MUSAFIR CINTA

MUSAFIR CINTA
Cerita Masa lalu


__ADS_3

" kamu jahat zahra! kamu menikah tak memberi tahu aku" teriak Sari sahabatku.


"maaf Ri... aku saat itu juga kalang kabut. yah karena aku nikahnya dadakan."


" maksud kamu?"


" panjang ceritanya Ri, by the way kamu bisa tau alamat rumahku ini dari siapa?" tanyaku kemudian.


" dari tetanggamu yang dikampung Ra, oh iya. Ternyata suamimu itu tajir melintir yah. Rumahnya aja se gede ini"


Aku hanya tersenyum menanggapi ocehan sahabatku itu. Kulihat Furqon hanya tertunduk tanpa sepatah katapun.


" hmmmm Furqon. kamu apa kabar?"


" ehh, aku baik zahra. kamu?"


" Ya seperti yang kamu lihat. aku baik!?"


Aku menikmati moment kebersamaan kami itu, cerita masa lalu kami larut dalam luapan rindu yang semakin bergejolak.


" Kalau di ingat-ingat kita itu dulu lugu banget yah" kata sari kemudian.


"maksud kamu apaan sih Ri? kamu aja yang lugu . ya kan Furqon?"


" Tau tuh sari, baru sadar kali dia"


" iya aku tahu dulu itu aku lugu, saking lugunya aku sampai mengejar-ngejar seseorang yang tak melirikku sedikitpun!"


" hahahaha, mulai deh!"


" Jadi ceritanya cinta bertepuk sebelah tangan!?" Furqon menimpali.


" begitulah, tapi aku yakin suatu saat dia akan luluh dengan perjuanganku!"


" hmmmm, Furqon kamu sendiri bagaimana? apa ruang di hatimu itu sudah terisi? atau mungkin kamu malah betah menikmati kesendirian?" tanyaku mencoba memancing. Aku penasaran dengannya.


" Aku tetap Furqon yang dulu, masih dengan cinta yang sama" singkat namun mengena, itulah ucapan furqon. aku mulai tidak enak hati dengan sahabatku itu. Karena ternyata selama ini, dia belum berhasil menaklukkan hati Furqon. Apakah segitu dinginnya hati furqon hingga tidak bisa membuka hati untuk Sari??


" eeeeh, sepertinya lagi asik nih. Sampai suami sendiri dilupakan" Angkasa berjalan ke arahku.

__ADS_1


" nggak koq Mas. Bagaimana mungkin aku bisa lupa sama suami sendiri!"


" cie cie ... Yang sudah punya suami. Kami para jomblo hanya bisa gigit jari sepertinya" Sari mulai meledekku


" Makanya, cepat nyusul.." aku menimpali.


" Bagaimana mau nyusul. Cintaku saja masih ditolaknya..." dia melirik ke arah Furqon.


" kamu Ri, sudah mulai barbar yah" ucapku.


" iyya,, lebih baik gitu, daripada dia tidak merasa sama sekali"


kulihat Furqon hanya sibuk dengan gawainya. Ada rasa tidak enak dengannya. Tak berapa lama kemudian mereka pamit.


" Lo.. kenapa buru-buru nak!?" ucap ibu tiba-tiba datang menghampiri kami.


" maaf Ra, ini siapa?" ucap Sari setengah berbisik di telingaku. Wajar ketika Sari bertanya seperti itu, karena selama ini memang dia tidak mengenal ibu kandungku.


"hmmmmm, oh iya. kenalkan ini Ibu Arini, ibu kandungku" ucapku kemudian. Terlihat mata ibuku mulai berkaca-kaca. Mungkin iya terharu karena baru kali ini aku mengenalkannya sebagai ibu kandungku.


" oh. tante, ibu kandungnya Arini? koq aku nggak pernH liat? adddduhhh... sakit tau nggak?" sikap barbar Sari mulai kambuh, sontak Furqon menginjak kaki sari...


Malam pun tiba, aku membaringkan badanku di tempar tidur. Belakangan ini aku merasa cepat lelah. Suamiku Angkasa datang beberapa saat kemudian.


" Mau aku pijitin kakinya?" tanyanya kemudian.


" boleh Mas" ucapku. Namun belum sempat aku di sentuh olehnya. Rasa mual kembali menyerang, aku menjauh masuk ke kamar mandi.


" sayang. kamu kenapa?"


" badanmu Mas,,,"


" hah? ada apa dengan badanku?"


" Bau Mas, aku tidak tahan! oeekk.." Terlihat dia mulai mencium bajunya mencari sumber bau yang kumaksud.


" Wangi begini, di bilang bau... kamu kenapa sih sayang?" mencoba mendekat.


" jangan.. jangan kesini.." Kulihat wajah suamiku mulai berubah jengkel.

__ADS_1


" ada apa ini ribut-ribut?" Ibuku tiba-tiba datang.


" ini loh bu Zahra bilang aku bau! "


" itu biasa nak! bagi wanita hamil?"


" hah? maksud ibu itu bawaan bayi di perut Zahra? aneh-aneh saja!" dia kelihatan mulai kesal.


" Angkasa, boleh aku minta waktu dengan Zahra? ada hal yang harus aki bicarakan dengannya"


" baiklah bu"


Aku mulai bertanya-tanya ada hal apa yang ingin dibicarakan ibuku itu.


" Zahra, maafkan ibu nak! waktu itu aku meninggalkanmu" Ibuku duduk di tepi tempat tidur dan memulai pembicaraan denganku.


" iya bu... tapi kenapa? ibu tau tidak bagaimana perasaan aku selama puluhan tahun? hidup tanpa orang tua, betapa tersiksanya aku bu..." aku mulai terisak sejurus kemudian ibuku mulai memelukku.


" Maafkan ibu nak, yang selalu membuatmu menderita?!"


" Tapi kenapa bu? aku ini anak ibu kenapa ibu melahirkan aku kalau kemudian hanya untuk meninggalkanku"


" Nak, dengar dulu penjelasan ibu..."


" Penjelasan apa lagi bu, saya rasa tidak ada yang perlu di jelaskan" Kulihat air mata ibuku menetes. aku menyesal setelah melihat itu.


" Maaf bu.."


" hmmmmmm, saat itu ibu terpuruk nak! Aku hamil ketika umurku masih muda, dan..."


" Dan apa bu?"


" kamu tahu ayahmu saat itu membohongi ibu, ternyata dia adalah laki-laki beristri. Menjelang kelahiranmu istri pertama ayahmu datang dan melabrak ibu di depan orang banyak. Hujatan tetangga saat itu sangat menyakitkan bagi ibu. Bahkan setelah kamu lahir, ayahmu tidak pernah menemui ibu sampai akhirnya aku di usir oleh warga kampung. " Ibuku mulai terisak. Ternyata beban ibuku selama ini menanggung bebab hidup yang sangat berat. Aku tidak pernah menyangka, cerita masa lalunya begitu menyakitkan.


" Untuk itu Nak, ibu minta maaf"


" iya bu... huuuuhuuu " aku mulai menangis sejadi-jadinya.


" Lantas Ayah di mana bu? Siapa namanya?" aku bertanya di sela tangisanku.

__ADS_1


" Ayahmu Wahyu Permana, laki-laki yang sudah menghancurkan hidup ibu . Dan aku pun tidak tahu keberadaannya sekarang. Terakhir aku dengar kabar, dia ikut istrinya ke Kuala Lumpur"


__ADS_2