkkkkkhhhh" Aku berteriak frustasi.


Kudengar langkah kaki berirama mendekat ke arahku.


" Astaga, kamu kenapa nak? " Ibu mendekatiku.


" bu, apa yang harus aku lakukan sekarang bu? bagaimana keadaan sari? apakah aku harus ke sana bu ? " aku menyerbu ibuku dengan berbagai pertanyaan. Wanita paruh baya itu hanya menatapku dengan iba. Dia tidak langsung memberiku jawaban apapun, hanya tangannya yang sibuk mengelus pundakku disertai tatapan yang berusaha menguatkanku.


" buuu... " kataku kemudian, berusaha mencari jawaban dari apa yang ku lontarkan tadi.

__ADS_1


" Zahra, ibu tahu kamu sangat ingin menemui sahabatmu, tapi kamu juga harus memikirkan kedua bayimu nak" ucapnya kemudian.


" ibu bukannya melarang nak, namun kondisimu sekarang yang perlu kamu perhatikan. Sekarang kamu doakan yang terbaik untuk mereka yah" ucapnya lagi


Kembali ku raih benda pipih milikku. ku hubungi Furqon untuk kedua kalinya. Namun, hasilnya sama, nihil. Panggilan ku seakan tak dihiraukan nya. Ku pandangi dua malaikat kecilku, betul apa yang dikatakan ibuku, apa aku tega meninggalkan mereka dengan keadaan seperti ini. Tak lama berselang ibu mertuaku datang menghampiri.


" Zahra, bagaimana keadaanmu nak? " seperti biasa dengan gaya khas ibu mertuaku menyapaku , mengecup pipiku layaknya anak kandungnya..


" aku baik Ma.. " jawabku singkat


" boleh kita bicara sebentar ibu Hana? " ucap mertuaku. Sepertinya ada hal yang penting yang memang harus mereka bicarakan. Ibu melangkah meninggalkan kamarku.


" ibu Hana, kita harus berusaha menguatkan putri kita, barusan saya mendengar kabar bahwa sahabatnya meninggal dunia berselang beberapa saat setelah akad nikah" ucap Ibu Ani


" maksud Bu Ani? sari meninggal? "


" iya bu hana.. "

__ADS_1


" innalillahi wainnailaihi rojiun, semoga diberikan tempat terbaik"


" Zahra, mungkin akan mengalami goncangan yang hebat atas kejadian ini, untuk itu saya meminta kerja sama ibu untuk merahasiakannya sementara waktu demi kebaikan Zahra"


" saya rasa juga begitu bu" timpal ibu Hana.


Ada rasa tidak tega dengan keadaan putri semata wayangnya itu. Seakan takdir benar - benar tidak memihak pada putrinya.


" Jadi apa yang harus kita katakan kalau Zahra menyinggung masalah sahabatnya itu? " tanya ibu Hana kemudian.


Hening.. keadaan menuntut mereka untuk menutupi kejadian itu. Suatu saat ketika kondisi Zahra mulai stabil mereka akan membicarakan hal ini pelan- pelan.


Di kamar, aku memandangi wajah mungil putri dan putra kecilku, entah mengapa rindu itu kembali muncul. Di saat seperti ini aku sangat membutuhkan hadirnya, Angkasa. Laki - laki yang menemani ku walau dengan waktu yang sangat singkat, padahal harap ku kami akan bersama membesarkan anak - anak kami. Namun, Tuhan berkehendak lain. Pandanganku tiba- tiba mengabur, segera ku letakkan bayiku. r


Rasanya ingin ku raih gelas air putih yang ada di meja, namun aku mulai kehilangan keseimbangan..


buuuuuukkkkh, pranggg....

__ADS_1


semua gelap..


__ADS_2