
Hari-hari kulalui sebagaimana mestinya. Tapi ada yang lain dengan diriku, aku selalu berusaha menghindar dari furqon meski berat yang saya rasakan.
“Semangat zahra, aku yakin kamu kuat menjalani ini semua . Demi sahabatmu dan demi masa depanmu, tetap fokus, fokus. Huuuuuf.” Gumamku sambil membuang nafas berat.
Aku terus melangkah menuju ruangan kelasku sambil sibuk menghafalkan beberapa rumus matematika.
Buuuuuuugh... tanpa sengaja aku menabrak seseorang, kuangkat kepalaku dan ternyata. Dia adalah Furqon. Lagi dan lagi aku bertemu dengannya.
“Kalo jalan itu pakai mata. Jangan pakai dengkul”
“ dimana mana klo jalan itu pakai kaki! Kamu aja yang modus “ ucapku dengan nada tinggi sambil meraih bukuku yang terjatuh
“ laaah , maling teriak maling” ucapnya sembari berlalu
__ADS_1
Kuikuti dia dan kuangkat kepalan tanganku di belakang kepalanya. Tanpa kusadari dia berbalik dan kepalan tanganku tepat menyentuh hidung mancungnya.
“ laaa. Itu kamu yang modus” ucapnya
Aku yang salah tingkah segera meninggalkannya. Tak jauh dari tempatku kulihat Sari berjalan memasuki ruangan. Segera kuberlari kearahnya dan memeluknya dari arah belakang.
“ rii, tunggu aku dong. “ kataku bergelayut manja di tangan Sari. Sari pun meraih tanganku dan masuk kebruangan kelas bersama.
Aku juga semakin hari semakin menjaga jarak dengan Furqon, aku berusaha mencari cara untuk mendekatkan furqon dengan sari namun semua sia-sia. Furqon pendiriannya seperti batu, susah untuk di goyah. Jangankan untuk mengajak sari ngobrol berdua. Melirik pun tidak pernah.
Hatiku semakin dongkol ketika mendapati Furqon yang tanpa segan membentak Sari di depan umum, hanya karena aku berpura- pura meminta sari untuk memberikan pulpen ke Furqon dengan alasan pulpen yang di pakai furqon kehabisan tinta saat ujian. Ya, meski tidak masuk akal sih... tapi apa salahnya di coba. Itu menurutku, namun apa yang saya fikirkan sangat berbanding terbalik dengan kenyataan. Bukannya mendapatkan empati justru cacian dan sikap dingin yang keluar dari seorang Furqon.
“ kamu itu nggak usah menghalalkan segala cara untuk mendekatiku, apakah rasa malumu sebagai wanita sudah tidak ada?!” Kata kata itu sontak membuat sari meneteskan air mata. Tanpa rasa bersalah, Furqon meninggalkannya.
__ADS_1
“Dasar manusia es, kasar sudah gitu sombong, apa sih kurangnya sari? “ gerutuku dalam hati. Kudekati sari yang masih meneteskan air mata. Aku semakin merasa bersalah padanya, dilain pihak aku juga merasa sakit hati. Bagaimana tidak aku harus menjadi mak comblak orang yang diam-diam mengisi hatiku dengan sahabatku sendiri. Bulir kristal bening kembali menghangatkan wajahku.
Waktu terasa berjalan begitu cepat hingga tibalah saat dimana kami mengetahui hasil dari ujian kami. Yah, hari kelulusan. Hari yang menjadi akhir kisah kami di fase putih abu abu.
“ anak- anak pengumuman hasil ujian kalian sudah di tempelkan di papan pengumuman, pak guru harap kalian tetap tenang. Dan semoga kalian sukses di Masa Depan” suara pak guru menggelegar melalui pengeras suara
Serentak, semua siswa berlari menuju papan pengumuman. Hatiku tak karuan sambil mencari namaku. ZAHRA SALSABILAH, kulihat sebuah nama di urutan ke 2 dari atas. akhirnya aku lulus, sujud syukur segera kulakukan begitu juga dengan Sari sahabatku. Ada rasa senang, haru bercampur jadi satu. Dari kejauhan kulihat ibu NAHLA sedang memberikan pelukan hangat kepada FURQON. Siapa sebenarnya ibu Nahla? Kenapa mereka kelihatan begitu dekat? Sebuah tanya melintas di kepalaku..
Segera kuberlari menuju lapak tempat nenek jualan. Kuberi pelukan hangat, rasa gembira yang membuncah dalam dada meyebabkan air mataku tak mampu terbendung lagi.
“ nek , aku lulus. Terima kasih untuk semua pengorbanan nenek. Aku janji, selepas ijazahku keluar. Aku akan cari kerja, supaya nenek bisa istirahat di rumah” ucapku sembari memeluk nenek.
Sebenarnya, besar keinginanku untuk melanjutkan kuliah. Tapi aku tidak mau membebani wanita tua yang sudah membesarkanku itu. Meskipun begitu aku akan mencoba mencari beasiswa untuk tetap mengenyam pendidikan. Sambil mencari pekerjaan paruh waktu. Pikirku...
__ADS_1