
Aku terhenyak sesaat.
" Furqon?" aku berucap pelan.
Aku tidak tahu harus melakukan apa pada saat itu. Aku merasa sedikit tidak enak karena kehadiran Furqon di saat kedua mertuaku ada bersamaku.
" Assalamualaikum" ucapnya lantang dan berjalan ke arah kami.
" Ah, ada tamu rupanya." ucap Pak Wijaya dengan ramah.
" Perkenalkan, saya Furqon teman sekolahnya Zahra waktu SMA dulu, saya juga tetangganya Zahra di kampung" Furqon memperkenalkan diri dengan gayanya yang khas. Dingin, namun tetap bersahabat. Terlihat dia semakin tampan dengan dagu yang di tumbuhi sedikit jenggot dan bulu kumis tipis yang menghiasi senyumnya. Namun, ada yang berbeda kali ini. Furqon memakai kaca mata yang menambah wibawanya.
" Astaga, kenapa aku seperti ini? Maafkan aku Mas Angkasa" buru-buru aku memalingkan wajahku. Aku seakan menghianati cinta kami, menghianati suamiku dengan keberadaan Furqon saat ini.
" Oh , teman sekolah ternyata. Mari silahkan duduk Nak" Ibuku mempersilahkan dengan ramah.
" Ah iya tante, terima kasih"
" Maaf yah, furqon. aku harus istirahat dulu, nggak apa-apa aku tinggal?" ingin rasanya aku lari dari hadapan laki-laki ini. Kenapa dia harus muncul lagi?
" nggak apa-apa aku ke sini hanya singgah sejenak, sekaligus mau ngasih ini!" ucapnya sambil menyerahkan sesuatu kepadaku.
" apa ini? Astaga? ini serius? kami sudah akan menikah dengan Sari???" aku menatapnya tak percaya.
__ADS_1
" iya, kamu datang yah" ucapnya datar. Ada ekspresi yang tidak biasa yang bisa aku tangkap dari wajahnya. Ekspresi yang menyiratkan bahwa pernikahan ini bukanlah impiannya.
" iya, aku pasti datang" ucapku kemudian.
" kalian sepertinya balas dendam sama aku yah?"
" maksud kamu?" tanyanya tanpa mengangkat wajahnya. Seakan tak berani memandangku.
" Ternyata selama ini, kalian sudah saling menyukai? terlebih lagi tak memberitahuku sebelumnya kalau kalian hendak menikah. Apalagi Sari, tega dirinya tidak bercerita padaku" Aku melanjutkan ucapanku. Aku senang mereka akhirnya bisa bersatu. Namun, ada sedikit sesak yang masih terus berusaha kututupi. Walau bagaimanapun dia pernah mengisi salah satu sudut hatiku. Meski hanya aku yang mengetahui dan merasakannya. Entahlah..
" Eh, kedua anakmu lucu-lucu yah. Boleh aku gendong?" Furqon sepertinya mulai mengalihkan arah pembicaraan kami.. Aku mengangguk dan kulihat Dia menggendong putriku.
" Yaah, sepertinya gadis kecilmu ini pipis.hehe"
" Nggak apa-apa, mungkin ini caranya menyambutku!" Dia masih berusaha ramah kepadaku.
"Bajumu bagaimana?"
" Ah bukan masalah, kamu nggak usah khawatir"
" kamu mau minum apa? teh susu?!" tanyaku
" hmm, ternyata kamu masih ingat dengan minuman kesukaanku." Katanya sambil tersenyum.
__ADS_1
" Ah iya" aku kikuk di depannya.
" Tapi kamu nggak usah repot-repot. Ini aku sudah mau pulang. Kamu jaga kesehatan yah, salam sama ibumu dan semuanya"
" Bener ini? sudah mau pulang?"
" Iya, aku ada urusan mendesak"
" oh urusan dengan sang calon mempelai wanita yah" ucapku menggodanya.
" Ah itu aku harus mengantar Sari ke rumah sakit" ucap Furqon.
" Rumah sakit? maksudmu? siapa yang sakit, Sari???" tanyaku
" Ah maksud aku, aku akan mengantarnya berbelanja, aku salah ucap" jawabnya .
Aku menangkap seperti ada yang tidak beres, seperti ada yang sedang berusaha ia tutupi dariku.
" Kamu jujur Furqon, sari beneran sakit?" desakku
" Nggak koq, beneran aku salah ucap. Kamu jangan khawatir"
" Aku akan tanyakan langsung nanti ke Sari. Entah kenapa, sulit mempercayaimu kali ini!" aku sedikit emosi. Perasaanku mengatakan kalau sahabatku itu sedang tidak baik-baik saja!
__ADS_1